berbagi informasi tentang Public Service. sementara fokus pada Pelayanan publik di Kota Semarang

Showing posts with label Sosial. Show all posts

Waktu menjadi mahasiswa saya pernah ikut program pendidikan pers kampus dengan pengajar tokoh-tokoh pers perjuangan. Salah satu favorit saya...


Waktu menjadi mahasiswa saya pernah ikut program pendidikan pers kampus dengan pengajar tokoh-tokoh pers perjuangan. Salah satu favorit saya adalah topik wawancara yang saat itu diberikan wartawan senior TVRI, Toeti Adhitama. Ketika wartawan-wartawan lain tengah asyik dengan investigative news report yang agak provokatif, Toeti justru memberikan prespektif yang berbeda. Baginya, wawancara “is a love story”.

Ya, love story. Wawancara dilakukan dengan cara empati dan tidak bertendensi mengadili, apalagi sudah berprasangka. Tetapi pertanyaannya, masih adakah ruang “untuk tidak mengadili” di negeri ini? Dimana-mana saya melihat televisi lebih senang mengikuti cara berpikirnya sendiri. Konflik, adu kuat, bahkan adu pintar. Pewawancara adalah model pencitraan yang dibentuk oleh produser sebagai orang yang berpengetahuan, pandai, namun sama sekali tidak netral.

Kita pun larut dalam kekuatan “personal branding” program dan host, sedangkan narasumber berebut kekuatan. Ada kesan kalau ingin sering diundang televisi maka narasumber harus kuat dengan retorika, berani mengadili rekan bicaranya, berani tunjuk, ngomong yang seolah-olah faktual, cerdas dengan kemampuan argumentasi tak terkalahkan. Pengamat menjadi tak mau kalah kuat dari ahli hukum dan politisi yang sangat berani “berkelahi” dan genit di depan kamera.

Tak ada lagi “love story” disana. Yang ada adalah saling mem-bully. Kata musisi Iwan Fals, “Kalau cinta sudah dibuang, jangan harap ada keadilan”. Seperti itulah yang terjadi. Kita pun senang melihat tokoh-tokoh publik diadili, di bully karena setahu kita pengadilan tidak bekerja, politik tak punya perhatian pada kita, kejujuran telah sirna. Dan “love story” itu pun lenyap.

Media lebih senang menyajikan konflik dan ketegangan, pertempuran antar orang yang bertengkar. Makin kuat tengkarnya, makin tinggi share dan ratingnya televisi. Yang saya khawatirkan sebenarnya lebih dari ruang televisi, yaitu apa akibatnya terhadap kehidupan kita sehari-hari? Yang saya rasakan bukannya assertiveness yang muncul, melainkan aggressiveness.

Resistance To Change

Apa bedanya?

Jelas keduanya berbeda. Masyarakat demokrasi harus dibayar dengan assertiveness, yaitu manusia-manusia yang mampu mengungkapkan isi pikirannya dengan jelas, respek pada dirinya sendiri, namun tetap respek terhadap orang lain. Respek itu dinyatakan dengan mendengarkan, berempati, dan waktu yang cukup untuk menjelaskan. Sedangkan aggressiveness sama sekali tidak mengedepankan respek terhadap orang lain. Manusiaagressive hanya tertarik dengan self-interest nya. Ia ingin terlihat pandai, cantik, hebat, kaya, paling tahu dan seterusnya namun tak peduli orang lain yang dipermalukan atau tidak, tidak punya waktu yang cukup untuk mengungkapkan isi pikirannya dengan jelas.

Lantas bisakah ini dibangun dari pertelevisian komersial? Tentu saja sulit. Televisi komersial memiliki cara kerja sendiri, yang mengacu pada kepentingannya untuk hidup, yaitu program rating, share dan seterusnya. Dan celakanya, semakin sensasional, semakin kental konfliknya, maka ratingnya semakin tinggi. Semakin hari semakin banyak orang yang terkubur dalam retorika konflik karena terbukti menjadi semakin terkenal.

Dalam dunia hiburan hal senada juga tengah terjadi. Artis saling memukul, menampar betulan di depan kamera, saling melapor polisi, mengumbar masalah keluarga dan anak, test DNA, sampai calon-calon artis yag membuka aibnya di depan publik.

Di jalan raya, saya sering menyaksikan umpatan-umpatan serius yang semakin mudah diucapkan orang untuk mengutuk orang lain. Di dunia akademis saya semakin sering melihat orang yang mudah berucap hanya dengan fakta sepenggal yang belum tentu ada kebenarannya. Validitas dan reliabilitas yang menjadi acuan dunia ilmiah tak lagi dipegang. Ini adalah modal besar bagi terbentuknya resistensi-resistensi terhadap perubahan. Semakin agresif, semakin resisten dan menolak pembaharuan tanpa alas an jelas.

Rhoma Irama

Nah minggu lalu saya mengambil inisiatif untuk menggali narasumber yang penuh kontroversial. Sejak mewacanakan dirinya menjadi capres, nama Rhoma Irama kembali jadi perbincangan publik.

Untuk keperluan program tivi yang saya asuh di TVRI tentu saja saya tidak akan keluar dari title program, yaitu perubahan. Sedangkan pada sosok Rhoma saya menyaksikan sosok yang merevolusi musik irama melayu yang dulu hanya menggunakan akustik biasa (gendang, akordion, suling) menjadi musik dengan power listrik yang begitu kuat bahkan dikawinkan dengan rock yang diterima secara luas.

Rhoma tentu sudah tak muda dulu, usianya sudah 66 tahun. Era dangdut yang dulu ditimpuki batu sudah ia lewati. Dari music yang dituding “tahi anjing” oleh kalangan pecinta rock di tahun 1970-an, menjadi “sesuatu”. Dan Wamendikbud, Wiendu Nuryanti saya mendengar dangdut ia daftarkan sebagai warisan kekayaan budaya asli Indonesia tak benda ke UNESCO.

Namun bicara tentang Rhoma tentu saja mustahil tak membicarakan tentang wacana pencalonan dirinya sebagai Presiden. Ini tentu mustahil. Tetapi saya beruntung program saya disiarkan oleh Lembaga Penyiaran Publik TVRI yang tak punya kepentingan-kepentingan komersial. Saat itulah “love story” bisa digunakan. Untuk apa?

Untuk menjual Rhoma agar menjadi Presiden? Tentu bukan. Untuk meningkatkan nilai jual ke ”raja” annya? Juga tidak! Lantas? Tentu saja untuk mengedepankan perdamaian. “Love story” interview bisa digunakan untuk mereduksi salah tafsir, ekstreemitas dan tentu saja konflik-konflik kepentingan. Saya sungguh merasakan nikmatnya hidup tanpa prasangka. Dari mulut sang raja mengalirlah ungkapan hatinya. Yang boleh Anda curigai, namun dari jarak dekat saya merasakan kejujuran. “Kalau seorang rasis, dia bukan Islam,” begitu ujarnya.

Indonesia perlu menata pribadi-pribadi manusia-manusianya, menata hati, menata karakter. Dan televisi punya peran yang sangat besar membentuk karakter-karakter bangsa. Kita perlu mengubah manusia-manusia aggressive menjadi assertive yang cerdas dan berhati mulia. Dan itu hanya bisa dilakukan kalau televisi publik kita terus diperbaiki seperti saat ini.

Rhenald Kasali (@Rhenald_Kasali)

Founder Rumah Perubahan (@rumah_perubahan)

Sumber : penulisperubahan.com

Tak dapat dipungkiri bahwa televisi telah menjadi aktor penting yang mengubah peradaban manusia Indonesia 20 tahun terakhir ini. Harus diaku...


Tak dapat dipungkiri bahwa televisi telah menjadi aktor penting yang mengubah peradaban manusia Indonesia 20 tahun terakhir ini. Harus diakui bahwa bangsa ini belajar demokrasi versi tv, ketimbang versi akademis. Melalui televisi pula, manusia Indonesia melompat ke peradaban modern, mulai dari kartu kredit, ATM, sepeda motor sampai pulsa telefon. Dan, harus diakui sejarah pembentukan brand tidak pernah luput dari televisi. Seseorang yang belum tampil dan menjadi perhatian publik di televisi, belum menjadi “brand“. Demikian pula dengan hasil-hasil karya kewirausahaan, belum menjadi “brand“-kendati sudah mempunyai logo. Namun tampil ditivi, tanpa aura positif dan content yang kuat, hanya akan menjadi gunjingan.


Dalam buku Camera Branding, saya menyinggung pula kehadiran brand kuat yang tak bisa lepas dari person tertentu. Siapa misalnya yang bisa memisahkan Microsoft dari Bill Gates, atau Apple dari Steve Jobs. Atau siapa yang bisa memisahkan Maspion dari Alim Markus, Mustika Ratu dari Moryati Soedibyo, Garuda Indonesia dari Emirsyah Satar, dan seterusnya. Peradapan social tv tidak hanya menyuarakan product atau corporate branding, melainkan juga personal branding.

Indonesia memiliki banyak ekonom, tetapi mengapa yang branded hanya dua-tiga nama. Demikian pula fisikawan, sejarawan, sosiolog, psikolog, lawyer, bahkan ustaz, ulama, ahli tafsir dan seterusnya. Jutaan anak muda di seluruh dunia saat ini bukan lagi sekedar bekerja atau berwirausaha, melainkan membangun brand. Mereka tak mau lagi diperbudak oleh perangkap “komoditi” seperti yang dihadapi Negara-negara berkembang yang produk buatannya hanya dihargai $1-$10, sementara barang yang sama yang dibangun brand-nya bisa dihargai 4 hingga 50 kali lipat. Dalam Camera Branding, ada dua kekuatan yang harus dibangun yaitu cameragenic dan auragenic.

Cameragenic

Karena gambar ditangkap dengan mata oleh pemirsa televisi di rumah, maka setiap objek yang tampil di televisi harus atraktif. Atractiveness akan menentukan apakah pemirsa ingin terus melihat atau cepat merasa bosan. Pemilihan warna, penampilan yang tidak membosankan, setting panggung yang menarik dan cara berpakaian yang tidak berlebihan, serasi harus menjadi perhatian. Bila cameragenic mengesankan atraktif secara fisik dengan tingkat familiritas yang memadai (berkali-kali ditampilkan dengan beberapa penyegaran), maka satu hal yang sering dilupakan generasi muda saat ini adalah auragenic.

Auragenic

Auragenic adalah ‘apa yang dirasakan” pemirsa. Auragenic tidak bisa didapat dari objek yang diam. Karena televisi mendeteksi gerakan, maka ia menciptakan interaksi. Dalam interaksi itu dibentuk rasa, apakah orang lain merasa nyaman atau tidak dengan kehadiran diri atau produk anda. Aura adalah sesuatu yang keluar dari interaksi itu.

Apa saja sumbernya?

Aura bersumber dari sifat yang dibawa oleh seseorang. Bila seseorang berpandangan dan berperilaku negative, maka ia dapat menimbulkan aura negative. Demikian pula sebaliknya. Jadi pertama-tama adalah aura yang berasal dari pikiran seseorang, yang dikendalikan atau tidak. Orang-orang yang memiliki auragenicbiasanya menekan sikap-sikap negatif yang ada pada dirinya: merasa diperlakukan tidak adil, menyimpan dendam, tidak terpilih, rasa dikalahkan, iri hati, arogansi, menuntut perhatian berlebihan, dan seterusnya.

