berbagi informasi tentang Public Service. sementara fokus pada Pelayanan publik di Kota Semarang

Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Waktu menjadi mahasiswa saya pernah ikut program pendidikan pers kampus dengan pengajar tokoh-tokoh pers perjuangan. Salah satu favorit saya...


Waktu menjadi mahasiswa saya pernah ikut program pendidikan pers kampus dengan pengajar tokoh-tokoh pers perjuangan. Salah satu favorit saya adalah topik wawancara yang saat itu diberikan wartawan senior TVRI, Toeti Adhitama. Ketika wartawan-wartawan lain tengah asyik dengan investigative news report yang agak provokatif, Toeti justru memberikan prespektif yang berbeda. Baginya, wawancara “is a love story”.

Ya, love story. Wawancara dilakukan dengan cara empati dan tidak bertendensi mengadili, apalagi sudah berprasangka. Tetapi pertanyaannya, masih adakah ruang “untuk tidak mengadili” di negeri ini? Dimana-mana saya melihat televisi lebih senang mengikuti cara berpikirnya sendiri. Konflik, adu kuat, bahkan adu pintar. Pewawancara adalah model pencitraan yang dibentuk oleh produser sebagai orang yang berpengetahuan, pandai, namun sama sekali tidak netral.

Kita pun larut dalam kekuatan “personal branding” program dan host, sedangkan narasumber berebut kekuatan. Ada kesan kalau ingin sering diundang televisi maka narasumber harus kuat dengan retorika, berani mengadili rekan bicaranya, berani tunjuk, ngomong yang seolah-olah faktual, cerdas dengan kemampuan argumentasi tak terkalahkan. Pengamat menjadi tak mau kalah kuat dari ahli hukum dan politisi yang sangat berani “berkelahi” dan genit di depan kamera.

Tak ada lagi “love story” disana. Yang ada adalah saling mem-bully. Kata musisi Iwan Fals, “Kalau cinta sudah dibuang, jangan harap ada keadilan”. Seperti itulah yang terjadi. Kita pun senang melihat tokoh-tokoh publik diadili, di bully karena setahu kita pengadilan tidak bekerja, politik tak punya perhatian pada kita, kejujuran telah sirna. Dan “love story” itu pun lenyap.

Media lebih senang menyajikan konflik dan ketegangan, pertempuran antar orang yang bertengkar. Makin kuat tengkarnya, makin tinggi share dan ratingnya televisi. Yang saya khawatirkan sebenarnya lebih dari ruang televisi, yaitu apa akibatnya terhadap kehidupan kita sehari-hari? Yang saya rasakan bukannya assertiveness yang muncul, melainkan aggressiveness.

Resistance To Change

Apa bedanya?

Jelas keduanya berbeda. Masyarakat demokrasi harus dibayar dengan assertiveness, yaitu manusia-manusia yang mampu mengungkapkan isi pikirannya dengan jelas, respek pada dirinya sendiri, namun tetap respek terhadap orang lain. Respek itu dinyatakan dengan mendengarkan, berempati, dan waktu yang cukup untuk menjelaskan. Sedangkan aggressiveness sama sekali tidak mengedepankan respek terhadap orang lain. Manusiaagressive hanya tertarik dengan self-interest nya. Ia ingin terlihat pandai, cantik, hebat, kaya, paling tahu dan seterusnya namun tak peduli orang lain yang dipermalukan atau tidak, tidak punya waktu yang cukup untuk mengungkapkan isi pikirannya dengan jelas.

Lantas bisakah ini dibangun dari pertelevisian komersial? Tentu saja sulit. Televisi komersial memiliki cara kerja sendiri, yang mengacu pada kepentingannya untuk hidup, yaitu program rating, share dan seterusnya. Dan celakanya, semakin sensasional, semakin kental konfliknya, maka ratingnya semakin tinggi. Semakin hari semakin banyak orang yang terkubur dalam retorika konflik karena terbukti menjadi semakin terkenal.

Dalam dunia hiburan hal senada juga tengah terjadi. Artis saling memukul, menampar betulan di depan kamera, saling melapor polisi, mengumbar masalah keluarga dan anak, test DNA, sampai calon-calon artis yag membuka aibnya di depan publik.

Di jalan raya, saya sering menyaksikan umpatan-umpatan serius yang semakin mudah diucapkan orang untuk mengutuk orang lain. Di dunia akademis saya semakin sering melihat orang yang mudah berucap hanya dengan fakta sepenggal yang belum tentu ada kebenarannya. Validitas dan reliabilitas yang menjadi acuan dunia ilmiah tak lagi dipegang. Ini adalah modal besar bagi terbentuknya resistensi-resistensi terhadap perubahan. Semakin agresif, semakin resisten dan menolak pembaharuan tanpa alas an jelas.

Rhoma Irama

Nah minggu lalu saya mengambil inisiatif untuk menggali narasumber yang penuh kontroversial. Sejak mewacanakan dirinya menjadi capres, nama Rhoma Irama kembali jadi perbincangan publik.

Untuk keperluan program tivi yang saya asuh di TVRI tentu saja saya tidak akan keluar dari title program, yaitu perubahan. Sedangkan pada sosok Rhoma saya menyaksikan sosok yang merevolusi musik irama melayu yang dulu hanya menggunakan akustik biasa (gendang, akordion, suling) menjadi musik dengan power listrik yang begitu kuat bahkan dikawinkan dengan rock yang diterima secara luas.

Rhoma tentu sudah tak muda dulu, usianya sudah 66 tahun. Era dangdut yang dulu ditimpuki batu sudah ia lewati. Dari music yang dituding “tahi anjing” oleh kalangan pecinta rock di tahun 1970-an, menjadi “sesuatu”. Dan Wamendikbud, Wiendu Nuryanti saya mendengar dangdut ia daftarkan sebagai warisan kekayaan budaya asli Indonesia tak benda ke UNESCO.

Namun bicara tentang Rhoma tentu saja mustahil tak membicarakan tentang wacana pencalonan dirinya sebagai Presiden. Ini tentu mustahil. Tetapi saya beruntung program saya disiarkan oleh Lembaga Penyiaran Publik TVRI yang tak punya kepentingan-kepentingan komersial. Saat itulah “love story” bisa digunakan. Untuk apa?

Untuk menjual Rhoma agar menjadi Presiden? Tentu bukan. Untuk meningkatkan nilai jual ke ”raja” annya? Juga tidak! Lantas? Tentu saja untuk mengedepankan perdamaian. “Love story” interview bisa digunakan untuk mereduksi salah tafsir, ekstreemitas dan tentu saja konflik-konflik kepentingan. Saya sungguh merasakan nikmatnya hidup tanpa prasangka. Dari mulut sang raja mengalirlah ungkapan hatinya. Yang boleh Anda curigai, namun dari jarak dekat saya merasakan kejujuran. “Kalau seorang rasis, dia bukan Islam,” begitu ujarnya.

Indonesia perlu menata pribadi-pribadi manusia-manusianya, menata hati, menata karakter. Dan televisi punya peran yang sangat besar membentuk karakter-karakter bangsa. Kita perlu mengubah manusia-manusia aggressive menjadi assertive yang cerdas dan berhati mulia. Dan itu hanya bisa dilakukan kalau televisi publik kita terus diperbaiki seperti saat ini.

Rhenald Kasali (@Rhenald_Kasali)

Founder Rumah Perubahan (@rumah_perubahan)

Sumber : penulisperubahan.com

Tak dapat dipungkiri bahwa televisi telah menjadi aktor penting yang mengubah peradaban manusia Indonesia 20 tahun terakhir ini. Harus diaku...


Tak dapat dipungkiri bahwa televisi telah menjadi aktor penting yang mengubah peradaban manusia Indonesia 20 tahun terakhir ini. Harus diakui bahwa bangsa ini belajar demokrasi versi tv, ketimbang versi akademis. Melalui televisi pula, manusia Indonesia melompat ke peradaban modern, mulai dari kartu kredit, ATM, sepeda motor sampai pulsa telefon. Dan, harus diakui sejarah pembentukan brand tidak pernah luput dari televisi. Seseorang yang belum tampil dan menjadi perhatian publik di televisi, belum menjadi “brand“. Demikian pula dengan hasil-hasil karya kewirausahaan, belum menjadi “brand“-kendati sudah mempunyai logo. Namun tampil ditivi, tanpa aura positif dan content yang kuat, hanya akan menjadi gunjingan.


Dalam buku Camera Branding, saya menyinggung pula kehadiran brand kuat yang tak bisa lepas dari person tertentu. Siapa misalnya yang bisa memisahkan Microsoft dari Bill Gates, atau Apple dari Steve Jobs. Atau siapa yang bisa memisahkan Maspion dari Alim Markus, Mustika Ratu dari Moryati Soedibyo, Garuda Indonesia dari Emirsyah Satar, dan seterusnya. Peradapan social tv tidak hanya menyuarakan product atau corporate branding, melainkan juga personal branding.

Indonesia memiliki banyak ekonom, tetapi mengapa yang branded hanya dua-tiga nama. Demikian pula fisikawan, sejarawan, sosiolog, psikolog, lawyer, bahkan ustaz, ulama, ahli tafsir dan seterusnya. Jutaan anak muda di seluruh dunia saat ini bukan lagi sekedar bekerja atau berwirausaha, melainkan membangun brand. Mereka tak mau lagi diperbudak oleh perangkap “komoditi” seperti yang dihadapi Negara-negara berkembang yang produk buatannya hanya dihargai $1-$10, sementara barang yang sama yang dibangun brand-nya bisa dihargai 4 hingga 50 kali lipat. Dalam Camera Branding, ada dua kekuatan yang harus dibangun yaitu cameragenic dan auragenic.

Cameragenic

Karena gambar ditangkap dengan mata oleh pemirsa televisi di rumah, maka setiap objek yang tampil di televisi harus atraktif. Atractiveness akan menentukan apakah pemirsa ingin terus melihat atau cepat merasa bosan. Pemilihan warna, penampilan yang tidak membosankan, setting panggung yang menarik dan cara berpakaian yang tidak berlebihan, serasi harus menjadi perhatian. Bila cameragenic mengesankan atraktif secara fisik dengan tingkat familiritas yang memadai (berkali-kali ditampilkan dengan beberapa penyegaran), maka satu hal yang sering dilupakan generasi muda saat ini adalah auragenic.

Auragenic

Auragenic adalah ‘apa yang dirasakan” pemirsa. Auragenic tidak bisa didapat dari objek yang diam. Karena televisi mendeteksi gerakan, maka ia menciptakan interaksi. Dalam interaksi itu dibentuk rasa, apakah orang lain merasa nyaman atau tidak dengan kehadiran diri atau produk anda. Aura adalah sesuatu yang keluar dari interaksi itu.

Apa saja sumbernya?

Aura bersumber dari sifat yang dibawa oleh seseorang. Bila seseorang berpandangan dan berperilaku negative, maka ia dapat menimbulkan aura negative. Demikian pula sebaliknya. Jadi pertama-tama adalah aura yang berasal dari pikiran seseorang, yang dikendalikan atau tidak. Orang-orang yang memiliki auragenicbiasanya menekan sikap-sikap negatif yang ada pada dirinya: merasa diperlakukan tidak adil, menyimpan dendam, tidak terpilih, rasa dikalahkan, iri hati, arogansi, menuntut perhatian berlebihan, dan seterusnya.

Dari sikap seseorang pulalah sebuah naskah iklan dihasilkan. Orang-orang beraura negatif akan menghasilkan iklan-iklan yang provokatif, yang menganggap dirinya atau produknya lebih baik, namun menimbulkan antipati publik. Dan produk yang demikian hanya akan diterima oleh orang-orang dengan aura yang sama.

Auragenic juga terwujud dari reaksi seseorang terhadap ucapan-ucapan orang yang ada disekitarnya. Apakah dari host, nara sumber lainnya, atau telepon yang masuk. Ini akan tampak dalam bagaimana seseorang merespons pertanyaan, komentar melalui ucapan, intonasi, getaran tangan, atau bahasa tubuh lainnya. Seseorang yang secara atraktif belum tentu memiliki auragenic yang kuat, demikian pula sebaliknya.

Melatih aura harus dimulai dari pikiran yang jernih, objektif yang jelas dan bersih, self awareness yang kuat serta self confidence yang memadai.

Baik cameragenic maupun auragenic bisa dipelajari dengan memperhatikan bagaimana para aktor menguasai seni peran. Belajarlah dari tokoh-tokoh yang disukai dan jauhkanlah televisi atau layar tweeter anda dari pesan-pesan orang yang memiliki luka batin, sebab aura negatif mereka akan ikut membentuk anda.

Rhenald Kasali

Posted on 11 Februari 2013 by penulisperubahan

Kenaikan terus-menerus harga minyak pala dalam beberapa bulan terakhir ini (dari sekitar Rp700.000-an, Februari 2012) menjadi sekitar Rp850....

Kenaikan terus-menerus harga minyak pala dalam beberapa bulan terakhir ini (dari sekitar Rp700.000-an, Februari 2012) menjadi sekitar Rp850.000 per kilogram (Juli 2012) mengingatkan saya pada kisah pertukaran Pulau Run (Kepulauan Banda, Maluku Tengah) yang dikuasai Belanda dengan Pulau Manhattan (New York) yang dikuasai Inggris.

Kisah pertukaran itu diceritakan Giles Milton dalam bukunya Nathaniel’s Nutmeg. Intrik dagang, diplomasi bisnis, kekuatan maritim,dan tentu saja darah dan perang mewarnai keributan antarkedua negeri penjajah itu. Maklum, harga biji dan bunga pala saat itu lebih mahal daripada harga emas. Dunia pun mengenal Run satu-satunya pulau yang menghasilkan pala saat itu.

Wajar saja Kapten Nathaniel Courthope diutus Raja Inggris untuk menguasai Pulau Run yang sudah lebih dulu dikuasai Belanda. Belanda sendiri merampas Pulau Run dari Portugis. Belanda menaruh ribuan serdadu di pulau yang panjangnya hanya 3 km itu, sementara Nathaniel hanya membawa puluhan pelaut. Setelah empat tahun bertempur, ia pun tewas dibunuh (1620).

Namun sejak itu Inggris menempuh jalur diplomasi. Sampai diputuskan untuk menukarnya dengan Pulau Manhattan yang sekarang dikenal sebagai mesin uang Amerika Serikat. Bahkan setelah perang Inggris-Belanda pertama berakhir (1652–1654),melalui Perjanjian Westminster disepakati Pulau Run harus diserahkan penuh kepada Inggris.

Tapi upaya itu terus gagal karena Belanda melihat potensi bisnis pala begitu besar.Setelah dibumihanguskan dan terjadi genocide terhadap penduduk Pulau Run,akhirnya Belanda memilih mengembalikan Manhattan dan tetap menguasai Pulau Run. Pengembalian itu ditandai dengan Perjanjian Breda setelah perang Inggris- Belanda kedua (1665–1667) berakhir.

Cerita yang diangkat oleh Giles Milton itu sampai sekarang sering diceritakan oleh eksekutif dari Inggris. Pesan penting yang ingin disampaikan sebenarnya sederhana saja, yaitu betapa pulau kecil yang tidak kita urus dengan serius di sini itu sebenarnya sangat mahal.Ia pernah dihargai senilai kota kaya di dunia: New York. Adalah Duke of York (James II) yang mengganti nama New Amsterdam yang telah dikuasai Belanda menjadi New York yang dihargai semahal Pulau Run setelah pulau itu jatuh kembali ke tangan Belanda.

Dulu Pala, Sekarang Minyak

Seperti pala, minyak bumi pun sekarang mengalami nasib serupa. Dalam perdagangan pala,meski Indonesia menguasai 70% produksi pala dunia, menurut para pelaku pasar, yang lebih dominan menetapkan harga minyak pala dunia adalah Grenada (market share ±20%). Kesejahteraan berpindah justru di saat harga sedang bagus, pohon-pohon pala banyak tidak kita urus. Demikian pulalah minyak bumi.

Tak banyak orang yang menyadari, Indonesia sudah tidak menjadi anggota negaranegara pengekspor minyak (OPEC) lagi. Juga tak banyak yang menyadari, terdapat perbedaan mendasar antara minyak mentah (crude oil)dengan BBM.Tanpa insentif keekonomian yang memadai (IRR yang positif) untuk membangun kilang- kilang dan tanpa keseriusan membangun infrastruktur secara progresif, terlalu mahal bagi Indonesia untuk mengubah minyak mentahnya sendiri menjadi BBM yang siap dipakai rakyat.

Untuk mengubah produk diperlukan investasi besar dan untuk mengerahkan produk dari kilang ke pasar diperlukan infrastruktur memadai.Tanpa itu,kita hanya saling curiga dan mempertanyakan keabsahan angka keekonomian. Kembali pada kejayaan minyak pala, Indonesia perlu menjaga seluruh kekayaan yang dimilikinya dengan terus melakukan riset-riset terapan dan mendorong investasi-investasi baru dalam industri pengolahan.

Untuk sekadar diketahui, selain Coca Cola,pembeli terbesar minyak pala, fuli, dan segala macam produk turunannya adalah industriindustri yang bernilai tambah tinggi yang pasarnya tak pernah surut. Parfum, kosmetik, farmasi, dan makanan olahan adalah industri pemakai utama produk-produk dari pala. Namun kalau berkunjung ke berbagai sentra penghasil biji pala di TanahAir, kita masih bisa menyaksikan cara pemetikan dan penyimpanan yang seadanya.

Belum lagi mesinmesin penyulingan yang sudah ketinggalan zaman membuang terlalu banyak energi dan menghasilkan rendemen yang masih bisa ditingkatkan.Demikian pula kontainer-kontainer yang dipakai dan diproses pengirimannya belum banyak diberi perhatian. Kalau Anda berkunjung ke Grenada,sebuah pulau kecil di Karibia, Anda akan tertegun. Meski produksinya kecil, pala di sini ditanam dalam perkebunan- perkebunan (estate) yang tertata dengan baik dan dipaketkan pemerintah setempat menjadi kunjungan wisata yang indah.

Padahal bibit pala di Grenada (juga di Malaysia, India,Ceylon, dan Sri Langka) semua berasal dari Pulau Run yang dibawa oleh tentara Inggris. Di Indonesia dewasa ini pala ditanam di beberapa daerah seperti sekitar Bogor–Sukabumi, Aceh, Sulawesi Utara, dan beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Rumah Perubahan bersama dengan penduduk asli Pulau Buru menanam kembali pohon- pohon pala yang mulai banyak dilupakan itu.

Mercy Corps, sebuah social enterprise dari Amerika Serikat, bahkan membuat pusat riset di Pulau Seram untuk menghasilkan benih-benih unggul pohon pala.Yang belum banyak saya saksikan adalah pusat-pusat riset untuk menghasilkan minyak pala berkualitas atau produk- produk turunannya yang kelak dipakai untuk pembuatan obat batuk,pasta gigi,berbagai jenis obat-obatan dan essential oil. Dalam hal ini,negeri tetangga Singapura terlihat lebih menaruh perhatian.

Saya tertegun melihat universitas- universitas di Singapura mengembangkan risetriset berbasiskan impak yang didukung oleh otonomi kampus yang besar. Sementara di sini, para pendidik tengah dihantui tangan-tangan kekuasaan yang terus bermain dengan kekuatan politik untuk menguasai kampus. Sepertinya bukannya rektor yang kini dimiliki beberapa kampus, melainkan diktator yang haus kedudukan dan kuasa. Kalau sudah begitu,mana bisa universitas kita menunjukkan hasil risetnya dengan baik? 

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI

Sumber : seputar-indonesia.com

  Negeri yang serbaterlibat itulah Indonesia. Tak peduli siapa pun yang berpesta, kita adalah seksi repotnya. Tak peduli apakah itu Piala ...

 
Negeri yang serbaterlibat itulah Indonesia. Tak peduli siapa pun yang berpesta, kita adalah seksi repotnya. Tak peduli apakah itu Piala Dunia, Piala Eropa, tak peduli apakah di dalamnya ada atau tidak Timnas Indonesia, tapi selalu ada satu yang bisa dipastikan ada: yakni nonton bareng.
Sepertinya, nonton bareng itulah prestasi yang pasti kita raih di ajang pentas-pentas besar dunia. Kalau pun ada prestasi tambahan, paling-paling itu berupa kemungkinan menggelar acara nonton bareng dengan penonton terbanyak sambil berharap museum rekor mau mencatatnya.
Bangsa spesialis nonton bareng itu sungguh gelar yang harus diwaspadai. Artinya, kecanduan cuma menjadi penonton, tetapi tidak kecanduan berprestasi itu adalah bahaya yang nyata. Bagaimana mungkin di dalam kebiasaan menonton terdapat candu? Mari kita lihat psikologi sebagai penonton berikut ini.
Pertama, inilah posisi yang tak usah direbut pasti kita akan kita peroleh. Jadi ada satu jenis posisi yang demikian menggoda untuk siapa saja, dengan modal apa saja, bahkan hanya dengan modal nekat saja juga boleh, dan pasti terlaksana niatnya: yakni meraih posisi sebagai penonton. Lalu kedua, bayangkanlah, kalau seseorang sudah ada di bangku penonton. lihatlah seluruh ekspresinya. Bebas berteriak. Bebas mengumpat, bebas memaki, dan akhir-akhir ini, seperti bebas apa saja, dari melempari batu, sampai tawuran, dan bahkan tawur pun kepada rekan suporternya sendiri. Jika di dalam fraksi politik yang sama ada faksi, para suporter klub yang sama pun pecah dan perlu beroposisi.
Jadi cuma di dalam diri seorang penontonlah terdapat kegembiraan yang begitu penuh dengan modal yang begitu minimal. Penonton tidak perlu breprestasi. Tak peduli  yang menang adalah pihak lain, sepanjang pihak lain itu diidentifikasi sebagai dirinya sendiri, ia akan bisa kegirangan bak kesurupan. Begitu gembiranya, sampai ia tak harus berpikir tentang keadaan apakah keluarganya sedang punya beras, apakah SPP-nya sudah lunas, apakah rumahnya kontrakan atau kreditan. Kenyataan di depan sini, kalah oleh keindahan di kejauhan sana.
Jadi inilah seasyik-asyiknya hidup itu. Ia tak terikat oleh target-target, kecuali target yang berbasis halusinasinya sendiri. Inilah fenomena fly sosial dan teler kebudayaan, sebuah kebiasaan yang sanggup menggembirai sesuatu yang sebetulnya tidak nyata, tidak ada, tidak berkaitan dengan dirinya sendiri. Proses identifikasi semacam ini amat berbahaya, karena ia bisa menganggap sebuah klub adalah dirinya, seorang idola adalah hidup matinya, sebuah pertandingan adalah ritual yang harus dibela hidup dan mati.
Begitu totalnya teler kebudayaan ini diperagakaan sampai-sampai seseorang sama sekali tidak punya ruang untuk mengurus dirinya sendiri, mengurus prestasinya sendiri. Dan apa jadinya, jika diam-diam, bawah sadar kita sebagai bangsa, sudah mulai mengalami abrasi kebudayaan seperti ini. Sangat menggemberiai posisinya sebagai penonton, dan prestasi terbaik yang bisa diraih hanyalah nonton bareng.

Prie GS

Sumber : Suaramerdeka.com

Pusaran perubahan kembali menghantam Indonesia. Setelah pasaran automotif berjaya pada 2011, kini harga bahan bakar minyak (BBM) dunia berge...

Pusaran perubahan kembali menghantam Indonesia. Setelah pasaran automotif berjaya pada 2011, kini harga bahan bakar minyak (BBM) dunia bergerak naik.

Ketika negara-negara tetangga menjadikan kebijakan kenaikan harga BBM-nya secara lebih independen dan fleksibel dalam pengambilan keputusan, di Indonesia justru sebaliknya. Demikian pula ketika perekonomian Indonesia menapak naik,persaingan justru semakin meningkat, dari luar dan dari dalam. Ketika demokrasi berkembang tanpa arah, teknologi membuka semua dinding rahasia.

Menjadi sangat terbuka dan cepat berubah. Pusaran perubahan tengah dialami oleh hampir semua sektor usaha, besar maupun kecil. Perasaan gundah bukan hanya ada di pikiran CEO atau para pemilik perusahaan, melainkan juga para manajer dan pegawai di bawah. Dirasakan oleh para guru dan dosen, hakim dan jaksa, serta para pemimpin pusat maupun daerah.

Statistik ekonomi yang membaik justru bisa menimbulkan pusaran baru. Kepada setiap orang yang berada di dalam pusaran perubahan, setidaknya tiga hal ini perlu diketahui. Pertama, persoalan perubahan yang penting bukanlah soal “memasuki dunia baru”, melainkan bagaimana “membuang” kebiasaan-kebiasaan lama.

Kedua, perubahan menuntut hati yang bersih. Seberapa hebatnya prestasi perubahan yang Anda berikan, kalau tidak dilakukan sepenuh hati dan seputih kapas,Anda akan tergulung arus balik perubahan. Lantas ketiga, dalam setiap perubahan yang paling menentukan adalah self management.

Membuang Kebiasaan Lama

Anda tentu masih ingat bagaimana orang tua memberi iming-iming agar Anda siap memasuki dunia baru. Hadiah bila naik kelas, pesta sunatan, cincin kawin, dan tentu saja permen manis agar tidak menangis sehabis menerima suntikan imunisasi. Iming-iming seperti itu diteruskan para pelaku ekonomi.

Termasuk agar Anda mau menerima kenaikan harga BBM. Ada paket Bantuan Langsung Sementara Masyarakat dan samar-samar terdengar ada paket jalan-jalan untuk rektor dan aktivis-aktivis mahasiswa, konon pula ada “hadiah”bagi oknum anggota partai politik yang tidak menentang kebijakan ini.Namanya juga konon,bisa betul bisa juga wallahu a’lam. Tapi bagaimana membuang kebiasaan lama?

Ampun,ini memang masalah besar yang bisa menjadi penghalang. Manusia sulit sekali membuang kebiasaan-kebiasaan lamanya, apalagi pikiran-pikiran lamanya. Perubahansetidaknya memiliki dua dimensi, yaitu dimensi berubah (changing) dan dimensi tidak berubah (not changing). Pengalaman saya membantu lembaga-lembaga nasional melakukan perubahan menunjukkan, sebagian besar kita lebih banyak menaruh perhatian pada aspek dimensi yang pertama (changing).

Changing memiliki the plus side (persepsi terhadap manfaatperubahan) dan thenegative side (persepsi terhadap biaya, upaya, dan risiko-risiko bila Anda berubah). Padahal not changing juga penting.Manusia juga menimbang-nimbang apa plus-minusnya bila ia tidak berubah. Selama benefit terhadap adanya perubahan lebih besar dari cost-nya, kita sering berpikir bahwa manusia sudah pasti siap untuk berubah.

Padahal dalam kenyataannya tidak demikian. Manusia ternyata juga menimbangnimbang the plus side of not changing (manfaat kalau tidak berubah) dan the negative side of not changing (ruginya bila tidak berubah).Pusing ya? Begitulah perubahan. Selama the plus side of changing tidak diimbangi dengan the negative side of not changing, manusia Akan tetap berada “di dunia lama”. Hidup dalam aturan dan cara berpikir lama. Jadi cost-benefit analysis saja tidak cukup.

Untuk meninggalkan dunia lama,manusia perlu diberi tahu konsekuensi- konsekuensi negatif apa yang akan ia terima bila ia tidak berubah. Jadi melihat keindahan di depan tembok saja belum tentu membuat seorang anak melompat ke atas tembok setinggi dua setengah meter.Ia baru melompat kalau pantatnya akan digigit anjing besar bertaring tajam yang mengejar di belakangnya. Diberi tahu saja tidak cukup. Manusia perlu dibukakan matanya, yaitu melihat apa yang tidak atau belum terlihat.

Hati Bersih

Belakangan saya juga bertemu dengan orang-orang yang mengaku berhasil melakukan perubahan. Hasilnya mungkin saja mengagumkan.Tapi yang menarik perhatian saya,orangorang ini terbentur oleh kejadian- kejadian negatif. Kejadian-kejadian negatif bisa berakibat karya perubahan menjadi sia-sia.Tapi sepanjang Anda melakukannya dengan sepenuh hati,sesungguhnya Anda tidak perlu bercemas hati.Kebenaran akan menemukan pintunya sendiri.

Semua itu hanya mungkin dibersihkan oleh hati yang bersih. Hanya pemimpin-pemimpin yang melakukan perubahan dengan keikhlasan dan cinta pada perubahan yang akan selamat mengawal perubahan. Mudah kita membedakan mana pemimpin yang cinta jabatan dan mana yang cinta perubahan. Orang yang mengaku cinta perubahan bisa saja sesungguhnya pencinta jabatan yang bertarung habis-habisan mempertahankan kekuasaannya. Kalau Andacintaperubahan, Anda akan siap terhadap kemungkinan Anda hanya bisa memimpin satu kali. Ada melakukan people developmentdan Anda menjaga reputasi sekuat tenaga karena tanpa reputasi kekuasaan tak punya gigi.

Self Management

Di mana peran Anda dalam pusaran perubahan ini? Praktik- praktik yang ada umumnya mengacu pada literatur-literatur dan best practice yang seakanakan menempatkan semuaorang sebagai change agents atau change leaders. Padahal sebagian besar orang bukan pemimpin dantakterpilihmenjadi change agent dalam perubahan.

Apa yang harus Anda lakukan? Pengalaman saya menemukan orang-orang yang berada di dalam pusaran perubahan bukan hanya terdiri atas mereka yang menentang perubahan, melainkan karena mereka tidak terbiasa “melihat” apa yang “tidak” atau “belum” terlihat. Berbagai latihan umumnya sangat diperlukan untuk melatih karyawanagarmampu “melihat”, bahkan “mendengar” yang “belum”atau “tak terdengar”.