Dari sikap seseorang pulalah sebuah naskah iklan dihasilkan. Orang-orang beraura negatif akan menghasilkan iklan-iklan yang provokatif, yang menganggap dirinya atau produknya lebih baik, namun menimbulkan antipati publik. Dan produk yang demikian hanya akan diterima oleh orang-orang dengan aura yang sama.

Auragenic juga terwujud dari reaksi seseorang terhadap ucapan-ucapan orang yang ada disekitarnya. Apakah dari host, nara sumber lainnya, atau telepon yang masuk. Ini akan tampak dalam bagaimana seseorang merespons pertanyaan, komentar melalui ucapan, intonasi, getaran tangan, atau bahasa tubuh lainnya. Seseorang yang secara atraktif belum tentu memiliki auragenic yang kuat, demikian pula sebaliknya.

Melatih aura harus dimulai dari pikiran yang jernih, objektif yang jelas dan bersih, self awareness yang kuat serta self confidence yang memadai.

Baik cameragenic maupun auragenic bisa dipelajari dengan memperhatikan bagaimana para aktor menguasai seni peran. Belajarlah dari tokoh-tokoh yang disukai dan jauhkanlah televisi atau layar tweeter anda dari pesan-pesan orang yang memiliki luka batin, sebab aura negatif mereka akan ikut membentuk anda.

Rhenald Kasali

Posted on 11 Februari 2013 by penulisperubahan

Yang ada hanya pikiran2 sederhana, cari jalur alternatif yg gak kena banjir atau hijrah ke wilayah Semarang yg lebih tinggi semisal Gunungpa...


Yang ada hanya pikiran2 sederhana, cari jalur alternatif yg gak kena banjir atau hijrah ke wilayah Semarang yg lebih tinggi semisal Gunungpati atau Mijen.

Yang mikir dikit, pilih ngomel-ngomel salahkan kinerja pemerintah yg tidak becus. ngeluh tentang buruknya drainase.




Seharusnya bukan cuma pasrah & ngomel yg bisa kita  lakukan. karena di negeri Ini rakyat adalah pemegang kekuasaan tertinggi. rakyat itu siapa? ya kita-kita ini. Mungkin masih sulit dipercaya bahwa kita  punya 'power' sebesar itu.

yah, memang benar.. terlalu lama dijajah menjadikan mental kita jadi cemen. Hanya bisa
pasrah menerima derita2 yang sebagiannya disebabkan oleh penguasa.

Jalan rusak, rumah banjir cuma bisa pasrah. duit pajak dicaplok pejabat juga pasrah. Dana proyek
pembangunan disunat juga pasrah.. fiuhh #hopeless

Seperti singa bermental domba. sebenarnya kuat&berkuasa tapi untuk sekedar mengaum saja tak bisa. lalu bagaimana seharusnya rakyat menjalankan kuasanya??

Saya yakin, kita masih hafal dengan sila ke 4 Pancasila. Kerakyatan yg dipimpin oleh Hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan PERWAKILAN

kita jalankan kekuasaan kita melalui WAKIL kita di DPR & DPRD. Wakil kita inilah yg tentukan berapa prosentase anggaran yg digunakan untuk mengatasi banjir, pengentasan kemiskinan dan lain sebagainya.

Selama ini bisa jadi kita merasa tidak punya wakil yang bisa suarakan aspirasi kita. wajar, karena Pemilu saja kita tak berpartisipasi (bagi yg golput). secara tidak langsung kita -- saya anggap yang baca tulisan di blog ini adalah kelas menengah ke atas yg punya kemudahan untuk akses informasi -- membiarkan terpilihnya Anggota Dewan yang main curang. Saya katakan curang karena mereka beli suara rakyat kelas bawah. harganya berapa? variatif di kisaran 50rb.

Wakil rakyat model kayak begini ini yang bikin sengsara.. yg ada di pikiran mereka cuma cari cara biar cepet balik modal. Setiap pembahasan anggaran, mereka gak setujui kalo belum dapat bagian. uang pelicin dengan sebutan "susu segar" atau "apel" diambil dari uang rakyat juga. percaya gak percaya besarannya milyaran mas bro.. Belum lagi kalo mereka minta jatah proyek, dijamin anggarannya bengkak tapi pengerjaannya asal-asalan.

Tahun ini orang-orang yang mau jadi anggota dewan mulai kelihatan. mulai sekarang pelajarilah mereka satu persatu. masih ada satu tahun untuk lakukan pengamatan terhadap orang-orang ini.

Harapan tak boleh padam. sekecil apapun berikanlah kontribusi.

Berdasarkan rapat pleno KPU Jakarta Selatan di Hotel Maharadja, Mampang, Jaksel, Selasa, (17/7/2012), diketahui warga yang tidak menggunakan...



Berdasarkan rapat pleno KPU Jakarta Selatan di Hotel Maharadja, Mampang, Jaksel, Selasa, (17/7/2012), diketahui warga yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam Pilkada alias golput, berjumlah 559.201 pemilih dari total daftar pemilih tetap (DPT) yang berjumlah 1.506.981 pemilih.

Sementara yang menggunakan hak pilih ada 947.780 pemilih atau 62,89 persen dari total pemilih yang tercatat dalam Daftar Pemilih Tetap KPU Jakarta Selatan. Artinya ada 37 persen warga yang tidak memilih. Hal yang sama dijumpai juga di wilayah lain, dimana jumlah golput lebih tinggi dari perolehan suara semua pasangan kandidat.

Menurut Ketua Pokja pemungutan suara, Sumarno, hal tersebut salah satunya disebabkan karena publik kurang percaya dan berasumsi setiap calon gubernur tidak bakal mendatangkan perubahan bagi Jakarta.

"Ada beberapa kemungkinan banyaknya masyarakat yang memilih golput, misalnya ketidakpercayaan terhadap pejabat negara yang korup, masalah sosialisasi yang kurang, dan ketidakpercayaan terhadap partai politik," ujar Sumarno, Selasa. "Apalagi masyarakat Jakarta banyak yang kritis dan terdidik," lanjutnya.

Menanggapi tingginya angka golput dalam pilgub di Jakarta Selatan yang mencapai 37 persen, KPU Jakarta Selatan, Ahmad Fachrudin usai rapat pleno rekapitulasi perolehan suara tingkat Kota Jakarta Selatan, menerangkan bahwa banyak masyarakat berpendidikan di Indonesia namun tidak berarti melek politik. Justru ada kecenderungan mereka tidak menyampaikan aspirasi politiknya.

"Saya kira faktor yang paling memicu adalah banyaknya kelas menangah di Jakarta Selatan. Mereka berpendidikan dan berpenghasilan cukup namun belum tentu peduli dengan aspirasi politiknya," ungkapnya

Sumber : kompas.com

  Negeri yang serbaterlibat itulah Indonesia. Tak peduli siapa pun yang berpesta, kita adalah seksi repotnya. Tak peduli apakah itu Piala ...

 
Negeri yang serbaterlibat itulah Indonesia. Tak peduli siapa pun yang berpesta, kita adalah seksi repotnya. Tak peduli apakah itu Piala Dunia, Piala Eropa, tak peduli apakah di dalamnya ada atau tidak Timnas Indonesia, tapi selalu ada satu yang bisa dipastikan ada: yakni nonton bareng.
Sepertinya, nonton bareng itulah prestasi yang pasti kita raih di ajang pentas-pentas besar dunia. Kalau pun ada prestasi tambahan, paling-paling itu berupa kemungkinan menggelar acara nonton bareng dengan penonton terbanyak sambil berharap museum rekor mau mencatatnya.
Bangsa spesialis nonton bareng itu sungguh gelar yang harus diwaspadai. Artinya, kecanduan cuma menjadi penonton, tetapi tidak kecanduan berprestasi itu adalah bahaya yang nyata. Bagaimana mungkin di dalam kebiasaan menonton terdapat candu? Mari kita lihat psikologi sebagai penonton berikut ini.
Pertama, inilah posisi yang tak usah direbut pasti kita akan kita peroleh. Jadi ada satu jenis posisi yang demikian menggoda untuk siapa saja, dengan modal apa saja, bahkan hanya dengan modal nekat saja juga boleh, dan pasti terlaksana niatnya: yakni meraih posisi sebagai penonton. Lalu kedua, bayangkanlah, kalau seseorang sudah ada di bangku penonton. lihatlah seluruh ekspresinya. Bebas berteriak. Bebas mengumpat, bebas memaki, dan akhir-akhir ini, seperti bebas apa saja, dari melempari batu, sampai tawuran, dan bahkan tawur pun kepada rekan suporternya sendiri. Jika di dalam fraksi politik yang sama ada faksi, para suporter klub yang sama pun pecah dan perlu beroposisi.
Jadi cuma di dalam diri seorang penontonlah terdapat kegembiraan yang begitu penuh dengan modal yang begitu minimal. Penonton tidak perlu breprestasi. Tak peduli  yang menang adalah pihak lain, sepanjang pihak lain itu diidentifikasi sebagai dirinya sendiri, ia akan bisa kegirangan bak kesurupan. Begitu gembiranya, sampai ia tak harus berpikir tentang keadaan apakah keluarganya sedang punya beras, apakah SPP-nya sudah lunas, apakah rumahnya kontrakan atau kreditan. Kenyataan di depan sini, kalah oleh keindahan di kejauhan sana.
Jadi inilah seasyik-asyiknya hidup itu. Ia tak terikat oleh target-target, kecuali target yang berbasis halusinasinya sendiri. Inilah fenomena fly sosial dan teler kebudayaan, sebuah kebiasaan yang sanggup menggembirai sesuatu yang sebetulnya tidak nyata, tidak ada, tidak berkaitan dengan dirinya sendiri. Proses identifikasi semacam ini amat berbahaya, karena ia bisa menganggap sebuah klub adalah dirinya, seorang idola adalah hidup matinya, sebuah pertandingan adalah ritual yang harus dibela hidup dan mati.
Begitu totalnya teler kebudayaan ini diperagakaan sampai-sampai seseorang sama sekali tidak punya ruang untuk mengurus dirinya sendiri, mengurus prestasinya sendiri. Dan apa jadinya, jika diam-diam, bawah sadar kita sebagai bangsa, sudah mulai mengalami abrasi kebudayaan seperti ini. Sangat menggemberiai posisinya sebagai penonton, dan prestasi terbaik yang bisa diraih hanyalah nonton bareng.

Prie GS

Sumber : Suaramerdeka.com

Tanggal 31 Mei ini, dunia memperingati Hari Tanpa Tembakau. Peringatan ini adalah momentum untuk merefleksikan relasi manusia dengan adiksi ...

Tanggal 31 Mei ini, dunia memperingati Hari Tanpa Tembakau. Peringatan ini adalah momentum untuk merefleksikan
relasi manusia dengan adiksi rokok.Tulisan berikut menarasikan sepotong budaya merokok masyarakat desa dalam perspektif gender.