Melalui berbagai pelatihan, pegawai dilatih agar memiliki sikap proaktif yang melekat pada diri setiap individu. Pelatihan-pelatihan seperti itu menjadi penting di era performance management tidak lain karena setiap orang telah berubah menjadi manusia robotic yang hanya peduli dengan indikator-indikator kinerja utamanya atau yang biasa dikenal dengan istilah KPI (key performance indicator).

Ketika manusia terlalu fokus pada pekerjaannya atau apa yang ditugaskankepadanya (dalambirokrasi dikenal dengan istilah tupoksi), maka biasanya mereka tidak mampu melihat hal-hal yang berada di luar titik fokusnya. Maka latihlah diri Anda agar mampu “melihat” yang tak terlihat dan “mendengar” apa yang tak terdengar. Hanya orang-orang yang memiliki keberanianlah yang mampu melihat hal-hal yang tak terlihat. Dan hanya merekalah yang mampu membawa diri dalam pusaran perubahan.

Mereka bukan hanya bisa beralih memasuki dunia baru dengan selamat, melainkan juga meninggalkan dunia lama dengan penuh kedamaian. Itulah yang membedakan seorang winner (pemenang) dengan seorang looser (pecundang). Pemenang melenggang riang, pecundang bicara kotor dengan umpatan yang tak tersalurkan. Selamat menjalankan perubahan.●

RHENALD KASALI
Ketua Program MM
Universitas Indonesia

Ustaz Salman memasuki ruang kelas. Ia membawa sebilah pedang yang sudah berkarat dan sebatang bambu. Senyum seorang guru menyeringai dari bi...

Ustaz Salman memasuki ruang kelas. Ia membawa sebilah pedang yang sudah berkarat dan sebatang bambu. Senyum seorang guru menyeringai dari bibirnya yang terlihat bersahabat.

Di depan santri-santri baru yang datang dari berbagai pelosok Indonesia di sebuah pesantren besar di Ponorogo, ia berujar: “Man jadda wajada!” Kelak kata-kata itu identik dengan Alif, eh, Achmad Fuady, penulis buku Negeri 5 Menara yang kini menjadi inspirasi kaum muda Indonesia. Ustaz Salman menjajal pedang tumpul itu untuk memotong bambu.Berat! Sulit! Tapi ia berupaya terus kendati keringat mulai mengucur.Ruang kelas riuh oleh bunyi bambu yang dipancung paksa oleh pedang majal yang harus dibanting-banting berkali-kali ke lantai, sampai akhirnya bambu terpotong dan santri-santri polos terkesima. Ia berteriak, “Man jadda wajada! Sesuatu yang dilakukan bersungguh-sungguh dapat menjadi kenyataan.”

Membebaskan Belenggu

Adegan itu saya saksikan dalam pemutaran perdana film inspiratif Negeri 5 Menara yang diangkat dari novel Achmad Fuadi itu pada hari Selasa (21/2) kemarin.Saya datang ke Gedung XXI-FX Plaza dengan guru-guru PAUD dan taman kanak-kanak asuhan istri saya di Rumah Perubahan. Bagi guru-guru yang biasa mengajar anak-anak kampung, film ini seperti sebuah pelepasan.

Bagi anak-anak kampung, menjelajahi menara-menara dunia adalah sebuah keniscayaan. Tak usah dari Danau Maninjau (tempat asal Alif) ke Ponorogo di Jawa Timur, dari Bekasi ke Monas saja,bagi sebagian anak-anak,adalah suatu keniscayaan. Selain saya,pemutaran perdana itu dihadiri para guru. Apa yang bisa dipelajari para guru dari film ini? Tentu saja setiap orang bisa melihatnya dari sudut pandang yang berbeda- beda. Namun dari guruguru yang ikut bersama saya didapatkan jawaban ini: “Bukan matematika atau sains, juga bukan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, melainkan rasa percaya dirilah yang membawa manusia menemukan menara-menara kehidupannya.

” Saya masih bingung, tetapi akhirnya mereka menjelaskan bahwa masalah terbesar yang dihadapi tunas-tunas bangsa adalah kuatnya belenggu “tidak bisa”dan belenggu “bukan hak saya” yang begitu kuat. Ini belum termasuk belenggu-belenggu karakter seperti mudah terprovokasi, pendendam, merasa benar sendiri, dan seterusnya. Anak-anak tukang ojek atau anak tukang bubur kacang hijau yang orang tuanya harus berkeliling kampung mengumpulkan seribu demi seribu rupiah dengan penuh kesulitan memiliki cara berpikir yang sama seperti burung-burung dara yang sayapnya dijahit supaya tidak bisa terbang jauh.

Dengan sayap-sayap yang terikat itu, mereka tak bisa terbang jauh mengelilingi dunia, apalagi membangun menara-menara bagi kehidupan mereka sendiri. Ustaz Salman membuka kelasnya bukan dengan dogma, teori atau rumus,melainkan dengan pedang tumpul dan berkarat serta sebatang bambu tua yang keras.Yang ia tanamkan adalah sebuah keyakinan positif, meretas belenggu-belenggu virtual yang ada di tiap kepala anak-anak.

Ya,itulah belenggu yang tumbuh menjadi keyakinan kolektif. Itulah masalah besar yang selama ini kita abaikan. Kita beranggapan seolaholah semua tidak ada.Atau bahkan kita berpandangan dengan rumus-rumus sains semua bisa dilupakan? Kalau kita mengabaikannya, kita hanya menciptakan benda-benda tak bergerak. Sama seperti sayap burung yang dijahit.

Sederhanakanlah!

Bagi sebagian guru Indonesia, berlaku adagium,“more is better than less”atau lebih jelasnya “the heavier the better”. Semakin banyak subjek yang diberikan, semakin sulit, semakin takut berarti semakin bagus. Semakin berat pelajaran yang bisa diberikan semakin hebat dirasakan.Asumsi murid pandai bisa mengerjakan rumus- rumus yang berat menjalar ke mana-mana.Dari fisika dan matematika, melebar ke bahasa Inggris dan sejarah. Semua pelajaran ilmu sosial diajarkan dalam bentuk rumus, bukan dalam bentuk pemecahan masalah.

Akibatnya pun begitu luas,kita menyaksikan pemimpin yang tak mampu menggunakan ilmunya dengan baik kendati mereka semua hafal rumusnya. Kita juga menyaksikan pemimpin-pemimpin yang takut dan tak tahu bagaimana caranya membuat keputusan.Mereka hanya bisa mengomentari keputusan orang lain, seakan-akan lebih mengerti dan lebih berpengetahuan. Namun saat diberi kekuasaan, ternyata sama saja.

Bagaimana cara Negeri 5 Menara? Film Negeri 5 Menara menunjukkan ada hal lain yang dibutuhkan anak-anak yang kini melanglang buana dengan prestasi masing-masing, yaitu pentingnya peran guru sebagai pembuka “jahitan”yang membelenggu anak-anak didiknya. Membuka belenggu berarti menyederhanakan banyak hal. Anda tak mungkin membuka belenggu sambil menanamkan belenggu-belenggu lain yang lebih besar.

Anda perlu memilih: mengikat kaki mereka sehingga tak bisa lari atau membukakannya agar mereka bisa melanglang buana. Sudah barang tentu jumlah mata ajaran dan cara mengajar di negeri ini harus diubah,diremajakan, dan disederhanakan. Bukankah sekolah diperlukan untuk manusia dan bukan sebaliknya? 

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI

Sudahkah terbukti jumlah rapat-rapat di Kementerian BUMN turun 50 persen seperti yang saya inginkan? Angka pastinya masih dikumpulkan. Tapi ...



Sudahkah terbukti jumlah rapat-rapat di Kementerian BUMN turun 50 persen seperti yang saya inginkan? Angka pastinya masih dikumpulkan. Tapi dari penjelasan para direktur utama BUMN, terasa sekali jumlah rapat itu menurun drastis.

“Rasanya turun 60 persen,” ujar Nur Pamudji, Dirut Perusahaan Listrik Negara. “Selama tiga bulan ini saya baru rapat dua kali di kementerian. Kira-kira menurun 75 persen,” ujar Karen Agustiawan, Dirut Pertamina.

Rapat memang harus dikurangi. Kerja yang harus ditambah. Kerja, kerja, dan kerja. Di birokrasi, kesibukan rapat itu memang luar biasa. Jadi salah anggapan masyarakat selama ini kalau birokrasi itu malas. Birokrasi itu rajinnya bukan main. Kalau sudah rapat bisa panjang sekali. Bahkan untuk satu topik saja bisa dilakukan berkali-kali.

Tentu ada dampak negatifnya. Penghasilan sejumlah staf menurun. Dampak lainnya: banyak ruang rapat yang kosong. Saya suka turun-naik dari lantai ke lantai. Terasa benar ruang yang mahal itu terlalu boros penggunaannya. Padahal ruang rapat itu banyak yang ukurannya besar. Maka beberapa staf di Kementerian BUMN mengusulkan agar segera dilakukan penataan ulang seluruh ruang kerja.

Tentu saya menghargai usul seperti itu dan harus segera dilaksanakan. Pepatah hemat pangkal kaya rupanya sudah banyak dilupakan di zaman yang serba ada ini. Digantikan adagium: boros itu meningkatkan pertumbuhan ekonomi! Kalau semua orang berhemat, siapa yang belanja? Bagaimana nasib pabrik-pabrik?

Boros ruangan tentu memberikan contoh yang kurang baik. Secara kasar bisa dihitung paling sedikit akan ada dua lantai dari gedung 22 lantai di dekat Monas itu yang bisa dihemat. Beberapa BUMN yang selama ini masih sewa kantor (ada satu BUMN yang untuk salah satu bagiannya harus sewa kantor Rp 50 miliar selama lima tahun!) bisa pindah ke gedung ini.

Apakah penurunan jumlah rapat di Kementerian BUMN itu sudah membuktikan otomatis BUMN-BUMN kini lebih banyak kerja, kerja, kerja? Tentu belum bisa dibuktikan seketika. Bukti yang terbaik adalah hasil tutup buku akhir tahun nanti. Benarkah kinerja BUMN meningkat? Ataukah berkurangnya panggilan rapat dari kementerian itu justru melonggarkan kontrol dan membuat BUMN kian malas?

Berkurangnya jumlah rapat secara drastis di Kementerian BUMN itu sebenarnya bukan berarti menurunnya intensitas komunikasi. Sejumlah rapat itu kini sudah digantikan oleh terbentuknya grup BlackBerry Messenger.

Misalnya ada satu grup BBM yang semua anggotanya eselon satu. Maka meski Rapim Kementerian BUMN hanya dilakukan satu minggu satu kali (tiap Selasa jam 07.00), pada dasarnya rapat itu berlangsung bisa beberapa kali sehari. Hanya forumnya tidak di ruang rapat dengan sebuah meja rapat, tapi di forum BBM. Peserta bisa di mana saja dan sedang melakukan apa saja. Yang jelas tidak ada hidangan makanan kecil dalam rapat seperti ini.

Ada juga grup BBM yang anggotanya menteri, wakil menteri, seorang deputi, dan semua direktur utama BUMN yang bergerak di bidang pangan. Maka masalah-masalah peningkatan produksi beras di BUMN dibicarakan di “ruang rapat tanpa hidangan” ini.

Demikian juga ada grup BBM bidang gula. Anggotanya menteri, wakil menteri, deputi bersangkutan, dan semua direktur utama yang membawahi urusan gula. Ada grup BBM energi. Dan sebentar lagi, setelah holding perkebunan terbentuk akan diadakan grup BBM perkebunan.

Rapat melalui grup BBM seperti itu intensifnya bukan main. Juga hemat sekali waktu. Bahkan “rapat itu” berlangsung tidak mengenal hari dan jam. Bisa saja pada hari Minggu ada topik yang harus dibahas. Bahkan ada yang sampai jam 23.00 waktu setempat masih mengajukan pendapat.

Isi dan kualitas pembicaraan tidak kalah dengan rapat yang dilaksanakan di ruang rapat sungguhan. Meski menggunakan BBM, jangan khawatir dimanfaatkan untuk yang bukan-bukan. Tidak akan ada pembicaraan mengenai apel malang atau apel washington di situ.

Sesekali ada yang memasukkan humor, tapi biasanya kalau lagi akhir pekan. Arifin Tasrif, Dirut Pusri Holding yang tergabung dalam grup BBM pangan, termasuk yang suka kirim humor. Hanya kadang saya sulit mengenali nama asli mereka karena banyak yang pakai nama maya. Arifin Tasrif, misalnya, di BBM menggunakan nama Kapal Selam. Rupanya dia sekalian jualan pempek Palembang.

Tentu saya sangat menganjurkan agar semua BUMN membentuk grup-grup BBM seperti itu. Intensifnya luar biasa. Ini saya rasakan sewaktu masih di PLN. Waktu itu saya memiliki tujuh grup: grup khusus yang anggotanya semua direksi plus sekretaris perusahaan, grup saya dengan para general manajer se-Jawa-Bali, grup saya dengan para general manajer se-Indonesia barat, grup saya dengan semua general manajer se-Indonesia Timur.

Juga grup saya dengan para manajer perencanaan, grup saya dengan para manajer keuangan, grup saya dengan para manajer SDM, dan seterusnya. Keluhan masyarakat, info soal korupsi, pengaduan tender yang main-main dan segala persoalan yang berkembang bisa langsung dikomunikasikan melalui grup BBM.

Model komunikasi manajemen seperti ini, sekaligus bisa menerabas batas-batas hirarkhi dan birokrasi. Juga bisa lebih terbuka. Kekurangan di satu tempat langsung diketahui siapa pun di tempat lain. Kalau tidak terbiasa memang seperti membuka aib dan kelemahan, tapi itulah cara yang efektif untuk melakukan perbaikan.

Kalau niatnya sudah untuk melayani masyarakat, soal kelemahan yang dibuka di depan sesama manajer seperti itu tidak akan terasa sebagai aib lagi. Justru dengan cara itu tanggungjawab bisa muncul.

Apalagi bukan hanya soal kekurangan yang dibeber di grup BBM. Tapi juga soal prestasi. Dulu sering saya memasukkan pujian dari pelanggan listrik yang dikirimkan via SMS ke handphone saya. SMS itu langsung saya masukkan ke dalam grup BBM. Sebagai pendorong bahwa hasil kerja keras mereka diapresiasi oleh masyarakat luas.

Salah satu contoh ketika Peter Gontha memuji PLN via SMS; yang merasa kaget petugas PLN begitu cepat datang ke rumahnya yang listriknya lagi bermasalah dan petugas itu tidak mau diberi uang tip. SMS itu saya masukkan ke grup BBM dan dalam waktu singkat menyebar luas ke jajaran PLN.

Sungguh sangat banyak rapat yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara yang tidak perlu harus membuang waktu sampai lima jam (satu jam perjalanan, tiga jam rapat, satu jam perjalanan kembali). Kecuali kalau rapatnya benar-benar harus dan bisa mengambil keputusan saat itu.