SEBUT saja namanya Bu Minah. Sehari-hari beliau bekerja sebagai penjual bubur. Aneka bubur dibuatnya sejak  pukul dua dini hari. Bubur kacang hijau, bubur mutiara, bubur ketan hitam dan bubur sumsum dalam empat panci besar telah siap memanjakan lidah pelanggannya pada jam enam pagi. Aneka bubur panas nan lezat itu akan segera tandas pada jam 07.30 pagi.

Sungguh penjualan yang fantastis, mengingat Bu Minah berjualan di desa yang relatif sepi. Tetapi, aneka bubur manis yang dijual Bu Minah ternyata tak selalu berbuah manis bagi pembuatnya. Harga gula yang melonjak tinggi memaksa Bu Minah memperkecil porsi buburnya, karena konsumen tak mau harga naik
Bu Minah juga terpaksa memperketat pengeluaran untuk konsumsi keluarga karena lonjakan harga semua bahan baku buburnya membuat keuntungannya turun drastis. Hasil kerja kerasnya melawan kantuk dan dingin dini hari memasak aneka bubur, semakin hari semakin tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.
Tetapi jangan salah. Meski segala sesuatu harus disesuaikan dengan tekanan keadaan, ada satu hal yang tak boleh berubah, yaitu anggaran rokok untuk suaminya yang buruh serabutan.

Adiksi dan Ironi

Suami Bu Minah adalah seorang perokok berat. Tiada pagi yang dapat disambutnya tanpa rokok menyelip di sela bibirnya. Demi sang rokok, Bu Minah harus mengurangi porsi kulakan bahan baku bubur, jika sang suami sedang menganggur. Maklum, buruh serabutan tak selalu ada pekerjaan. Prioritas pada rokok ini mengalahkan prioritas anggaran untuk aneka kebutuhan lain. Ironis!

Hal serupa dapat dengan mudah kita jumpai pada banyak keluarga di desa. Pada keluarga dengan ibu hamil, bisa saja tidak tersedia nutrisi tambahan untuk sang ibu, tetapi selalu tersedia rokok untuk sang bapak. Meski disadari bahwa nutrisi tambahan seperti susu, telor, kacang hijau, madu, dan lain-lain sangat penting, dan sebaliknya rokok sangat membahayakan sang janin. Tetapi wawasan ini, tidak serta merta mendorong perilaku dan pilihan yang selaras.
Demikian juga pada keluarga dengan anak putus sekolah. Tidak ada alokasi untuk biaya sekolah atau jika sekolahnya gratis, maka tidak ada biaya transportasi sehari-hari menuju ke sekolah atau uang saku untuk sang anak, tetapi  lagi-lagi rokok tak pernah absen dari bibir sang bapak.

Jamak dijumpai di kampung-kampung, banyak keluarga memulai hari  mereka dengan mengetuk warung tetangga, sekadar membeli atau bahkan berutang untuk satu sachet kopi dan sebatang rokok. Bisa ditebak, kedua benda itu adalah sajian wajib bagi pagi sang ayah. Sangat jarang dijumpai, ketukan di warung tetangga pada pagi buta itu bermaksud  membeli sebutir telur atau satu sachet susu untuk sang anak atau ibu. Penulis memahami benar hal ini, karena penulis juga pengelola warung kelontong di sebuah kampung.
Pola konsumsi seperti ini berlangsung bertahun-tahun nyaris menyejarah, mengingat perilaku ini merupakan warisan turun temurun dari generasi sebelumnya. Sajian untuk sang kepala keluarga selalu lebih penting daripada pemenuhan kebutuhan lain yang secara akal sehat lebih urgen. Padahal sajian ini adalah racun bagi semua anggota keluarga! Semua ini berlangsung tanpa pemikiran yang kritis, diterima secara taken for granted, bahkan dianggap sebagai status quo yang layak didapat oleh sang pemilik jenis kelamin laki-laki, bahkan meskipun si lelaki ini tak cukup kapabilitas dan integritas menjadi kepala keluarga.

Rokok telah menimbulkan adiksi sedemikian rupa, sehingga aneka alasan pembenaran akan muncul dengan fasihnya jika gugatan terhadap perilaku ini dilontarkan pada seorang perokok. Daftar panjang alasan pembenaran dari yang tampak ‘’alami’’, ‘’ngeles’’, sampai yang mengada-ada siap menjadi amunisi sang perokok. Alih-alih berusaha mengubah perilaku merokoknya, perokok biasanya justru sangat defensif jika menghadapi gugatan terhadap perilaku meracuni diri sendiri tersebut.

Bekerja Keras

Dalam kasus Bu Minah, bisa kita lihat dengan transparan, bahwa perempuan yang pada akhirnya sering menjadi tulang punggung keluarga, harus bekerja sedemikian keras untuk menjadi korban sebagai perokok pasif. Bayangkan, bekerja sedemikian keras untuk menjadi korban! Ini ironi yang  sangat dalam, tetapi tampak biasa karena sudah diterima sedemikian rupa karena lama dan banyaknya situasi serupa.

Menyajikan rokok bagi sang suami dimaknai sebagai bukti baktinya sebagai istri. Tidak ada tempat bagi pikiran yang mengkritisi situasi ini. Padahal  jika dalil agama digunakan untuk menekankan pentingnya bakti istri pada suami, maka adalah agama juga yang menekankan kewajiban suami menafkahi istri, dan bukan sebaliknya. Adalah agama juga yang melarang perbuatan meracuni diri sendiri, apalagi juga mengorbankan orang-orang yang menjadi tanggungjawabnya. Apa yang menghalangi para perokok mencerna logika sangat sederhana ini?

Potret ketimpangan gender secara kasat mata, juga tampak dalam fenomena adiksi para suami akan rokok. Para istri yang banyak terjun  menopang ekonomi keluarga, mendapat beban ganda untuk tetap beres mengurus rumah tangga, sekaligus menerima nasib sebagai perokok pasif. Ini tragedi yang sepi simpati. Pada keluarga ekonomi menengah, memang bisa saja adiksi suami akan rokok tidak sampai mengganggu ekonomi keluarga, tetapi pada kelas ekonomi bawah, adiksi rokok ini jelas menggeser prioritas kebutuhan keluarga yang lebih urgen. (24)

—Siti Maryamah, ibu rumah tangga, pengelola warung kelontong, tinggal di Banjarnegara. (/)

Pusaran perubahan kembali menghantam Indonesia. Setelah pasaran automotif berjaya pada 2011, kini harga bahan bakar minyak (BBM) dunia berge...

Pusaran perubahan kembali menghantam Indonesia. Setelah pasaran automotif berjaya pada 2011, kini harga bahan bakar minyak (BBM) dunia bergerak naik.

Ketika negara-negara tetangga menjadikan kebijakan kenaikan harga BBM-nya secara lebih independen dan fleksibel dalam pengambilan keputusan, di Indonesia justru sebaliknya. Demikian pula ketika perekonomian Indonesia menapak naik,persaingan justru semakin meningkat, dari luar dan dari dalam. Ketika demokrasi berkembang tanpa arah, teknologi membuka semua dinding rahasia.

Menjadi sangat terbuka dan cepat berubah. Pusaran perubahan tengah dialami oleh hampir semua sektor usaha, besar maupun kecil. Perasaan gundah bukan hanya ada di pikiran CEO atau para pemilik perusahaan, melainkan juga para manajer dan pegawai di bawah. Dirasakan oleh para guru dan dosen, hakim dan jaksa, serta para pemimpin pusat maupun daerah.

Statistik ekonomi yang membaik justru bisa menimbulkan pusaran baru. Kepada setiap orang yang berada di dalam pusaran perubahan, setidaknya tiga hal ini perlu diketahui. Pertama, persoalan perubahan yang penting bukanlah soal “memasuki dunia baru”, melainkan bagaimana “membuang” kebiasaan-kebiasaan lama.

Kedua, perubahan menuntut hati yang bersih. Seberapa hebatnya prestasi perubahan yang Anda berikan, kalau tidak dilakukan sepenuh hati dan seputih kapas,Anda akan tergulung arus balik perubahan. Lantas ketiga, dalam setiap perubahan yang paling menentukan adalah self management.

Membuang Kebiasaan Lama

Anda tentu masih ingat bagaimana orang tua memberi iming-iming agar Anda siap memasuki dunia baru. Hadiah bila naik kelas, pesta sunatan, cincin kawin, dan tentu saja permen manis agar tidak menangis sehabis menerima suntikan imunisasi. Iming-iming seperti itu diteruskan para pelaku ekonomi.

Termasuk agar Anda mau menerima kenaikan harga BBM. Ada paket Bantuan Langsung Sementara Masyarakat dan samar-samar terdengar ada paket jalan-jalan untuk rektor dan aktivis-aktivis mahasiswa, konon pula ada “hadiah”bagi oknum anggota partai politik yang tidak menentang kebijakan ini.Namanya juga konon,bisa betul bisa juga wallahu a’lam. Tapi bagaimana membuang kebiasaan lama?

Ampun,ini memang masalah besar yang bisa menjadi penghalang. Manusia sulit sekali membuang kebiasaan-kebiasaan lamanya, apalagi pikiran-pikiran lamanya. Perubahansetidaknya memiliki dua dimensi, yaitu dimensi berubah (changing) dan dimensi tidak berubah (not changing). Pengalaman saya membantu lembaga-lembaga nasional melakukan perubahan menunjukkan, sebagian besar kita lebih banyak menaruh perhatian pada aspek dimensi yang pertama (changing).

Changing memiliki the plus side (persepsi terhadap manfaatperubahan) dan thenegative side (persepsi terhadap biaya, upaya, dan risiko-risiko bila Anda berubah). Padahal not changing juga penting.Manusia juga menimbang-nimbang apa plus-minusnya bila ia tidak berubah. Selama benefit terhadap adanya perubahan lebih besar dari cost-nya, kita sering berpikir bahwa manusia sudah pasti siap untuk berubah.

Padahal dalam kenyataannya tidak demikian. Manusia ternyata juga menimbangnimbang the plus side of not changing (manfaat kalau tidak berubah) dan the negative side of not changing (ruginya bila tidak berubah).Pusing ya? Begitulah perubahan. Selama the plus side of changing tidak diimbangi dengan the negative side of not changing, manusia Akan tetap berada “di dunia lama”. Hidup dalam aturan dan cara berpikir lama. Jadi cost-benefit analysis saja tidak cukup.

Untuk meninggalkan dunia lama,manusia perlu diberi tahu konsekuensi- konsekuensi negatif apa yang akan ia terima bila ia tidak berubah. Jadi melihat keindahan di depan tembok saja belum tentu membuat seorang anak melompat ke atas tembok setinggi dua setengah meter.Ia baru melompat kalau pantatnya akan digigit anjing besar bertaring tajam yang mengejar di belakangnya. Diberi tahu saja tidak cukup. Manusia perlu dibukakan matanya, yaitu melihat apa yang tidak atau belum terlihat.

Hati Bersih

Belakangan saya juga bertemu dengan orang-orang yang mengaku berhasil melakukan perubahan. Hasilnya mungkin saja mengagumkan.Tapi yang menarik perhatian saya,orangorang ini terbentur oleh kejadian- kejadian negatif. Kejadian-kejadian negatif bisa berakibat karya perubahan menjadi sia-sia.Tapi sepanjang Anda melakukannya dengan sepenuh hati,sesungguhnya Anda tidak perlu bercemas hati.Kebenaran akan menemukan pintunya sendiri.

Semua itu hanya mungkin dibersihkan oleh hati yang bersih. Hanya pemimpin-pemimpin yang melakukan perubahan dengan keikhlasan dan cinta pada perubahan yang akan selamat mengawal perubahan. Mudah kita membedakan mana pemimpin yang cinta jabatan dan mana yang cinta perubahan. Orang yang mengaku cinta perubahan bisa saja sesungguhnya pencinta jabatan yang bertarung habis-habisan mempertahankan kekuasaannya. Kalau Andacintaperubahan, Anda akan siap terhadap kemungkinan Anda hanya bisa memimpin satu kali. Ada melakukan people developmentdan Anda menjaga reputasi sekuat tenaga karena tanpa reputasi kekuasaan tak punya gigi.

Self Management

Di mana peran Anda dalam pusaran perubahan ini? Praktik- praktik yang ada umumnya mengacu pada literatur-literatur dan best practice yang seakanakan menempatkan semuaorang sebagai change agents atau change leaders. Padahal sebagian besar orang bukan pemimpin dantakterpilihmenjadi change agent dalam perubahan.

Apa yang harus Anda lakukan? Pengalaman saya menemukan orang-orang yang berada di dalam pusaran perubahan bukan hanya terdiri atas mereka yang menentang perubahan, melainkan karena mereka tidak terbiasa “melihat” apa yang “tidak” atau “belum” terlihat. Berbagai latihan umumnya sangat diperlukan untuk melatih karyawanagarmampu “melihat”, bahkan “mendengar” yang “belum”atau “tak terdengar”.

Melalui berbagai pelatihan, pegawai dilatih agar memiliki sikap proaktif yang melekat pada diri setiap individu. Pelatihan-pelatihan seperti itu menjadi penting di era performance management tidak lain karena setiap orang telah berubah menjadi manusia robotic yang hanya peduli dengan indikator-indikator kinerja utamanya atau yang biasa dikenal dengan istilah KPI (key performance indicator).

Ketika manusia terlalu fokus pada pekerjaannya atau apa yang ditugaskankepadanya (dalambirokrasi dikenal dengan istilah tupoksi), maka biasanya mereka tidak mampu melihat hal-hal yang berada di luar titik fokusnya. Maka latihlah diri Anda agar mampu “melihat” yang tak terlihat dan “mendengar” apa yang tak terdengar. Hanya orang-orang yang memiliki keberanianlah yang mampu melihat hal-hal yang tak terlihat. Dan hanya merekalah yang mampu membawa diri dalam pusaran perubahan.

Mereka bukan hanya bisa beralih memasuki dunia baru dengan selamat, melainkan juga meninggalkan dunia lama dengan penuh kedamaian. Itulah yang membedakan seorang winner (pemenang) dengan seorang looser (pecundang). Pemenang melenggang riang, pecundang bicara kotor dengan umpatan yang tak tersalurkan. Selamat menjalankan perubahan.●

RHENALD KASALI
Ketua Program MM
Universitas Indonesia

LANTUNAN bacaan Alquran berkumandang dari Masjid Muttaqin yang ada di Jalan Cumi-cumi Raya, Rabu (7/3). Setelah beberapa ayat dibacakan, sua...

LANTUNAN bacaan Alquran berkumandang dari Masjid Muttaqin yang ada di Jalan Cumi-cumi Raya, Rabu (7/3). Setelah beberapa ayat dibacakan, suara azan terdengar memecah siang yang terik tersebut. Ketika sang muazin mengumandangkan azan, beberapa lelaki yang mengenakan sarung lengkap dengan peci hitam, berduyun-duyun keluar dari gang-gang yang ada di jalan itu menuju masjid. Disusul kaum ibu yang telah mengenakan mukena, berjalan dengan cepat tanpa mempedulikan anak-anak yang berlarian pulang sekolah. Setelah azan, suara riuh anak-anak yang bermain di sudut gang mulai mereda. Iqomat sang muazin kembali terdengar. Barisan shalat nampak tertata rapi. Rakaat demi rakaat dilakukan tanpa tergesa. Setelah salam, jamaah tidak langsung bergegas meninggalkan masjid. Mereka khusyuk berdoa.

Ya, itulah pemandangan Kampung Tikung Baru yang ada di Kelurahan Bandarharjo, Kecamatan Semarang Utara siang itu. Pada 1970-1980, Kampung yang sebelumnya bernama Kampung Baru Tikung dikenal sebagai kantong kriminal, sarang penjahat, sarang preman, dan memiliki slogan Jalmo Moro Jalmo Mati.

Pendidikan Rendah

Mayoritas warga pun hanya berpendidikan rendah. Pekerjaan yang ditekuni pun hanya buruh kelas rendah. Alhasil, anak-anak pun banyak yang telantar. Judi, minum minuman keras dan berkelahi, menjadi aktivitas sehari-hari. Ketika melamar kerja, para pemuda tidak mencantumkan nama kampung dalam lamaran.

’’ 90 persen warga di bawah garis kemiskinan. Kepercayaan dunia usaha dengan masyarakat juga sangat rendah. Kehidupan saat itu semrawut, banyak rumah rusak, dan rata-rata warga hanya lulus SD saja,’’ tutur Sutikno (53) warga Kampung Tikung Baru RT 6 RW 4, kemarin.

Masih hangat dalam ingatan bapak enam anak itu.

Pada 1980-an, kampung di Semarang bagian utara ini dikenal sebagai sarang preman. Tak ada satu pun warga luar kota, sopir taksi, bahkan tukang becak yang berani masuk ke kampung itu setelah pukul 18.00. Kini, kondisi itu telah berubah 180 derajat. Bagaimana kisahnya?

Saat masih duduk di bangku SD, kebiasaan mengambil barang yang bukan miliknya menjadi aktivitas sehari-harinya bersama teman-teman.

’’Di kawasan ini memang sejak dulu banyak gudang. Ketika ada truk lewat, kami langsung naik dan menurunkan beberapa barang, lalu kami jual. Dulu, 60 persen warga disini merupakan tokoh besar. Bahkan, ada anggapan kalau belum mencuri atau melakukan tindak kriminal belum diakui sebagai warga Baru Tikung. Saya pun saat itu belum menyadari kalau mencuri adalah perbuatan kriminal,’’ ujar Kepala Seksi Pembangunan Pemerintah Kelurahan Bandarharjo itu, saat ditemui di kantornya.

Akibatnya, kampung itu dikenal dengan ’’Kampung Gali”. Tak pernah ada sopir taksi, tukang becak atau tukang ojek yang berani masuk membawa penumpang. Jika ada warga Baru Tikung yang ingin pulang dengan jasa taksi atau ojek, para sopir taksi atau tukang ojek selalu beralasan menunggu pesanan.

Jadi Menteri

Hal senada juga disampaikan Slamet Riyanto (47) warga RT 5 RW 6 kampung itu, kemarin. Karena merasa tidak nyaman dengan keadaan kompungnya itu, hasrat untuk pindah pun terus menggebu. Namun, dengan perubahan yang hampir mencapai 180 derajat sekarang ini, untuk meninggalkan Kampung Tikung Baru, menjadi sangat berat. Jika dahulu parkir sepeda motor di luar rumah saja langsung hilang, kini setiap malam hampir 30-an sepeda motor yang selalu diparkir diluar tidak pernah hilang.

’’Sejak Kelurahan Bandarharjo dipimpin oleh Lurah Suparmin yang kini sudah almarhum, kampung kami dirubah total. Penataan warga pendatang dan warga asli dilakukan. Kegiatan keagamaan ditingkatkan, penyadaran kepada masyarakat soal pendidikan digencarkan,’’ ujar Ketua Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kelurahan Bandarharjo itu.

Kisah masa kecil pun juga masih diingat oleh lelaki bertubuh besar itu. Permainan lotere, capjiki, main kartu menjadi kebiasaan ketika salah satu warga menggelar pesta pernikahan, sunatan, kelahiran maupun saat salah satu warganya meninggal.

’’Sekarang, tidak ada lagi permainan itu. Setiap warga akan menggelar pernikahan, sunatan atau kelahiran anak, selalu digelar pengajian terlebih dahulu dengan mendatangkan seorang kiai atau ustad. Tak hanya itu, 70 persen generasi muda sudah sarjana dan bekerja sebagai polisi, tentara, PNS dan karyawan perusahaan. Bahkan ada yang jadi Menteri Pertahanan. Pak Purnomo Yusgiantoro itu kelahiran kampung ini lho,’’ paparnya bangga.

Tak hanya itu, ujar Riyanto, setiap RT pun kini memiliki jamaah pengajian yang menggelar yasinan, tahlilan keliling secara rutin. Ketua RT yang warganya tidak rutin menggelar pengajian, akan malu dan meminta warganya membentuk perkumpulan jamaah pengajian. ’’Sekarang ini, kampung ini lebih dikenal dengan Kampung Santri ketimbang Kampung Gali. Sudah banyak warga yang pergi ke Tanah Suci untuk ibadah haji, tokoh-tokoh agama pun mulai bermunculan,’’ tandasnya.

Di tengah perubahan yang signifikan, menurut warga RT 2 RW 7, Puji Hastuti (41) masalah infrastruktur masih menjadi kendala warga untuk hidup makin nyaman dan sistem kekeluargaan yang erat.

’’Hampir setiap bulan, wilayah ini menjadi langganan rob dan banjir. Penyakit gatal-gatal, diare, DBD dan infeksi saluran pernapasan menjadi langganan juga. Bahkan, kami takut jika ada penyakit yang mengancam, yakni lestoporosis,’’ ujar ibu dua anak yang sehari-hari bekerja di Klinik Kesehatan Mer-C itu, kemarin.

Puji berharap, pemerintah menanggulangi masalah rob dan banjir yang terus melanda kawasan itu, sehingga ancaman serangan penyakit dapat dihindari. (Muhammad Syukron-61)

Sumber : Suaramerdeka.com

“Cantik kok pembohong”. Cemoohan itu muncul spontan, datar, dan mengalir dalam diskusi informal di warung angkringan di Kota Yogya. Sesekali...

“Cantik kok pembohong”. Cemoohan itu muncul spontan, datar, dan mengalir dalam diskusi informal di warung angkringan di Kota Yogya. Sesekali berkumpul mahasiswa di tempat santai seperti ini sungguh amat menyenangkan.

Diskusinya berkualitas walaupun tanpa awal dan akhir yang jelas. Persoalan akan menjadi lain dan serius apabila guyon parikena itu dicerna dalam-dalam dengan kejernihan hati nurani. Kaum hawa khususnya pasti tersinggung. Cemoohan itu tergolong nylekit dan menusuk perasaan. Tetapi itulah justru pesan moral sesungguhnya, yaitu agar kaum hawa di negeri ini cantik luar-dalam, lahir-batin.