Tentang rapat pimpinan Kementerian BUMN sendiri, kini tidak lagi dilakukan di kantor kementerian BUMN. Tiap Selasa lokasi rapat itu berpindah dari BUMN satu ke BUMN lainnya. Sekaligus agar seluruh eselon satu Kementerian BUMN mengetahui dengan mata kepala sendiri markas BUMN yang selama ini sering mereka panggil.

Sekalian untuk mengecek apakah di BUMN tersebut juga sudah dilakukan rapat pimpinan setiap Selasa jam 07.00 waktu setempat. Rapat paling jauh dilakukan di BUMN Angkasa Pura II Selasa lalu. Sekalian untuk mengecek persiapan perbaikan Bandara Soekarno-Hatta.

Perubahan memang sedang dilakukan. Ruang ATC/tower sudah lebih disiplin dan bersih. Tidak ada lagi yang merokok di ruang kontrol lalu-lintas pesawat. Peningkatan kapasitas tower menjadi dua sisi juga sudah hampir selesai.

Satu sodetan express taxy sudah selesai, tinggal membuat satu lagi. Bagian-bagian jalan yang sempit yang menjadi sumber kemacetan di sekitar bandara sudah dipagari seng, pertanda proyek pelebaran jalan sedang dilakukan.

Yang tahun ini mulai dikerjakan adalah: pembuatan gedung parkir empat tingkat di tengah-tengah antara terminal satu dan dua. Di tengah-tengah itu tahun ini mulai dibangun juga stasiun kereta api. Gedung parkir dan stasiun itu harus selesai akhir tahun depan.

Sementara menunggu gedung parkir, segera dilakukan pengaturan darurat: banyaknya mobil yang menginap di bandara akan disediakan lokasi khusus. Kendaraan karyawan bandara dan karyawan toko-toko di bandara akan dialihkan juga di lokasi lain. Ini agar lokasi parkir bandara lebih diperuntukkan melayani penumpang.

Terminal 3, yang sekarang ini hanya seperti huruf I, akan dikerjakan menjadi huruf U lebar. Berikut apron-nya sekalian. Dari terminal tiga akan dihubungkan dengan kereta tanpa supir menuju Terminal 1 dan 2. Pembangunan Terminal 3 ini juga harus sudah selesai akhir tahun depan. Kalau semua pekerjaaan itu selesai maka daya tampung Bandara Soekarno Hatta meningkat menjadi 60 juta pemakai jasa. Sekarang ini sudah 50 juta pemakai jasa per tahun yang memadati bandara yang mestinya hanya untuk 22 juta pemakai jasa itu.

Memang masih ada proyek besar lainnya: membangun landasan nomor 3 dan membangun Terminal 4. Tapi proyek ini memerlukan waktu lebih panjang. Masih harus membebaskan tanah 730 Ha yang tentu tidak akan mudah.

Dengan mengurangi kesibukan rutin berupa rapat-rapat yang kurang efektif, pemikiran memang bisa lebih dicurahkan untuk hal-hal yang lebih mendasar.

Rapat, tentu saja penting. Tapi kebanyakan rapat bisa membuat orang sinting! (ANT)

Dahlan Iskan
Menteri BUMN

Ancaman yang tak pernah disangka sebagai ancaman itulah sebenar-benarnya ancaman. Feodalisme misalnya. Sebagian sejarawan menafsir alasan ko...

Ancaman yang tak pernah disangka sebagai ancaman itulah sebenar-benarnya ancaman. Feodalisme misalnya. Sebagian sejarawan menafsir alasan kolonialisme menjadi begitu mudah merajalela bukan karena kekuatan mereka melainkan karena kecerdasan mereka.

Jumlah penjajah itu tak seberapa, tetapi sanggup menguasai wilayah yang sedemikian luas. Jadi tegasnya, penjajah itu menjadi cukong belaka dengan para feodalis sebagai mandor-mandornya. Maka tegasnya lagi, penjajahan sukses karena alatnya adalah pihak si terjajah itu sendiri. Menjadi mandor penjajah memang jauh lebih mudah ketimbang mengolah tanah.

Feodalisme sebagai alat penjajahan itu kini memang berubah wajah, tetapi tidak pernah benar-benar berubah. Ia memperbarui diri dengan menyasar siapa saja juga generasi muda tanpa kecuali. Anak-anak muda, yang melejit di orbit tinggi, lalu ramai-ramai tersandung korupsi misalnya, adalah bagian dari mata rantai kultur lama ini. Yang berbahaya dari feodalisme itu bukan soal hierarki, bukan tentang sebuah stratum yang menganggap dirinya setingkat lebih tinggi. Hierarki itu, dalam ukuran tertentu, apalagi jika basisnya pengetahuan, adalah soal yang bisa dimengerti. Adalah logis bahwa pihak yang berilmu, memang akan setingkat lebih tinggi.

Tetapi rasa lebih tinggi itu, menjadi berbahaya ketika mulai memasuki kecenderungan berikutnya, yakni meninggikan hampir semua: tinggi kedudukan, tinggi penghasilan, tinggi gengsi, tinggi keenakan. Artinya, rasa tinggi itu kemudian benar-benar menelan ongkos besar sekali. Celakanya, tidak semua yang merasa tinggi itu benar-benar tinggi. Banyak di antaranya yang sekadar meninggi-ninggikan diri dengan cara memoles diri di sana-sini. Polesan itu tidak gratis, tetapi malah mahal sekali, terutama di hari-hari ini. Inilah kemudian yang membuat Mahatma Gandhi menemukan dosa ketiga dari tujuh dosa sosial yang ia rumuskan: kekayaan tanpa kerja.

Ongkos peninggian diri itu akhirnya besar sekali, sementara penopangnya rendah sekali. Itulah awal kemunculan kesenjangan gaya dan sikap hidup. Gaya lebih penting ketimbang sikap. Ketika gaya meninggi, sikap. Jadi, ukuran ketinggian itu kini banyak berhenti hanya dalam masalah gaya. Maka mati-matian membiayai gaya menjadi kecenderungan sosial yang merajalela. Lalu dari mana biaya pemujaan atas gaya ini? Dari menciptakan peluang apa saja sepanjang bukan dari jalan berproduksi. Kenapa? Karena sikap berproduksi nyaris tidak ada dalam diri mereka. Kalau pun ada, lambat sekali lajunya dan yang menyalip kencang adalah laju mereka dalam bergaya. Tangan mereka terlalu lembut untuk bekerja dan tidak didesain untuk bekerja juga tidak benar-benar berniat bekerja kalau perlu malah menghindar dari kerja. Itulah dosa ketiga versi Gandhi.

Jadi, untuk membiayai sebuah masyarakat yang sibuk bergaya, sebuah negara bisa benar-benar membahayakan devisanya. Masyarakat yang hanya besar dalam gaya tetapi tidak besar dalam kerja akan rawan membiayai gayanya, setidaknya dengan dua cara. Yang pertama, utang, dan kedua, kriminalitas. Sungguh, kepada feodalisme jenis baru, Indonesia harus berwaspada. (62)
(/)

Sumber : suaramerdeka.com

Sistem pemerintahan yang adil dan demokratis akan menghadirkan pemerintahan yang lebih efektif. Adil adalah keseimbangan. Dalam sistem pemer...

Sistem pemerintahan yang adil dan demokratis akan menghadirkan pemerintahan yang lebih efektif. Adil adalah keseimbangan. Dalam sistem pemerintahan yang adil hadir keseimbangan antara kewenangan dan pembatasan, antara dukungan dan pengawasan, antara sokongan koalisi dan kontrol oposisi.


Meskipun kekuasaan yang berimbang semata bukanlah tujuan. Seimbang yang mutlak dapat menghadirkan kebuntuan. Dalam sistem kekuasaan yang terlalu berimbang yang muncul adalah keriuhan sensasi dan selebrasi politik semata,tanpa solusi. Karena itu, pidato pengukuhan ini merumuskan sistem presidensial yang adil dan demokratis adalah sistem Presidensial Efektif (PE) yang memerlukan Kewenangan Konstitusional (KK, constitutional power), Dukungan Politik (DP, political support), di samping tentunya kontrol ( K,control).

Atau, dengan meminjam rumusan bahasa matematis : PE = KK + DP + K.

Sistem pemerintahan Indonesia saat ini lebih merupakan sistem presidensial. Pasti ada yang berpendapat, pengklasifikasian sistem kita sebagai pemerintahan presidensial tidaklah tepat karena ada karakteristik parlementer di dalamnya. Namun, meskipun memang ada ciri parlementarian, karakteristik utama presidensial tetap lebih menonjol. Juga perlu dicatat, suatu kesalahan jika mempercayai ada sistem pemerintahan yang murni.

Kemurnian hanya ada dalam tataran konseptual, tetapi tidak dalam realitas. Demikian pula halnya dengan sistem presidensial Indonesia. Memang ada karakteristik parlementer. Misalnya, hak angket yang diatur UUD 1945 setelah Perubahan Kedua adalah salah satu hak lembaga perwakilan rakyat yang sangat parlementarian. Tidak jarang karakteristik parlementarian lahir karena kondisi.

Misalnya, koalisi memang lebih merupakan ciri sistem parlementer. Namun, koalisi bukan berarti tidak dapat hadir dalam sistem presidensial karena sistem pemerintahan apa pun membutuhkan dukungan mayoritas anggota parlemen untuk dapat memerintah secara efektif. Memang tidak semua sistem presidensial membutuhkan koalisi. Utamanya jika partai pendukung pemerintah telah menguasai kursi mayoritas di parlemen.

Namun, jika kondisinya demikian, sistem parlementer sekalipun sebenarnya tidak membutuhkan koalisi.Jadi ada atau tidaknya koalisi sebenarnya tidak ditentukan oleh sistem pemerintahan, tetapi oleh kebutuhan perlunya dukungan mayoritas di parlemen. Sistem pemerintahan presidensial yang efektif harus didukung oleh kewenangan konstitusional yang memadai.

Sebelum perubahan UUD 1945, kewenangan konstitusional presiden nyaris tanpa batas. Pada era itulah kewenangan konstitusional presiden sangat besar diberikan oleh UUD 1945 sehingga disebut sebagai executive heavy constitution. Pascaperubahan UUD 1945, kewenangan konstitusional presiden dikurangi di segala lini. Tidak cukup hanya dengan pengurangan, kewenangan presiden juga dikontrol dari segala penjuru.

Pengurangan dan pembatasan demikian tentu perlu untuk menghindari agar presiden tidak menjadi pemimpin yang diktator. Tapi, pada saat yang sama, pengurangan dan pembatasan itu harus dijaga agar tidak berubah menjadi penciptaan presiden minim kekuasaan. Tanpa kewenangan yang memadai, presiden pasca perubahan akan terjadi paradoks.

Secara legitimasi politis, yuridis, dan sosiologis lebih kuat; namun secara faktual tidak mempunyai kewenangan maupun dukungan politik yang memadai untuk memerintah. Dengan pemilihan presiden langsung, presiden terpilih memiliki legitimasi yang lebih kuat. Di Tanah Air syarat calon presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik sehingga menghadirkan legitimasi politis.

Peran serta Mahkamah Konstitusi untuk menyelesaikan sengketa hasil pemilihan presiden melahirkan legitimasi yuridis. Selanjutnya syarat dipilih mayoritas rakyat yang memiliki hak pilih memunculkan legitimasi sosiologis. Namun, trisula legitimasi yang menguat tersebut sebenarnya tidak otomatis menghadirkan sistem pemerintahan yang lebih efektif.

Presiden pascareformasi—setelah Perubahan Pertama hingga Keempat UUD 1945—semuanya mempunyai kewenangan konstitusional yang jauh lebih kecil dan terbatas. Perpaduan antara legitimasi yang membesar dan kewenangan konstitusional yang mengecil itulah yang melahirkan sistem presidensial yang paradoksal. Meski begitu, perlu dijelaskan dan ditegaskan, pengurangan kewenangan presiden itu bukanlah suatu masalah.

Pengurangan dan pembatasan kewenangan itu salah satu penyempurnaan mekanisme saling-kontrol-salingimbang yang semakin baik pascaperubahan konstitusi. Yang harus dikaji adalah terus berlanjutnya kecenderungan untuk mengurangi kewenangan presiden. Bagaimanapun, pada titik tertentu, kewenangan presiden selaku kepala pemerintahan dan kepala negara justru harus ditegaskan.

Sistem pemerintahan model apa pun membutuhkan dukungan politik di parlemen yang mayoritas.Tanpa dukungan politik mayoritas di parlemen, sistem pemerintahan apa pun cenderung tidak efektif. Pembatasan kewenangan presiden dan membaiknya sistem saling-kontrol-saling-imbang adalah suatu hal yang penting untuk menjaga presiden tidak menjadi diktator. Namun, itu bukan berarti presiden dapat dibiarkan tanpa dukungan politik yang memadai.

Dalam mekanisme checks and balances yang baik, tidak hanya ada unsur kontrol (checks), tetapi yang tidak kalah penting juga unsur keseimbangan dukungan (balances). Pemerintah tanpa dukungan mayoritas suara di parlemen adalah presiden yang minoritas (minority president), dan yang terbentuk adalah pemerintahan terbelah (divided government).

Masih terkait dukungan politik dan koalisi, ada pendapat bahwa presiden yang dipilih mayoritas suara rakyat tidak membutuhkan koalisi partai pendukung pemerintah. Menurut pendapat ini, Presiden SBY yang memenangkan pilpres 2004 maupun 2009 dengan suara mayoritas, hampir 61% suara pemilih, tidak perlu membentuk koalisi partai.

Pendapat ini mengatakan: presiden cukup berkoalisi dengan rakyat pendukungnya,dan tidak perlu berkoalisi dengan partai pemerintah. Pendapat demikian sebenarnya tidak berpijak pada realitas politik ketatanegaraan. Bagaimanapun ada perbedaan mendasar antara dukungan pemilih (electoral support) dan dukungan pemerintahan (governing support).

Dukungan pemilih memang mengantarkan seorang calon presiden menjadi presiden terpilih. Tetapi, dukungan pemilih tidak otomatis dapat ditransformasi menjadi dukungan pemerintahan. Untuk memerintah, apalagi dalam demokrasi perwakilan, presiden tetap tidak dapat menafikan kebutuhan koalisi partai pendukung yang solid.

Tanpa dukungan mayoritas suara di DPR, pemerintahan selalu akan terganjal dalam relasi yang berhubungan dengan kewenangan DPR: legislasi, pengawasan, dan anggaran. Setelah mempunyai kewenangan konstitusional yang memadai, dukungan politik yang mayoritas, sistem pemerintahan presidensial—atau sebenarnya sistem pemerintahan apa pun—tetap harus dikawal dengan sistem kontrol yang efektif.

Paling tidak ada dua kontrol yang harus dihidupkan: kontrol konstitusional dan kontrol sosial. Kontrol konstitusional adalah pengawasan melalui mekanisme formal negara, yang diatur dengan konstitusi; sedangkan kontrol sosial adalah pengawasan melalui mekanisme nonformal negara misalnya oleh lembaga swadaya masyarakat dan media massa.

Apalagi dalam kehidupan demokratis, pemegang kuasa tidak hanya negara, tetapi juga penguasa non-negara. Sikap saling kontrol terjadi secara internal di antara cabang kekuasaan negara dan secara eksternal oleh kekuasaan nonnegara. Maka itu, sebagai pemegang kuasa, baik negara maupun non-negara,semua harus tunduk pada aturan main yang demokratis.Konsekuensinya, demokrasi tidak hanya melahirkan kebebasan (freedom), tetapi juga mensyaratkan ada regulasi (rules) yang berimbang.

Demokrasi minus regulasi akan menjadi anarki, sebagaimana demokrasi surplus regulasi akan menjadi tirani. Lebih jauh,demokrasi tidak hanya mengontrol penyelenggara negara,tapi juga tanggung jawab penyelenggara non-negara. Misalnya,kehidupan pers yang bebas harus tetap dijaga agar tidak hanya steril dari intervensi penguasa, tapi juga dari infiltrasi modal pengusaha.

Maka itu, aturan perundangan pers harus membuka ruang yang luas bagi ada keberagaman pemilik (diversity of ownership) dan keberagaman isi (diversity of content). Kebebasan pers yang gagal karena pembungkaman dari penguasa, sama berbahayanya dengan kebebasan pers yang tanpa kontrol karena monopoli modal tunggal pengusaha.

Akhir kalam,keep on fighting for the better Indonesia.

(Disarikan dari Pidato Pengukuhan Guru Besar di Balai Senat, Gedung Pusat UGM,Yogyakarta, 6 Februari 2012).

DENNY INDRAYANA Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia,Guru Besar Hukum Tata Negara UGM

Sumber : seputar-indonesia.com

Hampir seribu orang berkumpul di gedung Empire Palace, Surabaya, Minggu pagi kemarin. Semua berkaus sama: kaus putih bergambar tebu, sepeda,...

Hampir seribu orang berkumpul di gedung Empire Palace, Surabaya, Minggu pagi kemarin. Semua berkaus sama: kaus putih bergambar tebu, sepeda, dan sedikit hantu. Tidak peduli karyawan biasa, kepala bagian, kepala pabrik, maupun direksinya. Saya pun diminta mengenakan kaus yang sama, entah apa maksud gambar hantu di situ. Tujuan pertemuan itu memang hanya satu: memajukan pabrik-pabrik gula milik BUMN.

Di antara 179 pabrik gula milik negara yang pernah ada, kini tinggal 51 yang masih tersisa. Itu pun separonya dalam keadaan sulit dan sangat sulit. Zaman memang sudah berubah. Kejayaan industri gula sudah lama berlalu. Kalau dulu harga gula 2,5 kali harga beras, kini harga dua komoditas itu sudah praktis sama. Maka, minat menanam tebu pun tentu tidak sebesar dulu lagi. Kini begitu banyak tanaman lain yang lebih menjanjikan. Apalagi, untuk menanam tebu, diperlukan waktu tiga kali lipat lebih lama daripada tanaman padi.

Saat produksi gula mengalami kesulitan seperti itu, orang masih terus membeli gula. Kian tahun, konsumsi gula kian tinggi ?termasuk oleh mereka yang terkena sakit gula sekali pun. Akibatnya, impor gula harus digalakkan. Pabrik gula dalam negeri kian bertambah-tambah sulitnya.

Tapi, benarkah pabrik gula harus sulit? Mengapa masih ada pabrik gula yang baik? Mengapa masih ada pabrik gula yang maju? Mengapa minat swasta membangun pabrik gula tetap tinggi? Mengapa di beberapa negara, produksi gulanya terus meningkat, bahkan mampu ekspor?

Dalam forum seribu orang itu, semua pertanyaan harus terjawab. Agar pertemuan tidak seperti sekadar seminar atau rapat kerja, semua pembicara harus ngomong to the point, tidak ada basa-basi, tidak boleh bicara lebih dua menit, dan harus fokus per topik.

Tidak ada upacara pembukaan atau penutupan. Juga tidak ada pemimpin rapat. Yang ada hanya moderator yang diserahkan kepada saya. Yang hadir pun sangat bervariasi sehingga tidak mungkin ada persoalan yang tidak tahu jawabnya.

Di samping direksi, hadir di forum itu semua kepala pabrik, semua kepala bagian, dan peserta khusus. Peserta khusus adalah generasi muda berprestasi di sebuah pabrik gula tanpa memandang sudah punya jabatan atau belum. Tiap-tiap pabrik gula mengirimkan sepuluh orang generasi muda berprestasi.

Saya jadi teringat pidato Bung Karno: Berikan kepada saya sepuluh orang pemuda, akan saya ubah dunia! Saya berharap sepuluh generasi muda di situ pun bisa menjadi champions untuk perubahan di pabrik gula masing-masing.

Tempat duduk di forum yang secara informal dinamakan “bahtsul masail kubro” itu juga diatur secara khusus. Peserta dari pabrik-pabrik yang sudah maju disandingkan dengan peserta dari pabrik-pabrik yang lagi sulit. Peserta dari pabrik-pabrik yang maju sering diminta tampil untuk menceritakan kiat-kiat mereka di topik-topik tertentu.

Maka, 17 topik yang selama ini menjadi penyebab sulitnya pabrik gula itu bisa dibicarakan secara tuntas. Topik-topik tersebut, misalnya, mengapa petani tidak berminat menanam tebu di suatu wilayah pabrik, mengapa ada pabrik yang lebih dekat tetapi petani mengirim tebunya ke pabrik yang lebih jauh, mengapa ketidakefisienan pabrik ikut dibebankan kepada petani, mengapa tebu dari jauh diberi insentif ongkos angkut sementara tidak ada insentif kepada petani yang dekat dengan pabrik, apa yang harus dilakukan untuk merebut kepercayaan petani kepada pabrik gula setempat, seberapa besar pengaruh kekompakan para kepala bagian di dalam suatu pabrik terhadap keberhasilan pabrik gula, bagaimana agar pembakaran ketel tidak lagi menggunakan bahan bakar minyak, mungkinkah dilakukan sistem beli putus -petani kirim tebu dan langsung dibayar saat itu-, bagaimana mengatasi semakin sulitnya mencari tenaga untuk menebang tebu, dan seterusnya.

Topik yang paling panjang tentu yang satu ini: Bagaimana merebut kepercayaan petani. Agar mereka mau menanam tebu. Agar mereka mengirim tebu ke pabrik terdekat. Agar pabrik tidak kekurangan tebu. Agar petani merasakan keadilan dan kesejahteraan.

Mencari jawabnya tidak sulit. Sudah ada contoh yang sangat berhasil. Pabrik gula Pesantren Baru di Kediri atau pabrik gula Ngadirejo di Malang sudah menerapkannya dengan sukses. Demikian juga delapan pabrik gula lain, termasuk yang berada di Lampung dan Palembang. Sejak empat tahun lalu, kelompok 10 itu tidak pernah lagi mengalami kesulitan bahan baku. Bahkan, sampai berlebihan. Kuncinya satu: keterbukaan manajemen kepada petani tebu.

Di pabrik-pabrik tersebut tiap hari (di masa giling) diumumkan pada papan pengumuman petani siapa memperoleh rendemen (kandungan gula) berapa persen. Mereka yang setor tebu ke pabrik biasanya mampir ke papan pengumuman itu. Sejak sistem tersebut diterapkan, tidak ada lagi kecurigaan dari petani.

Padahal, dulu pabrik selalu dicurigai mempermainkan rendemen petani. Sampai-sampai petani meminta dibentuk tim independen untuk mengikuti keterbukaan model Pesantren Baru atau Ngadirejo. Tim seperti itu tidak diperlukan lagi.

Yang juga mendapat banyak tepuk tangan adalah ketika sepasang kepala bagian diminta naik ke panggung. Dia adalah Surya Wirawan, kepala bagian teknik, dan Fajar Lazuardi, kepala bagian pengolahan. Keduanya dijadikan contoh betapa bila dua orang kepala bagian di suatu pabrik kompak, hasilnya luar biasa.

Ketika keduanya bekerja di posisi tersebut, pabrik gula Prajekan, Situbondo, mengalami kemajuan 100 persen dalam produksinya. Oleh direksi PTPN XI, keduanya kini diminta tetap berpasangan untuk membenahi pabrik gula Semboro di Jember. Mereka pun optimistis bisa kembali menghidupkan pabrik gula Semboro yang semula sulit itu.

“Kami ini bukan lagi seperti rekan sejawat, tapi sudah seperti bersaudara,” ujar Surya Wirawan yang jadi kepala bagian teknik. “Saya selalu panggil dia kid dan dia panggil saya sam,” tambah dia.

Bagi orang Malang, tidak ada panggilan yang bisa menunjukkan kekentalan persahabatan melebihi panggilan kid dan sam itu. Orang Ngalam, eh orang Malang, memang biasa mengucapkan suatu kata dari huruf paling belakang.

Biaya memproduksi uap memang sangat besar di suatu pabrik gula. Bagian teknik yang memproduksi uap melalui ketelnya (boiler) harus erat berhubungan dengan bagian pengolahan yang menggunakan uap tersebut. Kalau produksi uap kurang cukup, sudah seharusnya bagian pengolahan menjerit. Sebaliknya, kalau bagian pengolahan terlalu boros menggunakan uap dalam pembuatan gulanya, sudah sewajarnya bagian teknik menjerit.

Dalam hal tim yang tidak kompak, bisa saja terlalu banyak bahan bakar yang terbuang karena penggunaan uap yang berlebihan. Sebaliknya, kalau produksi uap tidak lancar, bisa jadi banyak gula yang kualitasnya jelek.

Dengan berbagai langkah yang sudah dilakukan para pengelola pabrik gula selama tahun-tahun terakhir, setidaknya sudah banyak best practice yang terjadi. Banyak sekali cerita keberhasilan dan kiat kesuksesan yang bisa diceritakan di forum kemarin. Kini tinggal bagaimana manajemen bisa menularkan semua itu kepada pabrik yang masih sulit.

Di akhir pertemuan, 22 pimpinan pabrik gula yang masih sulit dan sangat sulit naik ke panggung. Urutan jejernya pun sudah seperti otomatis: yang paling sulit di ujung kanan dan kian ke kiri kian kurang sulitnya. Mereka sudah mendengar sendiri kiat-kiat sukses pabrik lain. Di antara 22 pabrik yang sulit dan amat sulit itu, ternyata masih memberikan hope yang besar: 12 pabrik di antaranya siap keluar dari “neraka” akhir tahun ini.?

Banyak sekali rencana yang akan mereka lakukan setelah pertemuan itu. Bahkan, di antara mereka ada yang sangat detail. Misalnya, ada yang akan menjaga agar mesin pengolahannya selalu dibersihkan dengan sangat-sangat bersih. Itu tidak hanya dilakukan demi kerapian atau kesehatan, ternyata juga sangat erat dengan peningkatan produksi. Dia menceritakan secara detail reaksi-reaksi kimiawi dari semua instalasi pengolahan yang kurang dibersihkan secara benar-benar bersih dengan produktivitas gula.

Dengan sangat menyindir, dia berucap, “Kalau Bapak mengatakan ruang tunggu bandara harus lebih nyaman daripada ruang kerja direksi bandara, saya akan bikin doktrin instalasi pengolahan di pabrik gula saya harus dibersihkan lebih bersih daripada piring yang saya pakai makan!”

Alhamdulillah. Dengan demikian, bila Tuhan mengizinkan, akhir tahun ini tinggal sepuluh lagi pabrik gula yang masih sulit. Berarti, masih 20 persen lagi. Tentu tidak mudah memecahkannya. Meski tinggal sepuluh pabrik gula, tapi pastilah itu yang paling sulit di antara yang tersulit-sulit.

Untuk membaca seberapa sulitkah kesulitan yang sulit itu, pimpinan sepuluh pabrik gula tersebut diminta menyebutkan tiga penyebab utama kesulitan itu. Yang satu, yang di Klaten itu, menyebutkan bahwa kesulitan utamanya hanya satu: Pabrik tersebut menggunakan banyak sekali boiler yang semuanya berukuran kecil-kecil. Kalau apa yang dia kemukakan itu benar, tentu tidak sulit memecahkannya: ganti boiler. Satu saja, tapi yang besar. Satu saja, tapi bahan bakarnya jangan minyak. Satu saja, tapi bayarnya nyicil.

Satu pabrik lagi di Probolinggo beralasan bahwa pabriknya sudah terlalu tua. Sudah 166 tahun. Kalau itu benar, masih tetap bisa diatasi. Sebab, pabrik gula pada prinsipnya adalah mekanik. Banyak hal yang bisa dilakukan dengan mudah untuk peralatan yang sifatnya mekanik.

Satu pabrik lagi di Jateng, penyebabnya agak unik: kalah bersaing dengan pabrik gula Jawa yang jumlahnya sampai 300 buah di sekitar pabriknya. Tidak ada petani yang mengirim tebu ke pabrik karena tebu diolah sendiri-sendiri.

Tentu alasan seperti itu terlalu klasik untuk sebuah bisnis. Bukan alasan yang kuat. Karena itu, sampai ada peserta yang memberikan jalan keluar secara bergurau: Bagaimana kalau pabrik gula ini sekalian saja memproduksi gula Jawa?

Intinya, semuanya berkaitan dengan kurangnya pasokan tebu sebagai bahan baku utama. Intinya lagi, petani kurang tertarik menanam tebu atau mengirim tebu ke pabrik. Lebih inti lagi, petani kehilangan kepercayaan kepada pabrik gula BUMN. Maka, khusus sepuluh pabrik gula itu akan bertemu lagi sebulan mendatang.

Tentu dengan usul dan jalan keluar yang sudah lebih nyata. Kalaupun tahun ini belum bisa teratasi, setidaknya tahun depan harus beres. Atau, hi hi hi, menjadi seperti hiasan di kaus yang kemarin mereka kenakan itu!

Dahlan Iskan
Menteri BUMN


Nama Angelina Sondakh yang akrab dipanggil Angie kini kembali tersiar di publik dengan status sebagai tersangka dalam kasus suap proyek Wism...

Nama Angelina Sondakh yang akrab dipanggil Angie kini kembali tersiar di publik dengan status sebagai tersangka dalam kasus suap proyek Wisma Atlet di Jakabaring, Sumatera Selatan terhitung sejak Jumat (3/2/2012). Dulunya, anggota Komisi Pemuda dan Olahraga DPR RI Fraksi Demokrat itu sama sekali tak terdengar namanya dalam aksi "tilep uang" para anggota DPR RI di Senayan. Ia justru aktif di dalam kegiatan-kegiatan sosial dan menjadi duta untuk perlindungan satwa langka, orangutan.