Jangan seperti Angelina Sondakh ketika bersaksi di Pengadilan Tipikor dalam kasus Wisma Atlet belum lama ini. Ada kasus berbeda, tetapi serupa. Di Pengadilan Tipikor Bandung terjadi pembacokan terhadap jaksa Sistoyo oleh Deddy Sugarda. Hal itu diakui oleh pelakunya sebagai pesan kepada para penegak hukum untuk tidak berkhianat pada program pemberantasan korupsi. Cemoohan maupun pembacokan tersebut merupakan bentuk sanksi (kutukan) sosial.

Ini bukan sesuatu hal baru.Jauh sebelum ada sanksi hukum formal, sanksi sosial telah ada,dan sesekali muncul ketika kehidupan berjalan tidak normal. Kebohongan dan pengkhianatan merupakan awal dan sebab ketidaknormalan kehidupan itu. Hukum formal berjalan terseok-seok karena dimainkan oleh kekuatan politik, uang, maupun kekuasaan.Awam sudah muak terhadap kepalsuan, kemunafikan, dan kamuflase proses peradilan yang berlangsung sebagai drama berseri itu.

Dengan logika dan caranya sendiri, awam menumpahkan kejengkelannya dalam bentuk kutukan sosial tersebut. Lantas, apa hikmah dan pelajaran dari kasus-kasus seperti itu? Pertama, kembalikan pemahaman secara utuh bahwa hukum tidak terpisahkan dari habitat sosialnya. Detak jantung dan suara hati masyarakat jangan disepelekan. Berbahaya.

Boleh jadi pada kesempatan berbeda kutukan sosial juga menimpa pada hakim, pengacara,saksi ahli,dan aparat penegak hukum lain.Pengalaman telah banyak berbicara tentang hal ini. Kedua, jangan melawan kodrat bahwa manusia adalah makhluk sosial. Paham individualisme dan liberalisme yang cenderung mendorong para penegak hukum bersikap congkak, arogan, dan sombong mesti ditinggalkan.

Gantilah dengan paham kolektivisme, sosialisme dalam suasana kekeluargaan.Di negeri berfalsafah Pancasila ini paham kekeluargaan itu telah mengakar sebagai budaya dan adat istiadat. Pengingkaran terhadap paham ini serta merta menggantinya dengan paham individualisme dipastikan akan menggun-cangkan sendi-sendi kehidupan. Ingatlah ungkapan ”sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”.

Ketiga, karakter liberal yang melekat pada hukum dan peradilan di Indonesia mestinya dibenahi secara sungguh-sungguh. Keberadaan hukum adat, syariat, dan tuntunan moral mestinya diterima sebagai upaya pembenahan tersebut sehingga watak liberal itu segera berganti menjadi watak komunalistik, sosial-religius.

Keempat, jaga kemandirian lembaga pengadilan dan arahkan kiblat proses peradilan semata- mata demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.Sedikit saja kiblat itu bergeser, misal ke arah ”keuangan yang maha kuasa”—sehingga jaksa atau hakim menerima suap—hancurlah martabat lembaga pengadilan beserta insan penegak hukum yang ada di dalamnya.

Kekecewaan

Hukum negara beserta aparatur penyangganya sebagaimana ”disakralkan” dalam praktik peradilan tidak mungkin mampu meminggirkan secara total bentuk-bentuk kutukan sosial yang muncul secara spontan dan alami sebagai bagian dari tatanan lokal. Dalam konteks budaya hukum, sebenarnya hukum negara (positif) itu kalah awu (kalah wibawa) dibandingkan hukum adat karena selain umurnya tergolong lebih muda, lebih nyata lagi bahwa hukum adat telah mengakar kuat dan mampu bekerja efektif di masyarakatnya selama berabad-abad.

Pada saat komunitas lokal kecewa terhadap kinerja pengadilan dalam pemberantasan korupsi, komunitas lokal akan bereaksi untuk menunjukkan kekuatannya guna melengkapi kekurangan-kekurangan yang melekat pada hukum negara. Dengan munculnya reaksi sosial atas hukum dan praktik peradilan, sejak saat itu terlihat seolah-olah ada keterbelahan (split) antara ”sanksi hukum” dan ”kutukan sosial”.

Aparat penyangga hukum negara umumnya mendaku (claim) bahwa sanksi hukum adalah satu-satu jenis sanksi untuk segala kejahatan,dan hanya mereka sajalah yang berwenang menjatuhkan sanksi hukum itu.Warga masyarakat yang melakukan kutukan sosial tidak jarang ditangkap dan dijerat hukum karena dianggap ”main hakim sendiri”.

Mereka lupa bahwa hukum dan praktik peradilan tidak mungkin lepas dari pengamatan dan kepentingan masyarakat yang senantiasa mendambakan kejujuran, keterbukaan,dan keadilan.Mereka juga lupa bahwa kutukan sosial hanyalah pelengkap sanksi hukum formal, bukan tindakan yang berdiri sendiri lepas dari kegeraman terhadap para koruptor dan drama pengadilan.

Apabila cemoohan dan pembacokan di atas ditanggapi secara emosional dan legalistik, aparat penyangga hukum negara itu sesungguhnya sedang membiarkan separuh dirinya yang egois-individual dipisahkan dari separuh diri mereka yang lain (sebagai makhluk sosial). Dengan kata lain, mereka asosial. Ketua Mahkamah Agung Hatta Ali mengatakan bahwa akan ada peningkatan pengamanan di persidangan, terutama untuk kasus yang menarik perhatian masyarakat dan dianggap sensitif.

Pada hemat saya, gagasan ini bagus untuk sesaat, tetapi tidak menyentuh akar permasalahan. Mengapa? Pengadilan bukanlah menara gading. Selama lembaga ini masih bermain-main dengan hukum, sementara hak-hak masyarakat akan keadilan,kejujuran, kebenaran, dan keterbukaan dilecehkan,kutukan sosial akan terus muncul secara sporadis dan bisa terjadi di luar persidangan.

Dulu kita memiliki pengadilan adat, tetapi oleh rezim Orde Baru dibubarkan dan tidak diakui lagi keberadaannya oleh negara sampai saat ini.Sungguh bijaksana apabila pengadilan adat itu dihidupkan kembali. Apabila aspek sosial dan kultural itu benar-benar diperhatikan, dapat diyakini bahwa kutukan sosial akan ”tertidur nyenyak” dalam buaian kehidupan bernegara hukum yang aman dan nyaman.

PROF DR SUDJITO SH
Guru Besar dan
Ketua Program Doktor
Ilmu Hukum UGM

Ustaz Salman memasuki ruang kelas. Ia membawa sebilah pedang yang sudah berkarat dan sebatang bambu. Senyum seorang guru menyeringai dari bi...

Ustaz Salman memasuki ruang kelas. Ia membawa sebilah pedang yang sudah berkarat dan sebatang bambu. Senyum seorang guru menyeringai dari bibirnya yang terlihat bersahabat.

Di depan santri-santri baru yang datang dari berbagai pelosok Indonesia di sebuah pesantren besar di Ponorogo, ia berujar: “Man jadda wajada!” Kelak kata-kata itu identik dengan Alif, eh, Achmad Fuady, penulis buku Negeri 5 Menara yang kini menjadi inspirasi kaum muda Indonesia. Ustaz Salman menjajal pedang tumpul itu untuk memotong bambu.Berat! Sulit! Tapi ia berupaya terus kendati keringat mulai mengucur.Ruang kelas riuh oleh bunyi bambu yang dipancung paksa oleh pedang majal yang harus dibanting-banting berkali-kali ke lantai, sampai akhirnya bambu terpotong dan santri-santri polos terkesima. Ia berteriak, “Man jadda wajada! Sesuatu yang dilakukan bersungguh-sungguh dapat menjadi kenyataan.”

Membebaskan Belenggu

Adegan itu saya saksikan dalam pemutaran perdana film inspiratif Negeri 5 Menara yang diangkat dari novel Achmad Fuadi itu pada hari Selasa (21/2) kemarin.Saya datang ke Gedung XXI-FX Plaza dengan guru-guru PAUD dan taman kanak-kanak asuhan istri saya di Rumah Perubahan. Bagi guru-guru yang biasa mengajar anak-anak kampung, film ini seperti sebuah pelepasan.

Bagi anak-anak kampung, menjelajahi menara-menara dunia adalah sebuah keniscayaan. Tak usah dari Danau Maninjau (tempat asal Alif) ke Ponorogo di Jawa Timur, dari Bekasi ke Monas saja,bagi sebagian anak-anak,adalah suatu keniscayaan. Selain saya,pemutaran perdana itu dihadiri para guru. Apa yang bisa dipelajari para guru dari film ini? Tentu saja setiap orang bisa melihatnya dari sudut pandang yang berbeda- beda. Namun dari guruguru yang ikut bersama saya didapatkan jawaban ini: “Bukan matematika atau sains, juga bukan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, melainkan rasa percaya dirilah yang membawa manusia menemukan menara-menara kehidupannya.

” Saya masih bingung, tetapi akhirnya mereka menjelaskan bahwa masalah terbesar yang dihadapi tunas-tunas bangsa adalah kuatnya belenggu “tidak bisa”dan belenggu “bukan hak saya” yang begitu kuat. Ini belum termasuk belenggu-belenggu karakter seperti mudah terprovokasi, pendendam, merasa benar sendiri, dan seterusnya. Anak-anak tukang ojek atau anak tukang bubur kacang hijau yang orang tuanya harus berkeliling kampung mengumpulkan seribu demi seribu rupiah dengan penuh kesulitan memiliki cara berpikir yang sama seperti burung-burung dara yang sayapnya dijahit supaya tidak bisa terbang jauh.

Dengan sayap-sayap yang terikat itu, mereka tak bisa terbang jauh mengelilingi dunia, apalagi membangun menara-menara bagi kehidupan mereka sendiri. Ustaz Salman membuka kelasnya bukan dengan dogma, teori atau rumus,melainkan dengan pedang tumpul dan berkarat serta sebatang bambu tua yang keras.Yang ia tanamkan adalah sebuah keyakinan positif, meretas belenggu-belenggu virtual yang ada di tiap kepala anak-anak.

Ya,itulah belenggu yang tumbuh menjadi keyakinan kolektif. Itulah masalah besar yang selama ini kita abaikan. Kita beranggapan seolaholah semua tidak ada.Atau bahkan kita berpandangan dengan rumus-rumus sains semua bisa dilupakan? Kalau kita mengabaikannya, kita hanya menciptakan benda-benda tak bergerak. Sama seperti sayap burung yang dijahit.

Sederhanakanlah!

Bagi sebagian guru Indonesia, berlaku adagium,“more is better than less”atau lebih jelasnya “the heavier the better”. Semakin banyak subjek yang diberikan, semakin sulit, semakin takut berarti semakin bagus. Semakin berat pelajaran yang bisa diberikan semakin hebat dirasakan.Asumsi murid pandai bisa mengerjakan rumus- rumus yang berat menjalar ke mana-mana.Dari fisika dan matematika, melebar ke bahasa Inggris dan sejarah. Semua pelajaran ilmu sosial diajarkan dalam bentuk rumus, bukan dalam bentuk pemecahan masalah.