Awal mimpi buruk bagi sang Putri Indonesia 2001 tersebut dimulai ketika rekannya Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Nazaruddin menguak satu demi satu rahasia partainya. Ini dilakukan Nazaruddin saat ia telah menjadi tersangka kasus suap Wisma Atlet itu. Dari Singapura saat pelariannya, 16 Juni 2011 lalu, Nazaruddin memberikan kejutan pertamanya pada Demokrat dan publik dengan menyerukan nama Angie bersama I Wayan Koster dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), dan Mirwan Amir bermain dalam pusaran proyek tersebut. Ketiganya dituduh turut menikmati sebagian dana dari total proyek Wisma Atlet senilai Rp 191 miliar.

Pesan-pesan serupa juga terus dilancarkan Nazaruddin melalui BlackBerry Messenger kepada wartawan. Angie disebutnya menerima dana senilai Rp 9 miliar dari proyek itu. Alih-alih mengakui tudingan itu, Angie membantah Nazaruddin habis-habisan. Tak hanya Angie, para koleganya di Demokrat pun membantu menutupi dan membantah aib itu.

"Baik Nazar maupun Rosa tidak pernah bicara ke saya tentang Wisma Atlet. Bicara ke saya aja tidak pernah, apalagi saya minta, atau menerima. Ajaib banget gitu," bantah Angie. Kalimat hampir serupa sejak tahun lalu sering diucapkan Angie ketika ia dituding Nazaruddin.

Angie dan Cerita tentang Apel

Angelina Sondakh, lulusan dari Unika Atmajaya Jakarta, Fakultas Ekonomi Pemasaran ini tak dapat mengelak dari bom waktu kasus Suap Wisma Atlet tersebut. Setelah Nazaruddin tertangkap dan duduk di kursi panas sidang pengadilan Tindak Pidana Korupsi, nama Angelina berkali-kali didengungkan. Salah satu yang menarik perhatian publik adalah istilah-istilah khusus yang diciptakan Angie saat melakukan transaksi keuangan dengan orang kepercayaan Nazaruddin, Mindo Rosalina Manullang. Beberapa di antaranya istilah "apel malang", "apel washington", "semangka", hingga "pelumas". Semuanya memiliki arti sendiri.

Menurut Rosa, istilah "apel malang" berarti "uang rupiah", "apel washington" berarti "dollar AS", "pelumas" berarti "uang", demikian juga dengan arti "semangka" yang menunjukkan "permintaan dana". Ini diungkapkan Rosa saat bersaksi untuk Nazaruddin, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Senin (16/1/2012) lalu.

Menurut aktivis Indonesia Corruption Watch, Donald Fariz, Angelina boleh saja membantah tak terlibat kasus itu. Namun, Komisi Pemberantasan Korupsi, menurutnya, sudah cukup menjadikan keterangan Rosa sebagai ujung tombak untuk meruntuhkan alibi Angie dan mencari keterangan terkait pihak lainnya yang terlibat.

"Sudah hal lumrah tersangka kasus korupsi tidak mengakui kesalahannya. Kerja KPK dalam membongkar kasus tersebut tentu tidak boleh terhenti jika tersangka tidak mengakuinya. Angelina, dalam pandangan saya, dua alat bukti sudah terpenuhi yaknis kesaksian rosa serta alat bukti petuntuk berupa BBM," terang Donald saat dihubungi Kompas.com Sabtu (4/2/2012).

Ia juga menyebut tak hanya istilah BlackBerry Messenger yang diciptakan Angie yang bisa dijadikan bukti, keterangan Yulianis, yang juga orang kepercayaan Nazaruddin, menurut Donald, cukup menguatkan keterlibatan Angelina dalam kasus itu. Yulianis dalam kesaksiannya di persidangan kasus ini di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu (25/1/2012) mengungkapkan tenaga pemasar di perusahaan-perusahaan Nazaruddin biasa mendapatkan proyek pemerintah yang dibahas di DPR. Yulianis mengistilahkan upaya mendapatkan proyek pemerintah tersebut dengan istilah "menggiring proyek".

Untuk urusan menggiring proyek tersebut, menurut Yulianis, ada aliran dana dari Grup Permai kepada anggota DPR. Untuk menggiring proyek wisma atlet, misalnya, Grup Permai mengeluarkan hingga Rp 6 miliar yang antara lain diberikan kepada politikus Partai Demokrat, Angelina Sondakh, dan politikus PDI-P, I Wayan Koster. Angelina, dari pengakuan Yulianis, mendapat jatah Rp 2 miliar atau Rp 3 miliar.

"Ada banyak celah dari keterangan saksi dan petunjuk lain yang relevan terkait dengan kasus tersebut. Keterangan Yulianis juga bisa menjadi alat bukti," tegas Donald.

Siapa Berikutnya?

Siapa berikutnya setelah Angelina Sondakh?pertanyaan itu dilontarkan Donald Fariz. Menurutnya, itu pekerjaan rumah baru untuk Komisi Pemberantasan Korupsi. Keterlibatan aktor-aktor lainnya, kata dia, jangan dilupakan. Terutama nama-nama yang sempat terselip ketika Nazaruddin menyebar informasi baik di dalam persidangan, maupun saat pelariannya ke luar negeri tahun lalu. Dugaan keterlibatan anggota badan anggaran dalam kasus itu, kata dia, juga harus ditelusuri.

"Kita berharap KPK bisa membongkar keterlibatan semua aktor dan nama-nama yang disebut dalam persidangan. Termasuk juga dugaan keterlibatan Anas, peserta kader Demokrat lain dalam kasus tersebut," tutur Donald.

ICW juga mengingatkan Komisi Pemberantasan Korupsi agar fokus juga terhadap aset Nazaruddin maupun Angelina serta tersangka kasus suap Wisma Atlet lainnya yang diduga berasal dari praktek korupsi. Apalagi, berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) Angelina yang diakses di Komisi Pemberantasan Korupsi terlihat bahwa harta anggota Badan Anggaran DPR itu melonjak hingga 10 kali lipat di tahun 2010. Adapun total harta Angelina yang dilaporkan ke KPK pada 2010 mencapai Rp 6,55 miliar ditambah 9.628 dollar AS. Tujuh tahun sebelumnya, harta Angelina hanya Rp 618 juta dan 7.500 dollar AS.

"Hal ini penting dilakukan untuk pengembalian kerugian keuangan negara (asset recoverry)," kata Donald. Kini istri dari (alm) Adjie Massaid itu harus babak baru dalam statusnya sebagai tersangka dalam kasus tersebut. Seperti yang diungkapkannya di akun twitternya Jumat kemarin. "This is not THE END, Its just THE BEGINNING. Politics never fair play".

ICW berharap Angie tak menutup-nutupi kasus Wisma Atlet tersebut, melainkan dituntaskan hingga akarnya.

Sumber : Kompas.com

PEMIMPIN yang doyan nyanyi-nyanyi ternyata bisa menimbulkan malapetaka. Kapal pesiar besar nan mewah Costa Condordia, yang dua pekan lalu na...

PEMIMPIN yang doyan nyanyi-nyanyi ternyata bisa menimbulkan malapetaka. Kapal pesiar besar nan mewah Costa Condordia, yang dua pekan lalu nabrak terumbu karang di lepas pantai Italia hingga kandas dan terbalik, gara-gara Francesco Schettino, sang nakhoda, asyik nyanyi di bar bersama Dominica Cemorman, teman kencannya.

Mudah dibayangkan, sebelum kapal oleng, Sang Nakhoda pasti sedang menikmati puji-pujian karena suaranya. Mungkin ada juga yang menyuruh membuat album lagu seperti Yudhoyono, Presiden RI. Tak perduli pada nasib ribuan penumpang yang semula ingin senang-senang tapi akhirnya harus cemas karena maut mengintai.

Bagi yang suka mengumpamakan Indonesia sebagai kapal besar, tentu saja kejadian yang menimpa Costa Condordia bikin perut mereka mual. Soalnya sang nakhoda, Presiden Yudhoyono, juga senang nyanyi seperti Francesco Schettino. Padahal cuaca (ekonomi, politik, keamanan) di dalam dan luar negeri sedang bermasalah.

Selain kapal, ada juga yang menganggap Indonesia sebagai pesawat. Menjelang kejatuhan Orde Baru, istilah “tinggal landas” sangat populer karena pemerintahan Soeharto sangat yakin tak lama lagi (perekonomian dan tingkat kesejahteraan rakyat) Indonesia akan terbang seperti Korea Selatan, Taiwan, Singapur dan Malaysia.

Pada awal 1997 itu, perekonomian rezim Soeharto memang banyak dipuji lembaga asing. Termasuk Bank Dunia dan IMF. Bahkan negara-negara asing yang banyak merampok kekayaan negara kita meramalkan Indonesia bakal menjadi salah satu “macan Asia”.
Seperti rezim Yudhoyono sekarang ini, pemerintahan Soeharto juga terbuai oleh puja-puji pihak asing. Akibatnya, mereka terlena, lalu tembok kekuasaan yang dibangun puluhan tahun itu pun akhirnya rontok secara tragis.

Soeharto cukup beruntung karena waktu tren mengadili dan menghukum pemimpin yang menyimpang belum muncul seperti sekarang. Sehingga nasibnya jauh lebih baik jika dibandingkan Saddam Hussein, Khaddafi atau Hosni Mubarak.

Tapi benarkah Indonesia sebagai negara-bangsa bisa diibaratkan pesawat? Kalau melihat opini yang berkembang luas di masyarakat, kita memang seperti berada di dalam pesawat. Tapi diset “auto pilot” karena “pilotnya lagi asyik sendiri” menikmati kemewahan di kokpit. Atau, jangan-jangan pilotnya terkunci di toilet seperti dialami pesawat komersial Delta yang terbang dari North Carolina menuju New York, AS akhir November tahun lalu.

Melihat kondisi bangsa yang semerawut seperti sekarang ini, di mana masyarakat menghadapi sendiri persoalan hidupnya, bahkan tak jarang malah harus berhadapan dengan aparatur negara dengan bertaruh nyawa, republik ini memang seperti tak ada yang mengendalikan.

Lembaga-lembaga negara, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif , asyik-asyik sendiri setelah menggasak uang negara. Lalu di mana Yudhoyono yang kepala negara merangkap presiden?

Itulah sebabnya ratusan mahasiswa yang geram, yang menamakan dirinya Geruduc (Gerakan Rakyat untuk Duduki Cikeas) menggelar aksi di komplek rumah Presiden Yudhoyono yang megah. Di hadapan ribuan polisi dan Paspampres, mereka menggelar poster dan spanduk berbunyi: Negeri auto pilot tak perlu presiden. SBY lebih baik di rumah saja.

Ada juga spanduk bertulis: Karena tidak menjalankan kewajibannya sebagai presiden, stop gaji dan fasilitas SBY. Ada lagi: SBY, tak ada gunanya bagi rakyat. Karena itu, bagi mereka, SBY sudah tak perlu lagi ke Istana, karena hanya bikin macet jalanan saja.

Tapi menurut teman saya Sri Palupi, ketua Institute for Ecosoc Righs, Yudhoyono itu pilot andal. Cuma yang diterbangkan pesawat yang salah karena penumpangnya adalah pengusaha asing, koruptor, para komprador dan kroni-kroninya sendiri. Sedangkan rakyatnya ditinggal di landasan yang diguyur hujan badai…

Makanya, teman saya yang Tionghoa makin cemas. Apalagi pada malam tahun baru Imlek 2563 tak ada hujan sama sekali. Padahal bagi masyarakat Tionghoa, hujan di tahun baru indikator adanya berkah.

“Malah memasuki Tahun Naga Air kita dikejutkan oleh ulah sopir mabuk (Apriyani Susanti) yang nabrak belasan orang di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat. Kejadian ini pasti bikin pening orang yang gemar angka “9” (sembilan) karena dari belasan yang diterjang Xenia hitam ini, yang tewas sembilan orang,” katanya.

Jadi apakah ini negeri auto pilot atau sopirnya sedang mabuk? Teman saya bertanya. Tugas Anda menjawabnya

Adi M Massardi

Sumber : jpnn.com

Perubahan pasal-pasal dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 45 melalu amandemen 2002, dinilai menjadi penyebab bangsa kurang mempunyai kemerdekaan...

Perubahan pasal-pasal dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 45 melalu amandemen 2002, dinilai menjadi penyebab bangsa kurang mempunyai kemerdekaan, berdaulat, dan kurang memperoleh keadilan serta kemakmuran.

Demikian kesimpulan pendapat yang disampaikan mantan wapres Try Sutrisno, Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, dan Sri Sultan HB X, dalam Pekan Konstitusi, UUD 1945, Amandemen dan Masa Depan Bangsa, di Kantor International Conference of Islamic Scholars (ICIS),

Menurut Try Sutrisno, yang sangat dirasakan adalah perubahan Pasal 33. Akibat perubahan itu perekonomian nasional cenderung dikuasai pihak asing dan kehidupan rakyat semakin tertekan.

“Dewasa ini semakin banyak keluhan dari masyarakat, telah terjadi bentuk penjajahan baru di Indonesia melalui dominasi asing di bidang ekonomi,” ujar Try Surtrisno.

Hal senada diungkapkan Din Syamsuddin. Dia mencontohkan adanya dominasi asing yang menggusur kepentingan petani, seperti serangan beras, bawang, dan kentang impor pada musim panen sehingga menyebabkan kerugian besar.

“Saya sependapat jika amandemen UUD 45 itu perlu ditinjau kembali oleh MPR,”ujar Din.

UUD 45 sebelum amandemen keempat tahun 2002, menurut Sri Sultan HB X mengamanatkan, tentang sistem ekonomi kerakyatan yang jelas keberpihakannya. Namun melalui amandemen, lanjut Sultan, secara tersembunyi telah dimasukkan sistem perekonomian kapitalistik. Akibatnya dalam penjabaran melalui UU atau peraturan lain, dominasi kapitalisme tidak dapat dihindari.

Akibatnya, kemajuan perekonomian cenderung dinikmati para pemilik kapital yang mayoritas investor asing. “Rakyat hanya menjadi pelengkap penderita dari sistem perekonomian kapitalistik tersebut,”ujar Sultan.

Bergeser

Sebelumnya, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, menilai falsafah demokrasi di Indonesia semakin bergeser jauh dari nilai-nilai hikmat kebijaksanaan dalam konteks yang ideal.

“Permusyawaran digantikan voting, dan sistem perwakilan digantikan oleh pemilihan secara langsung. Dampaknya, representasi kekuatan modal menjadi ukuran bagi layak tidaknya seseorang dicalonkan,” kata Megawati dalam sambutan yang dibacakan Sekjen PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo.

Menurut Mega, anomali ini terus berlangsung bukan dalam wajah demokrasi yang membawa kemakmuran rakyat, melainkan demokrasi yang menampilkan kuatnya pengaruh uang di dalam setiap rekrutmen jabatan publik.

Di sisi lain, rakyat sebagai pemegang kedaulatan hanya menjadi objek semata. Bahkan rakyat semakin terpinggirkan dalam potret kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan.