Akibatnya pun begitu luas,kita menyaksikan pemimpin yang tak mampu menggunakan ilmunya dengan baik kendati mereka semua hafal rumusnya. Kita juga menyaksikan pemimpin-pemimpin yang takut dan tak tahu bagaimana caranya membuat keputusan.Mereka hanya bisa mengomentari keputusan orang lain, seakan-akan lebih mengerti dan lebih berpengetahuan. Namun saat diberi kekuasaan, ternyata sama saja.

Bagaimana cara Negeri 5 Menara? Film Negeri 5 Menara menunjukkan ada hal lain yang dibutuhkan anak-anak yang kini melanglang buana dengan prestasi masing-masing, yaitu pentingnya peran guru sebagai pembuka “jahitan”yang membelenggu anak-anak didiknya. Membuka belenggu berarti menyederhanakan banyak hal. Anda tak mungkin membuka belenggu sambil menanamkan belenggu-belenggu lain yang lebih besar.

Anda perlu memilih: mengikat kaki mereka sehingga tak bisa lari atau membukakannya agar mereka bisa melanglang buana. Sudah barang tentu jumlah mata ajaran dan cara mengajar di negeri ini harus diubah,diremajakan, dan disederhanakan. Bukankah sekolah diperlukan untuk manusia dan bukan sebaliknya? 

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI

Demokratisasi yang dialami oleh bangsa Indonesia pascareformasi 1998 menimbulkan berbagai perubahan mendasar dan menentukan. Dalam hal ke...

Demokratisasi yang dialami oleh bangsa Indonesia pascareformasi 1998 menimbulkan berbagai perubahan mendasar dan menentukan. Dalam hal kebebasan berekspresi dan berpendapat, media yang selama Orde Baru dikungkung dalam berbagai format aturan dan kontrol penuh dari aparatus negara, kini memasuki era kebebasan pers.

Peringatan Hari Pers Nasional 2012 bagaimanapun merupakan bentuk perayaan dan rasa syukur terhadap anugerah kebebasan pers itu. Sungguh pun dalam beberapa hal kebebasan pers dikatakan belum sepenuhnya terwujud, namun pada praktiknya media kemudian menjelma dari institusi yang dibatasi dan cenderung menjadi corong pemerintah, menjadi institusi yang relatif mandiri dan bebas.

Saat ini tak bisa disangkal lagi pertumbuhannya yang pesat dan beragam membuat media menisbatkan diri menjadi salah satu kekuatan sosial, ekonomi, bahkan politik. Pada kenyataannya pula, keberadaan media ini dapat diibaratkan sebagai pedang yang bermata dua.

Kontrol Media

Tentu saja kita semua setuju kalau media tidak lagi dikontrol kuasa pemerintah yang cenderung hegemonik, manipulatif, dan hanya menginginkan berita yang baik guna mempertahankan legitimasi dan kekuasaan yang sudah diperolehnya. Namun, seiring kebebasan yang diperoleh oleh media sejak reformasi hingga sekarang ini, ternyata fungsi dasar media belum sepenuhnya dijalankan.

Banyak pihak yang bilang kebebasan pers sudah bergeser menjadi kebablasan pers. Beberapa media juga disinyalir cenderung mengejar profit belaka. Misalnya saja, dalam konteks dunia penyiaran, kita masih mudah menemui produk-produk siaran media yangtidak layak tonton. Pilihan sadar atas era kebebasan pers di era re formasi lebih menitikberatkan pada sistem kontrol di internal media itu sendiri.

Setiap media harus memiliki mekanisme sensor mandiri sebagai bentuk bersandingnya kebebasan dan tanggung jawab pers. Kebe bas an bertanggung jawab yang di garansikan kepada media ada lah efek dari dikekangnya media selama kurang lebih 30 tahun. Media yang nyaris tidak mempunyai kekuatan selama era otoriter tersebut kemudian mendapatkan kembali rohnya yang indigenous.

Kembalinya roh media sebagai satu kekuatan sosial, politik, dan ekonomi yang menentukan tersebut akan berbahaya bila tidak dilakukan upaya penyeimbangan dalam bentuk kontrol. Dari mana? Pertama-tama dari dalam media itu sendiri, kemudian dari masya rakat, juga lembaga berwenang yang mewakili publik.

KPI sebagai lembaga yang mewakili kepentingan masyarakat akan dunia penyiaran berada pada posisi ini. Namun, KPI tidak memiliki kewenangan kontrol dalam arti melakukan sensor dan penghakiman terhadap program sebelum disiarkan.

Catatan pentingnya, kontrol tidak bermaksud membungkam ke bebasan pers, tetapi menyeimbangkan kebebasan itu dengan tanggung jawab dalam satu kesa tuan yang solid. Karena kebebasan yang tidak disertai tanggung jawab tinggi, akan berpotensi men jadi kebablasan.

Dalam dunia penyiaran, khu sus nya televisi, praktik penyiaran sesuai nuansa demokratis dan undang-undang yang baru telah menjamin dan mengatur kebebas an media untuk tumbuh dan hi dup merdeka. Perizinan tidak fair di zaman dulu yang merupa kan alat kontrol ampuh oleh penguasa untuk membungkam daya kritis media kini tidak lagi ber laku.

Siaran yang dipancarkan oleh media kini le bih variatif, kritis, dan bebas me nyuarakan apa pun yang terjadi tanpa takut akan cekal, la rang an, hingga pembre del an. Dari sini lah self control me dia dalam menyeleksi, menge dit, hingga menyiarkan berita yang layak dan pantas disiarkan menjadi penting dan harus menja di nilai, karakter, dan budaya kor porat di media penyiaran kita.

Dengan adanya nilai-nilai yang dipegang erat tersebut itu, profesionalitas media menjadi barome ter penting media dalam men ja lan kan fungsinya. Rumusan nilai-nilai itu telah terangkum da lam Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) KPI yang menjadi acuan bagi media penyiaran untuk melakukan sensor mandiri.
Hal itu sangatlah mungkin bila mau dilakukan. Sangat bergantung pada kedewasaan dan kematangan serta profesionalitas awak media. Contoh yang paling konkret, saat terjadi bencana tsu nami Jepang, kita tidak menyaksikan media di sana menampilkan sosok mayat korban yang menge nas kan. Padahal, korban me ning gal dan hilang dalam peristiwa itu mendekati 30 ribu orang.

Jadi, media saat ini tidak lagi diawasi secara ketat dan dikung kung dalam berbagai aturan yang mengerangkeng kebebasan. Di era sekarang, media adalah institusi yang bebas dan aman dari kontrol dan ancaman negara, namun selayaknya mempunyai kemampuan self control yang selaras dan searah dengan kebebasannya.

Dengan demikian, produk siaran yang ditampilkan oleh lembaga penyiaran pun secara sadar sudah diseleksi oleh internal media sebelum dilempar ke khalayak.

Program siaran dan mata acara apa pun yang disiarkan oleh media adalah produk yang sudah dianggap lolos dan sudah sesuai dengan kaidah undang-undang yang berlaku, serta cocok dengan standar konsumsi khalayak.

Bila self control ini berjalan baik, rating yang selama ini menjadi tuhan bagi industri media, kemudian tidak lagi menjadi sesuatu hal yang utama dan menjadi nomor satu untuk dikejar sehingga meniadakan fungsi media yang lain, yang sebetulnya lebih pen ting. Fungsi-fungsi media yang lebih urgen, yaitu fungsi mendidik, mencerdaskan, sebagai pemberi informasi, dan seabreg fungsi mulia media yang lainnya kemudian tidak lagi dinomorduakan.

Rating —yang merupakan sesuatu yang lumrah dan bernilai ekonomis untuk dikejar oleh para pelaku industri media— harus seimbang dengan konten dari siaran itu sendiri. Konten yang ada dalam setiap program yang disiarkan oleh media di samping tetap mengandung nilai rating yang tinggi, juga memenuhi kaidah aturan yang berlaku harus juga bercita rasa publik alias disukai.
Sesungguhnya, kunci sukses media penyiaran tidak hanya jorjoran mengejar rating belaka, tetapi juga didukung daya kreatif yang tinggi serta kemampuan membaca selera khalayak.

Bebas plus

Media di era sekarang amat berbeda dengan media di zaman yang dimanfaatkan untuk kepentingan politik kekuasaan pemerintah. Dengan aturan pendirian media yang sepihak dan bernuansa KKN, menambah karutmarutnya fungsi dan peran media waktu itu. Situasi ini didorong era reformasi dan seiring dengan tuntutan agar media bisa independen, bebas, dan bisa menjadi salah satu alat kontrol sosial yang efektif dan berdiri secara bebas.

Sungguh pun demikian, media hari ini sesungguhnya tidak bisa lepas dari kekuasaan ekonomi dan politik yang ada. Tetap saja ada relasi kuasa di antara keduanya yang saling berkelindan memengaruhi posisi dan peran media, utamanya media penyiaran televisi.

Namun, kita harus tetap terus berupaya untuk menciptakan media yang diharapkan, yaitu bisa secara penuh dan seimbang menjalankan fungsi dasar media, sekaligus menaati aturan main yang telah disepakati dan memperhatikan kepentingan terbaik pemirsa.

Media yang kemudian kita impikan adalah media yang bebas menjalankan fungsinya tanpa takut akan tekanan dan kelompok tertentu, tapi pada saat yang sama mengerti dan menyadari kalau kebebasannya bukan mutlak tanpa batas. Media bukan pula semata-mata untuk mencapai kepentingannya, apalagi sekadar mengejar keuntungan ekonomi dan bisnis semata.

Media yang diharapkan adalah media yang sadar akan fungsi dan perannya secara utuh, sekaligus menyadari dan melaksanakan tanggung jawabnya secara penuh. Sulit memang, tapi bukan sesuatu yang mustahil.

Sumber : koran republika 13 februari 2012

Ancaman yang tak pernah disangka sebagai ancaman itulah sebenar-benarnya ancaman. Feodalisme misalnya. Sebagian sejarawan menafsir alasan ko...

Ancaman yang tak pernah disangka sebagai ancaman itulah sebenar-benarnya ancaman. Feodalisme misalnya. Sebagian sejarawan menafsir alasan kolonialisme menjadi begitu mudah merajalela bukan karena kekuatan mereka melainkan karena kecerdasan mereka.

Jumlah penjajah itu tak seberapa, tetapi sanggup menguasai wilayah yang sedemikian luas. Jadi tegasnya, penjajah itu menjadi cukong belaka dengan para feodalis sebagai mandor-mandornya. Maka tegasnya lagi, penjajahan sukses karena alatnya adalah pihak si terjajah itu sendiri. Menjadi mandor penjajah memang jauh lebih mudah ketimbang mengolah tanah.

Feodalisme sebagai alat penjajahan itu kini memang berubah wajah, tetapi tidak pernah benar-benar berubah. Ia memperbarui diri dengan menyasar siapa saja juga generasi muda tanpa kecuali. Anak-anak muda, yang melejit di orbit tinggi, lalu ramai-ramai tersandung korupsi misalnya, adalah bagian dari mata rantai kultur lama ini. Yang berbahaya dari feodalisme itu bukan soal hierarki, bukan tentang sebuah stratum yang menganggap dirinya setingkat lebih tinggi. Hierarki itu, dalam ukuran tertentu, apalagi jika basisnya pengetahuan, adalah soal yang bisa dimengerti. Adalah logis bahwa pihak yang berilmu, memang akan setingkat lebih tinggi.

Tetapi rasa lebih tinggi itu, menjadi berbahaya ketika mulai memasuki kecenderungan berikutnya, yakni meninggikan hampir semua: tinggi kedudukan, tinggi penghasilan, tinggi gengsi, tinggi keenakan. Artinya, rasa tinggi itu kemudian benar-benar menelan ongkos besar sekali. Celakanya, tidak semua yang merasa tinggi itu benar-benar tinggi. Banyak di antaranya yang sekadar meninggi-ninggikan diri dengan cara memoles diri di sana-sini. Polesan itu tidak gratis, tetapi malah mahal sekali, terutama di hari-hari ini. Inilah kemudian yang membuat Mahatma Gandhi menemukan dosa ketiga dari tujuh dosa sosial yang ia rumuskan: kekayaan tanpa kerja.

Ongkos peninggian diri itu akhirnya besar sekali, sementara penopangnya rendah sekali. Itulah awal kemunculan kesenjangan gaya dan sikap hidup. Gaya lebih penting ketimbang sikap. Ketika gaya meninggi, sikap. Jadi, ukuran ketinggian itu kini banyak berhenti hanya dalam masalah gaya. Maka mati-matian membiayai gaya menjadi kecenderungan sosial yang merajalela. Lalu dari mana biaya pemujaan atas gaya ini? Dari menciptakan peluang apa saja sepanjang bukan dari jalan berproduksi. Kenapa? Karena sikap berproduksi nyaris tidak ada dalam diri mereka. Kalau pun ada, lambat sekali lajunya dan yang menyalip kencang adalah laju mereka dalam bergaya. Tangan mereka terlalu lembut untuk bekerja dan tidak didesain untuk bekerja juga tidak benar-benar berniat bekerja kalau perlu malah menghindar dari kerja. Itulah dosa ketiga versi Gandhi.

Jadi, untuk membiayai sebuah masyarakat yang sibuk bergaya, sebuah negara bisa benar-benar membahayakan devisanya. Masyarakat yang hanya besar dalam gaya tetapi tidak besar dalam kerja akan rawan membiayai gayanya, setidaknya dengan dua cara. Yang pertama, utang, dan kedua, kriminalitas. Sungguh, kepada feodalisme jenis baru, Indonesia harus berwaspada. (62)
(/)

Sumber : suaramerdeka.com

Jenuh juga akhirnya menyaksikan wajah kekuasaan hari ini. Bahkan, mungkin sudah berada di tahapan melelahkan. Renovasi ruang badan anggaran ...

Jenuh juga akhirnya menyaksikan wajah kekuasaan hari ini. Bahkan, mungkin sudah berada di tahapan melelahkan. Renovasi ruang badan anggaran (Banggar) DPR RI, rencana renovasi gedung DPRD DKI Jakarta, pembangunan wisma atlet di Palembang, kasus Century yang tak akan pernah tuntas,dan aneka kasus lain. Semua menampakkan wajah tamak dari para elite. Mereka bukan hanya mengamini serangkaian tesis Niccolo Machiavelli dalam Il Principe, tetapi bahkan mempraktekkan jauh melebihi ajarannya. Kenapa lebih ? Dalam tesis Tuan Niccolo, tidak dikenal istilah-istilah dalam dunia spiritual seperti santet, teluh, dll. Sementara dalam dunia nyata di sini, hal seperti itu bertebaran tanpa henti.
Wajah kekuasaan di berbagai tingkatan mencapai tahapan yang saya percaya akan dikoreksi oleh zaman. Jika memang para polisi, jaksa, hakim, bahkan demo besar tidak mampu mengubah keadaan, maka zamanlah yang akan memanggil nilai-nilainya sendiri. Bukankah sejarah keberadaan manusia juga memberikan banyak pelajaran tentang hal itu. Sehebat apa pun, Fir’un akhirnya datang juga Musa.
Fir”un dalam konteks kekinian, bukanlah sesosok manusia di mana dia bisa mendiktekan semua keinginan. Sekali telunjuk tergerak dari  tangannya, semua berada dalam geganggam. Jika mata bergerak melirik, orang pasti mengira akan terjadi sesuatu. Jika gerak tubuh menjadi tidak biasa, dipastikan dia akan terjadi bencana. Bahasa tubuh menyiratkan banyak hal, dan karena itu dia menjadi tidak waras.
Tetapi Fir’un di zaman ini adalah sekumpulan orang yang memiliki kekuasaan, tetapi fondasinya adalah gerombolan. Seorang tidak bisa bekerja sendiri tanpa melibatkan orang lain yang senafas, sebatin, dan sekeinginan.  Maka, sekarang ini tidak akan pernah ditemukan pelaku tunggal. Bahkan, seorang Gayus Tambunan pun tidak sendirian bermain.
Fir’un dikoreksi Musa, Herodes dikoreksi Isa, Bilqis dikoreksi Sulaiman, dan kaum Jahiliah dikoreksi Muhammad.  Dulu di sini, bandul kekuasaan lebih berat di eksekutif, lalu dikoreksi zaman berpindah ke legislatif. Sekarang, bandul kekuasaan ada di yudikatif. Bandul ini terus akan bergerak menemukan keseimbangan baru, dan itulah panggilan zaman.
Wajah kekuasaan yang menjenuhkan sekarang ini saya yakini juga akan dikoreksi zaman. Keadaan akan diubah dengan keadaan yang lebih baru, Kejenuhan akan diubah menjadi menyegarkan.  Orang-orang serakah akan diganti orang-orang jujur, boros akan diganti hemat, gila kekuasaan akan diganti orang amanah, kebohongan akan diganti kejujuran, demikian seterusnya.
Kekuasaan di zaman baru itu akan menampilkan wajah dengan tiga pilar kekuatan, yakni bahwa semua yang ada pada kekuasaan itu sesungguhnya bukan miliknya. Kekuasaan yang tidak amanah akan selalu menganggap tidak ada orang lain, karena mereka merasa mendapatkannya dengan jalan sendiri. Mungkinkah, kekuasaan tanpa orang lain ? Justru yang terjadi sebaliknya, orang memiliki kekuasaan karena ada orang lain. Jika tidak ada orang lain, mungkinkah kekuasaan itu ada. Maka, kekuasaan sesungguhnya bukan milik pribadi-pribadi. Orang yang pertama akan dikoreksi zaman, adalah orang-orang yang tidak amanah.
Jika bangunan kesadaran keamanahan itu ada, maka akan memunculkan wajah kekuasaan penuh keikhlasan. Orang amanah, hampir pasti dan pasti ikhlas. Amanah yang ditopang dengan fondasi keikhalasan akan mendapatkan kekuasaan yang lebih besar dari tubuhnya sendiri. Seperti matahari yang selalu ikhlas memberikan sinar kepada siapa pun dalam jumlah yang sama. Pemimpin yang mewarisi sifat-sifat matahari akan memberikan sinar kehidupan kepada menteri, pengusaha sama persisnya dengan yang diberikan kepada fakir miskin.
Jika kekuasaan itu sudah amanah, dan ikhlas maka kejujuran bisa dihadirkan. Pertanyaan pentingnya adalah, seberapa besar kejujuran telah diberikan oleh para pemegang kekuasaan sekarang in I ? Jika tidak ada, maka koreksi zaman semakin dekat terjadi.
Pastikan, zaman akan memanggil generasinya sendiri.



Hendro Basuki
Pemimpin Redaksi Suara Merdeka

Sumber : blog.suaramerdeka.com

Rekan sejawat saya, seorang profesor di Taiwan, mulai memelihara ikan hias. Dia beli ikan arwana ukuran sedang.Warnanya merah, dikelilingi g...

Rekan sejawat saya, seorang profesor di Taiwan, mulai memelihara ikan hias. Dia beli ikan arwana ukuran sedang.Warnanya merah, dikelilingi garis-garis kuning. Profesor yang lainnya tak mau kalah, tapi ia memelihara ikan discus berwarna kuning.


Di akuarium itu ia memasang tanaman- tanaman air seperti yang sering kita lihat di sini.Ditambah batu-batuan berwarna, karang-karang kecil, pasir,dan sepotong kayu yang membuat akuarium terlihat indah. Sejak keduanya memulai itu, ratusan orang mengikutinya dan sekarang menjadi tren.

Hal serupa rupanya terjadi di negara-negara yang memiliki diaspora imigran dari China, tak terkecuali di Singapura, Malaysia, Filipina, dan Indonesia. Ikan-ikan hias asal Indonesia seperti arwana, discus, tetra, lohan, dan sebagainya yang berwarna merah dan kuning akan ramai diborong di tahun Naga Air yang mulai berlangsung pekan depan.

Tahun Pembersihan

Banyak ahli ramal yang percaya (saya sendiri kurang memercayai kalau horoskop dikaitkan keberuntungan) bahwa tahun Naga Air adalah tahun cerah, meski tak sedikit yang bakal kesulitan. Setiap ramalan sudah pasti tidak lepas dari sejarah dan kepribadian peramalnya. Setiap peramal pun berinteraksi di antara mereka, dan semakin hari semakin terkait dengan orang-orang yang minta diramal.

Mereka juga berinteraksi dengan media massa dan media jejaring sosial,sehingga pastilah saling memengaruhi satu sama lain. Para peramal itu juga mengaitkan dengan apa yang baru terjadi pada 2011. Mereka mengatakan, pada 2011 banyak musibah dan banyak bisnis di dunia yang mengalami kesulitan.Seorang ahli fengsui yang banyak dikutip warga keturunan Tionghoa http://www.- qualife-fengshui.com, bahkan mengaku sempat mengingatkan setahun lalu dia melihat dua buah bintang jatuh.

Akhir tahun lalu dia menyimpulkan (tentu saja setelah kejadian) bahwa ramalannya tepat. Satu bintang itu menandakan badai tsunami yang memorak-porandakan pulau di Jepang, dan satu lagi membuat banjir besar di Thailand. Mereka mengatakan enam bulan pertama di tahun Naga Air ini keadaan ekonomi dan alam masih berat, tetapi enam bulan berikutnya, awan gelap mulai pergi.

Ramalan ini agak mirip dengan omongan seorang paranormal yang setiap tampil kelihatan agak bodoh (tapi mobilnya hebat-hebat dan kliennya orang-orang terkenal). Ia mengatakan,tahun Naga Air itu sifatnya menjernihkan, mendinginkan. ”Jadi yang sifatnya panas di tahun 2011 akan jadi tenang di tahun ini.” Seorang empu fengsui lain sepakat dengan apa yang saya baca di sebuah web, bahwa tahun Naga Air itu seperti mempertemukan tanah yang keras dengan air yang melunakkan. Tanahnya menjadi lembek.