Persoalan lain, lanjut Mega, yang menggelisahkan rakyat adalah kecederungan negara yang melakukan pembiaran atas berbagai tindak kekerasan. Kekerasan kian merebak dengan intensitas dan eskalasi yang semakin meluas. Hal itu menggambarkan betapa sulitnya untuk mendapat rasa aman.

“Kami melihat rakyat berhadapan dengan rakyat, rakyat berhadapan dengan penegak hukum, dan rakyat berhadapan dengan penguasa, dan para pihak yang hanya mencari keuntungan. Tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama pun semakin sering terjadi dan dengan mudah mereka mengatakan “selamat tinggal kebhinekaan Indonesia.”

Sekretaris Jenderal ICIS, KH A Hasyim Muzadi menyatakan keprihatinan terhadap berbagai problem yang dihadapi bangsa Indonesia, utamanya terkait tindak kekerasan, praktik korupsi, mafia hukum, serta pelanggaran HAM.

“Belum ada jawaban yang tepat, baru komentar, kritik, saling menyalahkan satu sama lain dari jarak jauh. Padahal apabila tokoh bangsa ini bersatu, semua bisa diatasi,” kata Hasyim.

Hasyim mempertanyakan, apakah sistem yang dipakai saat ini selaras dengan pengejawantahan dari butir sila di dalam Pancasila. Apakah Kemanusian yang Adil dan Beradab sudah bergeser kepada tindak kekerasan.

Selain itu, lanjut Hasyim, musyawarah untuk mufakat juga bergeser, yaitu rakyat memilih pemimpin dengan Rp 20 ribu. Begitu juga partai politik yang bertanggung jawab atas masalah bangsa ini.

“Parpol di parlemen sibuk mengukur semua pejabat negara. Tapi belum ada ukuran terhadap kader-kader yang duduk di parlemen,” tandas Hasyim.

Sumber : suaramerdeka.com

Rasanya sangat sakit hati ini: harus bekerja keras untuk menolong perusahaan yang lagi sakit keras, tapi kesulitan itu sebenarnya dibuat sen...

Rasanya sangat sakit hati ini: harus bekerja keras untuk menolong perusahaan yang lagi sakit keras, tapi kesulitan itu sebenarnya dibuat sendiri oleh direksinya. Contohnya, Djakarta Lloyd.

Perusahaan pelayaran yang pernah memiliki grup band terkenal D”Lloyd itu kini bukan main sulitnya. Sampai-sampai tidak mampu membayar karyawannya.

Pemerintah, bersama DPR, sebenarnya sudah berkali-kali mencoba menyelamatkannya. Yakni dengan cara menggerojokkan ratusan miliar uang negara ke dalamnya. Tapi sia-sia. Palung kesulitan Djakarta Lloyd sudah terlalu dalam rupanya. Uang ratusan miliar itu seperti batu kecil yang dilempar ke lautan dalam.

Kini perusahaan itu masih memiliki utang kira-kira Rp 3,6 triliun!

Kalau saja palung kesulitannya tidak terlalu dalam, sebenarnya Djakarta Lloyd masih bisa diselamatkan. Saya tahu caranya. Sewaktu masih menjabat Dirut PLN, saya sudah diminta ikut memikirkannya. Jalan keluar yang disiapkan waktu itu mestinya bisa menyehatkan Djakarta Lloyd dengan cepat: beri saja pekerjaan mengangkut batubara PLN sekian juta ton setahun!

Ternyata, ada masalah: Djakarta Lloyd sudah tidak punya kapal sama sekali. Mau diangkut dengan apa batubara itu? Tentu masih ada jalan lain. Djakarta Lloyd bisa menyewa kapal. Yang penting perusahaan yang sedang pingsan itu segera memiliki aktivitas yang menguntungkan. Agar karyawannya bisa segera gajian. Tapi, cara ini sungguh bukan cara bisnis yang sehat.

PLN sebenarnya bisa juga menolong Djakarta Lloyd agar perusahaan itu bisa membeli kapal. Caranya: PLN menjamin Djakarta Lloyd akan selalu mendapat pekerjaan mengangkut batubara.

Masalahnya: tidak ada lagi orang yang percaya kepada Djakarta Lloyd. Padahal, kepercayaan, dalam bisnis, adalah segala-galanya. Tidak punya uang pun sepanjang masih dipercaya sebenarnya masih bisa membeli kapal.

Tapi, kepercayaan itu sudah lama terempas. Bahkan, secara teknis Djakarta Lloyd sudah tidak boleh memiliki kapal. Begitu ada yang tahu perusahaan ini memiliki kapal, kapal itu akan langsung jadi rebutan: disita oleh orang yang punya tagihan ke Djakarta Lloyd. Membeli lagi disita lagi. Membeli lagi disita lagi.

BUMN memiliki dua perusahaan pelayaran. Djakarta Lloyd dan Bahtera Adhi Guna. Dua-duanya mengalami kesulitan besar. Namun, Bahtera tidak sampai ke kasus hukum sehingga bisa diselamatkan. Yakni dijadikan anak perusahaan PLN. Tugasnya: mengangkut batubara jutaan ton milik PLN.

Ketika PLN ditugasi menyelamatkan Bahtera, perombakan direksi segera dilakukan. Hanya satu direksi lama yang masih dipertahankan. Selebihnya sudah orang baru pilihan PLN. Pelan-pelan kondisi perusahan itu membaik. Bahkan, sejak bulan lalu, Bahtera Adhi Guna sudah memiliki kapal-kapal besar untuk mengangkut batubara.

Tentu, saya tidak mau cara yang sama dipergunakan untuk menyelamatkan Djakarta Lloyd. Saya tidak mau Djakarta Lloyd menjadi anak perusahaan BUMN mana pun. Kasus-kasus utangnya, kasus hukumnya, kasus masa lalunya bisa menyeret induknya sampai ke neraka.

Saya juga tidak setuju kalau negara kembali menggerojokkan uang ke dalamnya. Apalagi saya lihat Komisi VI DPR juga sudah sangat jengkel dengan persoalan seperti ini. Lebih jengkel lagi kalau tahu bagaimana kesulitan itu dibuat oleh para direksinya di masa lalu.

Dan, kasus seperti Djakarta Lloyd ini di BUMN tidak hanya satu.

Sebenarnya, kita harus kasihan kepada direktur utama Djakarta Lloyd yang sekarang, Syahril Japarin. Orangnya cerdas, gigih, dan mau bekerja keras. Dia juga tahan menderita: sejak diangkat menjadi Dirut setahun yang lalu belum pernah gajian.

Dia memang bertekad belum mau mengambil gaji sebelum Djakarta Lloyd mampu menggaji karyawannya. Postur badannya yang kecil dan bakat kurusnya membuat saya lebih iba lagi melihatnya.

Tapi, persoalan Djakarta Lloyd memang terlalu berat. Kalau dipertahankan, pengorbanan tidak gajian itu akan terlalu lama. Bahkan bisa sampai seumur hidupnya. Padahal, dia tidak memiliki pekerjaan lain.

Juga, menurut pengakuannya, tidak memiliki tabungan yang cukup. Nasionalisme dan geregetanlah yang menantangnya untuk mau menjadi Dirut Djakarta Lloyd.

Tapi, persoalannya tidak lagi cukup dengan pengorbanan. Tanggung jawab dan nasib Syahril Japarin sudah persis seperti syair lagu Sam D”lloyd, berjudul “Apa Salah dan Dosaku”:
Aku tak sanggup lagi
Menerima derita ini
Aku tak sanggup lagi
Menerima semuanya
Apa salahku dan dosaku
Sampai ku begini
- ” – ” – ” – ” – ” – ” – ” – ” – ” – ” “
- ” – ” – ” – ” – ” – ” – ” – ” – ” – ” – ” – ” – ” – “
***

Karena itulah, perusahaan BUMN seperti pabrik kertas Leces di Probolinggo atau Industri Kapal Indonesia (IKI) di Makassar harus belajar banyak dari pengalaman Djakarta Lloyd. Dua perusahaan ini juga sangat-sangat sulit. Juga sampai tidak mampu menggaji karyawannya. Namun, masih ada cahaya kecil di kejauhan sana. Cahaya itulah yang harus dikejar.

Dua perusahaan ini tidak akan bisa diselamatkan hanya dengan cara menggerojokkan uang dari negara. Komisi VI DPR memang sudah menyetujui pemberian dana ratusan miliar rupiah kepada keduanya, namun saya memilih membenahi dulu manajemennya. Penggerojokan itu sudah pernah dilakukan, toh tidak bisa menolong banyak.

Karena itu, untuk Leces, saya minta banting setir dulu. Boiler baru yang sedang dibangun itu tidak perlu untuk menggerakkan mesin-mesin kertas. Boiler itu lebih baik untuk membangkitkan listrik.

Saya melihat 4 buah turbin lama yang menganggur di PLN. Masing-masing 10 MW. Ini bisa dipakai di Leces. Setelah menghasilkan listrik 60 MW, listriknya jangan untuk menggerakkan mesin-mesin kertas, tapi dijual saja ke PLN. Industri kertas sekarang lagi sulit. Apalagi ada krisis Eropa dan Amerika.

Dengan menjual listrik ke PLN, setidaknya gaji untuk karyawan akan cukup. Demikian juga pabrik sodanya. Soda itu tidak perlu untuk membuat kertas. Jual saja sodanya ke pasar. Akan ada tambahan penghasilan lagi. Setelah karyawan bisa gajian, perusahaan akan lebih tenang. Manajemennya bisa sedikit bernapas sambil mencari akal apa lagi yang bisa dilakukan. Tentu, saya tetap terbuka untuk ide baru dari direksi dan karyawan Leces yang lebih baik.

Demikian juga IKI di Makassar. Perusahaan ini harus dihidupkan dengan memperbaiki dasar-dasar manajemennya. Bukan dengan tiba-tiba menggerojokkan uang besar-besaran. Perusahaan ini seharusnya tidak sulit. Sebab, pasarnya sangat besar. Banyak kapal yang antre untuk diperbaiki. Masalahnya, dok milik IKI sudah hancur. Dermaganya sudah rusak. Tempat peluncuran kapalnya sudah keropos.

Saya sudah minta perusahaan BUMN yang di Surabaya, PT Dok Perkapalan Surabaya (DPS), untuk turun tangan. Dirut DPS Firmansyah saya tugasi memperbaiki manajemen IKI. Juga menjadi penjamin perbaikan-perbaikan fasilitas dok yang rusak. DPS yang kinerjanya sangat bagus tentu bisa menularkan kemampuannya kepada IKI. Toh bidang usahanya persis sama.

PT Semen Tonasa, BUMN yang ada di Makassar, juga turun tangan. Pabrik semen yang lagi membangun unit yang ke-5 itu membutuhkan crane besar. Kebetulan, IKI memiliki crane yang sudah 10 tahun lebih menganggur. Daripada Tonasa membeli crane lebih baik memanfaatkan crane milik IKI yang sangat besar: 450 ton. Saya minta crane ini disewakan ke Tonasa. IKI bisa dapat pemasukan puluhan miliar.

Bahkan, Dirut Semen Tonasa M. Sattar Taba yang selama membangun tambahan pabrik semen memerlukan tenaga kerja sanggup menampung 100 orang karyawan IKI yang belum bekerja karena masih menunggu perbaikan sarana dok. Kelak, ketika pembangunan pabrik semen sudah selesai, perbaikan dok sudah selesai juga. Mereka bisa kembali bekerja keras di IKI.

Kalau IKI nanti kembali hidup, kapal-kapal di Indonesia Timur yang kalau rusak harus diperbaiki di Surabaya atau Jakarta cukup dikirim ke Makassar. Tentu, saya salut dengan karyawan di Leces dan IKI. Di samping cukup sabar, mereka juga rajin ikut berpikir apa yang terbaik yang bisa dilakukan.

Malam Idul Adha yang lalu saya bermalam di Leces. Paginya, setelah salat Id, saya berdialog dengan karyawan yang ternyata memang sangat memprihatinkan. Hampir 2.000 karyawan tidak memiliki pekerjaan karena mesin-mesin pembuat kertas itu sudah lama berhenti.

Bagaimana galangan kapal IKI Makassar? Saya sudah dua kali meninjau IKI. Tanpa memberi tahu siapa pun. Yang pertama tengah hari. Yang kedua nyaris tengah malam, minggu depannya.

Kedatangan saya yang pertama akhirnya memang diketahui beberapa karyawan. Mereka lantas tergopoh-gopoh bikin poster. Mereka berdemo. Mungkin karena tergesa-gesa, beberapa poster tidak bisa dibaca. Saya pun mendatangi mereka untuk mengingatkan bahwa memegang posternya terbalik.

Sepusing-pusing Leces dan IKI, kelihatannya tidak akan sepusing pabrik gula. Bukan hanya satu atau dua pabrik gula yang sulit. Tapi satu rombongan! Kini ada sekitar 25 pabrik gula milik BUMN yang keadaannya sangat sulit. Akibatnya, Indonesia harus impor gula. Mau diapakan pabrik-pabrik gula ini?

Saya sudah mempelajarinya. Sakitnya pabrik gula ini sudah seperti sakit komplikasi. Mulai dari lahan, tanah, tebang, angkut, giling, bibit, pupuk, rendemen, sampai ke manajemen.

Persoalan ini tidak mungkin lagi dipecahkan lewat keluhan, omelan, marah, seminar, rapat kerja, sidak, atau mutasi pejabat. Karena itu, 5 Februari nanti saya akan mengadakan acara yang saya namakan “bahtsul masail kubro pabrik gula”. Saya terpaksa meminjam istilah para ulama NU itu untuk menandai betapa sudah rumitnya persoalan pabrik gula ini. (*)



Dahlan Iskan
Menteri BUMN

Sabtu, akhir pekan lalu, beberapa media massa mencuatkan pernyataan menarik dari Soetrisno Bachir (Mas Tris). Pada acara pelantikan pengurus...


Sabtu, akhir pekan lalu, beberapa media massa mencuatkan pernyataan menarik dari Soetrisno Bachir (Mas Tris). Pada acara pelantikan pengurus Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB-PII) wilayah Jawa Barat, Mas Tris mengatakan bahwa ”berpolitik itu lebih banyak dosa daripada pahalanya”.



Mas Tris juga mengatakan bahwa dirinya merasa beruntung bisa keluar dari partai politik (parpol) karena dengan demikian bisa mengurangi dosa-dosa. Bahkan seakan hendak memberi fatwa atau petuah layaknya ahli hikmah atau ahli agama, Mas Tris mengatakan keluar dari parpol itu ibarat ”keluar dari kegelapan menuju kecerahan”. Saking yakinnya atas pernyataannya itu, sampai-sampai Mas Tris menggunakan ungkapan yang sangat dekat dengan ungkapan agama yang dipakai saat Nabi Muhammad mengajak masuk Islam kaum Quraisy, yakni agar manusia bisa keluar dari alam jahiliah (kebodohan) menuju alam hidayah (kecerdasan).

Dengan maksud yang sama, dalam khazanah Islam ada ungkapan bahwa Muhammad datang membawa agama Islam adalah untuk mengeluarkan manusia dari alam al-dzulumat (kegelapan atau kejahatan) menuju al-nuur (kebenderangan atau kecerahan). Tak sulit untuk menyimpulkan bahwa menurut Mas Tris berpolitik melalui parpol itu adalah kegelapan alias kebodohan atau jahiliah; keluar dari parpol berarti keluar dari kejahilan atau keburukan. Pernyataan Mas Tris itu tentu merupakan pukulan telak bagi parpol, tepatnya bagi para aktivis parpol.

Bayangkan, parpol dianggapnya sebagai alam kegelapan (jahiliah) sehingga dirinya merasa beruntung bisa lepas dari cengkeraman parpol. Kritik ini tidak main-main karena pelontarnya, Mas Tris, adalah mantan ketua umum sebuah parpol yang cukup punya nama,yakni Partai Amanat Nasional (PAN). Predikatnya sebagai mantan ketua umum PAN memberi bobot tersendiri atas kritik yang dilontarkannya, artinya kritik itu bukanlah gumaman kosong, melainkan berangkat dari fakta empirik yang pernah menerpa dirinya.





Pernyataan Mas Tris pun dikonfirmasi secara kuat oleh realitas politik kita pada saat ini. Harus diakui, sekarang ini, faktanya parpol-parpol memang sedang dalam krisis sebagai pilar aspirasi rakyat, bahkan kerap kali dianggap sebagai simpul kejahatan korupsi, sekurang kurangnya kalau kita dengarkan pendapat masyarakat yang diteriakkan secara garang melalui berbagai media massa.

Persoalannya, bisakah diartikan bahwa mengikuti parpol itu adalah jahiliah dan sesat? Manusia adalah zoon politicon, makhluk yang tak mungkin tak terlibat politik, apalagi jika kata politik dikaitkan dengan istilah polis yang sejak zaman Yunani Kuno berarti negara. Artinya, setiap manusia sejak lahir sudah terikat dalam sebuah organisasi negara (polis) sehingga tak mungkin hidup di luar negara.

Berpolitik dalam arti tertentu adalah melakukan kegiatan untuk memengaruhi kebijakan (policy, politik) negara karena kebijakan negara itu menyangkut kepentingan bersama. Dengan demikian pernyataan Mas Tris tidak boleh diartikan–– dan memang pasti tidak dimaksudkan––bahwa kita harus menjauhi politik. Berpolitik itu merupakan keniscayaan, tetapi berpolitik memang tidak harus melalui parpol. Di dalam studi ilmu politik, ada perbedaan antara organisasi atau partai politik dan gerakan politik.

Memengaruhi kebijakan publik (berpolitik) bisa juga dilakukan tanpa harus melalui parpol, melainkan melalui gerakan politik seperti melalui ormas, LSM, lembaga pendidikan atau bentuk-bentuk lain. Dalam konteks inilah kita memahami petuah Mas Tris, yakni dalam konteks: berpolitik tanpa harus masuk partai politik. Persoalan berikutnya, apakah dengan demikian parpol, yang dianggap sebagai biang penyakit koruptif, harus ditiadakan? Inilah yang tak mungkin dan tak boleh terjadi.

Di dalam negara demokrasi adanya parpol merupakan keharusan. Tak dapat dibayangkan demokrasi bisa berjalan tanpa parpol. Itulah sebabnya konstitusi, di mana pun, selalu memberi tempat penting pada parpol. Negara demokrasi tanpa parpol dapat mendorong munculnya pemerintahan yang sewenang-wenang. Oleh sebab itu, lebih baik ada parpol meskipun jelek daripada tidak ada parpol.

Yang paling penting sebenarnya bukanlah meniadakan parpol, melainkan memperbaiki parpol-parpol agar bisa bekerja sesuai dengan filosofi diadakannya parpol itu menurut konstitusi. Harus disadari, kemarahan Mas Tris dan jutaan orang lainnya terhadap parpol-parpol hanyalah tertuju pada parpol-parpol yang sekarang dan di sini. Tidak selamanya parpol itu jelek, tidak di seluruh dunia parpol itu buruk.

Di Indonesia pada masa lalu, sebutlah pada tahun 1950-an, kita memiliki parpol-parpol yang cukup efektif membawa aspirasi dan membela kepentingan rakyat. Di berbagai negara demokrasi sekarang ini banyak parpol yang mampu menampilkan dirinya sebagai pengemban amanat konstituennya. Jadi masalahnya adalah parpol sekarang dan di sini, bukan dulu dan di semua tempat lain. Kenyataan ini harus diartikan bahwa parpol itu bisa baik kalau mau dijadikan baik.

Tinggal-lah kesadaran dan iktikad baik para aktivisnya untuk memperbaikinya, sebab semua kebutuhan untuk menjadi baik telah disediakan oleh konstitusi negara kita. Upaya perbaikan internal parpol-parpol menjadi sangat penting, sebab kalau begitu begitu terus biasanya ada arus perubahan yang datang dari masyarakat dengan pemaksaan yang tak bisa dihindari. Ada pepatah, kalau demokrasi itu tidak diberi jalan, dia akan membuka jalannya sendiri. 
MOH MAHFUD MD Guru Besar Hukum Konstitusi 

Sumber :
21 January 2012

Rekan sejawat saya, seorang profesor di Taiwan, mulai memelihara ikan hias. Dia beli ikan arwana ukuran sedang.Warnanya merah, dikelilingi g...

Rekan sejawat saya, seorang profesor di Taiwan, mulai memelihara ikan hias. Dia beli ikan arwana ukuran sedang.Warnanya merah, dikelilingi garis-garis kuning. Profesor yang lainnya tak mau kalah, tapi ia memelihara ikan discus berwarna kuning.


Di akuarium itu ia memasang tanaman- tanaman air seperti yang sering kita lihat di sini.Ditambah batu-batuan berwarna, karang-karang kecil, pasir,dan sepotong kayu yang membuat akuarium terlihat indah. Sejak keduanya memulai itu, ratusan orang mengikutinya dan sekarang menjadi tren.

Hal serupa rupanya terjadi di negara-negara yang memiliki diaspora imigran dari China, tak terkecuali di Singapura, Malaysia, Filipina, dan Indonesia. Ikan-ikan hias asal Indonesia seperti arwana, discus, tetra, lohan, dan sebagainya yang berwarna merah dan kuning akan ramai diborong di tahun Naga Air yang mulai berlangsung pekan depan.

Tahun Pembersihan

Banyak ahli ramal yang percaya (saya sendiri kurang memercayai kalau horoskop dikaitkan keberuntungan) bahwa tahun Naga Air adalah tahun cerah, meski tak sedikit yang bakal kesulitan. Setiap ramalan sudah pasti tidak lepas dari sejarah dan kepribadian peramalnya. Setiap peramal pun berinteraksi di antara mereka, dan semakin hari semakin terkait dengan orang-orang yang minta diramal.

Mereka juga berinteraksi dengan media massa dan media jejaring sosial,sehingga pastilah saling memengaruhi satu sama lain. Para peramal itu juga mengaitkan dengan apa yang baru terjadi pada 2011. Mereka mengatakan, pada 2011 banyak musibah dan banyak bisnis di dunia yang mengalami kesulitan.Seorang ahli fengsui yang banyak dikutip warga keturunan Tionghoa http://www.- qualife-fengshui.com, bahkan mengaku sempat mengingatkan setahun lalu dia melihat dua buah bintang jatuh.

Akhir tahun lalu dia menyimpulkan (tentu saja setelah kejadian) bahwa ramalannya tepat. Satu bintang itu menandakan badai tsunami yang memorak-porandakan pulau di Jepang, dan satu lagi membuat banjir besar di Thailand. Mereka mengatakan enam bulan pertama di tahun Naga Air ini keadaan ekonomi dan alam masih berat, tetapi enam bulan berikutnya, awan gelap mulai pergi.

Ramalan ini agak mirip dengan omongan seorang paranormal yang setiap tampil kelihatan agak bodoh (tapi mobilnya hebat-hebat dan kliennya orang-orang terkenal). Ia mengatakan,tahun Naga Air itu sifatnya menjernihkan, mendinginkan. ”Jadi yang sifatnya panas di tahun 2011 akan jadi tenang di tahun ini.” Seorang empu fengsui lain sepakat dengan apa yang saya baca di sebuah web, bahwa tahun Naga Air itu seperti mempertemukan tanah yang keras dengan air yang melunakkan. Tanahnya menjadi lembek.

Kalau tak kuat betul, fondasi yang tipis dapat meluluhlantakkan bangunan besar. Jadi supaya hidup aman, alam ini harus diharmoniskan.Maka dari itulah mereka menyarankan agar pengusaha memelihara ikan hias di akuarium sebanyak sembilan ekor dengan lima unsur alam: ikan, air, tanah,tanaman,dan bebatuan. Kadang saya merasa lucu juga melihat orang-orang yang memercayai ramalan-ramalan seperti ini.

Bukankah hidup ini bukan sekedar horoskop? Tetapi begitulah, lebih banyak orang yang memercayainya daripada tidak. Dulu, sewaktu membangun rumah, saya juga tidak mempercayai fengsui. Tetapi saat kedatangan tamu seorang yang mengerti fengsui, dia mengingatkan saya ”Kalau enggak dituruti, nanti rumah Bapak sulit dijual.”

Saya tetap bergeming, tetapi teman-teman saya mendesak agar diikuti saja. Belakangan ahli fengsui itu geleng-geleng kepala. ”Saya heran, rumah ini dibuat tanpa rumus fengsui, tapi sudah fengsui. Jadi tidak perlu ada yang diubah kecuali memasang gantungan yang bisa berbunyi di depan pintu,”ujarnya.

Ekonomi Imlek

Jadi tahun Naga Air bagi sebagian orang adalah tahun pembersihan diri. Sebagai ketua Aksi (Asosiasi Kewirausahaan Sosial Indonesia) tentu saya percaya pembersihan diri dan menjadi lebih peduli itu penting. Lihat saja empat tahun terakhir ini kita disajikan tipuan-tipuan ekonomi kelas dunia yang luar biasa.

Eksekutif-eksekutif yang rakus di Wall Street tetap berpesta pora dengan bonus jutaan dolar dari biaya masyarakat pembayar pajak yang kehilangan pekerjaan garagara ulah mereka. Jago-jago keuangan, sarjana- sarjana hebat, sampai pejabat ikut-ikutan mencuri. Bahkan di New York, Detroit, Madrid, dan Paris saja kapitalisme tengah menjadi bulanbulanan demo besar gara-gara orang-orang yang rakus dan ingin cepat kaya itu.

Di Indonesia sama saja. Para politisi kehilangan respek karena mencuri uang rakyat. Belakangan rektor sebuah universitas negeri yang juga mahaguru pun dilaporkan masyarakat atas perilakunya yang menggunakan uang mahasiswa untuk urusan fitnes dan membiayai piaraannya (pets). Sudah begitu, dia pun dilindungi sejumlah menteri dan pejabat tinggi.

Bahkan ada yang bilang kerugiannya masih kecil, bagaimana kalau yang kecil itu bermuara jadi besar? Bukankah itu melanggar kepatutan? Rakyat masih harus berteriak keras untuk mendapatkan keadilan. Usaha-usaha kecil dan besar juga banyak yang masih berbohong. Belum berusia genap 5 tahun dan belum tentu bisnisnya untung, usaha baru sudah berani di franchise-kan.

Pelaku usaha yang besar sama saja, banyak yang mengambil tanah rakyat melalui tangantangan kotor. Nama-nama seperti Gayus,Nazaruddin,dan Malinda Dee menjadi headlines sepanjang hari. Setelah itu di tahun 2011 hidup kita dikuasai debt collector,preman berjubah agama,SMS sedot pulsa,tipuan melalui ATM, sampai perampasan- perampasan besar.

Jadi apalagi yang harus dilakukan kalau bukan pembersihan diri dan membangun ”giving culture”? Itu perlu dilakukan kalau Anda tak menginginkan anak-cucu sendiri menjadi korban di jalan seperti tragedi yang dialami oleh seorang anak balita yang tahun lalu ditabrak mobil di China, dan didiamkan oleh sembilan orang yang melewati anak itu setelah kejadian. Yua-Ywe, nama anak itu, akhirnya tewas beberapa hari kemudian.

Dari sebab itulah eksekutif harus bisa turut membangun bangsa dengan mengembangkan ”giving culture” sekaligus mentransformasi budaya perusahaan dari I-Centric (berpusat pada individu dengan performance management- KPI), menjadi We-Centric (berpusat pada kepentingan yang lebih luas, dengan mempertimbangkan apa akibatnya bagi kita semua).

Transformasi ini diperlukan untuk mengembalikan rasa aman dan membuat hidup ini lebih harmonis. Para ahli juga mengatakan, semakin ke sini ekonomi imlek akan semakin meriah.Di luar Asia, Imlek mulai dirayakan oleh berbagai bangsa lain. Di Amerika Serikat dan banyak negara Eropa, ornamen-ornamen imlek dan barongsai semakin kental mencuat. Bangsa-bangsa di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia, juga sudah mulai bisa memetik keberuntungan dari libur panjang yang jatuh pada hari Senin besok.

Pesawat-pesawat terbang yang menjalani ruterute ke daerah-daerah tertentu di mana diaspora warga keuntungan Tionghoa berada mulai padat. Di Kuala Lumpur, saya membaca Malaysia Airlines telah menambah 32 penerbangan ekstra sebelum dan setelah perayaan Imlek untuk mengakomodasi permintaan.

Menurut harian India Today,di China sendiri, airlines dipaksa menambah 14.000 (betul, empat belas ribu) tambahan jadwal penerbangan selama festival musim semi (Imlek) berlangsung. Orang-orang Asia ini memang sedang kelebihan uang. Berbeda dengan saudara-saudara kita di Eropa dan Amerika yang selain tengah kedinginan juga kesulitan. Harap diingat, bagi orang Asia, Naga adalah simbol shio terkuat, puncak.

Naga adalah lambang dari kesejahteraan, keberuntungan, dan kemakmuran. Diramalkan, rumah-rumah sakit bersalin akan kebanjiran pasien yang ingin agar anaknya lahir pada tahun shio naga. Bahkan menurut majalah Business Week, permintaan terhadap produk-produk bayi diramalkan akan menjadi penggerak ekonomi yang penting.

Di Amerika Serikat saja, diberitakan sejak November lalu sudah di cetak uang kertas dengan tema khusus, Year of Dragon – dengan nomor seri dimulai dengan angka 8888.Uang khusus ini bisa dipesan pada www.moneyfactorystore.gov.

Akhirnya saya ucapkan selamat menyambut tahun baru Imlek. Kita semua tentu sepakat, pembersihan diri itu penting, agar tetap selamat dan sejahtera. Gong Xi Fat Chai!” 

RHENALD KASALI Ketua Program MM UI

seputar-indonesia.com