Kalau tak kuat betul, fondasi yang tipis dapat meluluhlantakkan bangunan besar. Jadi supaya hidup aman, alam ini harus diharmoniskan.Maka dari itulah mereka menyarankan agar pengusaha memelihara ikan hias di akuarium sebanyak sembilan ekor dengan lima unsur alam: ikan, air, tanah,tanaman,dan bebatuan. Kadang saya merasa lucu juga melihat orang-orang yang memercayai ramalan-ramalan seperti ini.

Bukankah hidup ini bukan sekedar horoskop? Tetapi begitulah, lebih banyak orang yang memercayainya daripada tidak. Dulu, sewaktu membangun rumah, saya juga tidak mempercayai fengsui. Tetapi saat kedatangan tamu seorang yang mengerti fengsui, dia mengingatkan saya ”Kalau enggak dituruti, nanti rumah Bapak sulit dijual.”

Saya tetap bergeming, tetapi teman-teman saya mendesak agar diikuti saja. Belakangan ahli fengsui itu geleng-geleng kepala. ”Saya heran, rumah ini dibuat tanpa rumus fengsui, tapi sudah fengsui. Jadi tidak perlu ada yang diubah kecuali memasang gantungan yang bisa berbunyi di depan pintu,”ujarnya.

Ekonomi Imlek

Jadi tahun Naga Air bagi sebagian orang adalah tahun pembersihan diri. Sebagai ketua Aksi (Asosiasi Kewirausahaan Sosial Indonesia) tentu saya percaya pembersihan diri dan menjadi lebih peduli itu penting. Lihat saja empat tahun terakhir ini kita disajikan tipuan-tipuan ekonomi kelas dunia yang luar biasa.

Eksekutif-eksekutif yang rakus di Wall Street tetap berpesta pora dengan bonus jutaan dolar dari biaya masyarakat pembayar pajak yang kehilangan pekerjaan garagara ulah mereka. Jago-jago keuangan, sarjana- sarjana hebat, sampai pejabat ikut-ikutan mencuri. Bahkan di New York, Detroit, Madrid, dan Paris saja kapitalisme tengah menjadi bulanbulanan demo besar gara-gara orang-orang yang rakus dan ingin cepat kaya itu.

Di Indonesia sama saja. Para politisi kehilangan respek karena mencuri uang rakyat. Belakangan rektor sebuah universitas negeri yang juga mahaguru pun dilaporkan masyarakat atas perilakunya yang menggunakan uang mahasiswa untuk urusan fitnes dan membiayai piaraannya (pets). Sudah begitu, dia pun dilindungi sejumlah menteri dan pejabat tinggi.

Bahkan ada yang bilang kerugiannya masih kecil, bagaimana kalau yang kecil itu bermuara jadi besar? Bukankah itu melanggar kepatutan? Rakyat masih harus berteriak keras untuk mendapatkan keadilan. Usaha-usaha kecil dan besar juga banyak yang masih berbohong. Belum berusia genap 5 tahun dan belum tentu bisnisnya untung, usaha baru sudah berani di franchise-kan.

Pelaku usaha yang besar sama saja, banyak yang mengambil tanah rakyat melalui tangantangan kotor. Nama-nama seperti Gayus,Nazaruddin,dan Malinda Dee menjadi headlines sepanjang hari. Setelah itu di tahun 2011 hidup kita dikuasai debt collector,preman berjubah agama,SMS sedot pulsa,tipuan melalui ATM, sampai perampasan- perampasan besar.

Jadi apalagi yang harus dilakukan kalau bukan pembersihan diri dan membangun ”giving culture”? Itu perlu dilakukan kalau Anda tak menginginkan anak-cucu sendiri menjadi korban di jalan seperti tragedi yang dialami oleh seorang anak balita yang tahun lalu ditabrak mobil di China, dan didiamkan oleh sembilan orang yang melewati anak itu setelah kejadian. Yua-Ywe, nama anak itu, akhirnya tewas beberapa hari kemudian.

Dari sebab itulah eksekutif harus bisa turut membangun bangsa dengan mengembangkan ”giving culture” sekaligus mentransformasi budaya perusahaan dari I-Centric (berpusat pada individu dengan performance management- KPI), menjadi We-Centric (berpusat pada kepentingan yang lebih luas, dengan mempertimbangkan apa akibatnya bagi kita semua).

Transformasi ini diperlukan untuk mengembalikan rasa aman dan membuat hidup ini lebih harmonis. Para ahli juga mengatakan, semakin ke sini ekonomi imlek akan semakin meriah.Di luar Asia, Imlek mulai dirayakan oleh berbagai bangsa lain. Di Amerika Serikat dan banyak negara Eropa, ornamen-ornamen imlek dan barongsai semakin kental mencuat. Bangsa-bangsa di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia, juga sudah mulai bisa memetik keberuntungan dari libur panjang yang jatuh pada hari Senin besok.

Pesawat-pesawat terbang yang menjalani ruterute ke daerah-daerah tertentu di mana diaspora warga keuntungan Tionghoa berada mulai padat. Di Kuala Lumpur, saya membaca Malaysia Airlines telah menambah 32 penerbangan ekstra sebelum dan setelah perayaan Imlek untuk mengakomodasi permintaan.

Menurut harian India Today,di China sendiri, airlines dipaksa menambah 14.000 (betul, empat belas ribu) tambahan jadwal penerbangan selama festival musim semi (Imlek) berlangsung. Orang-orang Asia ini memang sedang kelebihan uang. Berbeda dengan saudara-saudara kita di Eropa dan Amerika yang selain tengah kedinginan juga kesulitan. Harap diingat, bagi orang Asia, Naga adalah simbol shio terkuat, puncak.

Naga adalah lambang dari kesejahteraan, keberuntungan, dan kemakmuran. Diramalkan, rumah-rumah sakit bersalin akan kebanjiran pasien yang ingin agar anaknya lahir pada tahun shio naga. Bahkan menurut majalah Business Week, permintaan terhadap produk-produk bayi diramalkan akan menjadi penggerak ekonomi yang penting.

Di Amerika Serikat saja, diberitakan sejak November lalu sudah di cetak uang kertas dengan tema khusus, Year of Dragon – dengan nomor seri dimulai dengan angka 8888.Uang khusus ini bisa dipesan pada www.moneyfactorystore.gov.

Akhirnya saya ucapkan selamat menyambut tahun baru Imlek. Kita semua tentu sepakat, pembersihan diri itu penting, agar tetap selamat dan sejahtera. Gong Xi Fat Chai!” 

RHENALD KASALI Ketua Program MM UI

seputar-indonesia.com

Menurut PBB, tahun ini adalah tahun koperasi. Bangsa-bangsa besar,tak ketinggalan Thailand dan Malaysia, berlomba-lomba menunjukkan kepada d...

Menurut PBB, tahun ini adalah tahun koperasi. Bangsa-bangsa besar,tak ketinggalan Thailand dan Malaysia, berlomba-lomba menunjukkan kepada dunia, mereka pun memiliki koperasi kelas dunia.Bagaimana Indonesia?


Bukankah kita lagi asyik dengan UMKM nonkoperasi? Untuk menjadi pegangan para pelaku koperasi, International Cooperative Alliance (ICA) mengeluarkan peta yang berisi daftar 300 koperasi kelas dunia. Di dalam daftar itu terdapat koperasi-koperasi besar seperti Credit Agricole Group (Prancis), Zen Noh (Jepang), Rabo Bank (Belanda), California Dairies (Amerika Serikat/ AS), IFFO (India), Fair Price (Singapura), dan Bank Rakyat (Malaysia). Semula saya berharap akan ada beberapa koperasi Indonesia yang masuk dalam daftar itu,tetapi saya harus kecewa menerima kenyataan tidak ada.

Padahal, kurang apa ya negeri ini? Penduduk prasejahtera masih banyak, kementerian yang menangani khusus koperasi juga ada, APBN-nya pun disediakan. Tidak ada badan hukum usaha lain yang diajarkan di sekolah sejak SD selain koperasi. Koperasi juga dijadikan praktik di sekolah-sekolah. Indonesia juga tidak kurang mengenal tokoh-tokoh koperasi, termasuk pendiri negeri ini Bung Hatta. Sementara di Inggris, Belanda, dan AS yang sangat kapitalis, koperasi justru berjaya. Ada apa gerangan?

Ideal dan Komersial

Di Harvard, bila Anda sempat, mampirlah ke toko buku dan suvenir kampus. Anda akan menemukan sebuah toko besar yang dikelola secara profesional. Mahasiswa dan pengunjung menyebutnya COOP yang artinya koperasi. Adalah hal yang biasa bila orang menyebut coop-number yang berarti nomor keanggotaan dalam koperasi. Mereka adalah pemegang saham sekaligus pelanggan, mengeluarkan uang dan mendapat dividen.

Di Inggris,gerakan koperasi juga tak kalah hebatnya. Adalah biasa orang menyebut vivid number yang berarti nomor keanggotaan koperasi. Salah satu kelompok usaha berbasis koperasi yang besar adalah The Co-Operative Group yang bergerak dalam spektrum usaha yang sangat luas dengan 3 juta anggota dan 4.500 gerai. Mereka bergerak dalam bidang ritel, makanan, asuransi, perbankan, travel, farmasi, jasa pemakaman, jasa hukum, investasi, toko online, listrik, dan hotel. Di Indonesia kita mengenal Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) yang masih memiliki gedung bertingkat di jalan bergengsi di Jakarta, tetapi kiprahnya sudah lama tak terdengar.

Demikian pula Puskowan Jati yang sangat populer di Jawa Timur, Koperasi Unit Desa Setia Kawan di Nangkojajar, koperasi-koperasi susu, Inkopad, Inkopal dan Inkopol serta Inkopau. Tapi semakin hari koperasi di sini mulai jarang disebut.Apalagi, dukungan pemerintah pada sektor pertanian menyusut, lahanlahan pertanian menyempit, dan usaha yang sarat subsidi (seperti pupuk) berpindah ke tangan para makelar dan orang-orang partai politik. Mudah-mudahan saya salah dan saya berharap koperasikoperasi kita gegap gempita seperti di era Orde Baru.

Namun,di sisi lain,saya mendengar ada secercah harapan, yaitu berkembangnya koperasi-koperasi simpan pinjam (KSP) yang banyak menggarap sektor microfinance. KSP-KSP ini bisnisnya berkembang karena dikelola secara profesional dengan manajemen mirip perbankan. Hanya saja tak semua sektor microfinancedikuasai koperasi. KSP harus bekerja lebih keras lagi karena mereka harus berhadapan dengan bank-bank besar, bank-bank asing, lembaga- lembaga keuangan mikro, BPR,dan tentu saja KSP asing dari Bangladesh, India, dan Eropa.

Refleksi Kelas Dunia

ICA menyebutkan di seluruh dunia, usaha koperasi menyangkut kepentingan lebih dari 1 miliar penduduk dunia yang terlibat baik sebagai anggota, konsumen maupun pengurus dan pegawai. Dari global 300 koperasi dunia saja, penghasilan yang diciptakan telah mencapai USD1,6 triliun,yang berarti setara dengan produk domestik bruto (PDB) salah satu negara nomor 9 terbesar di dunia. Ke-300 koperasi kelas dunia itu ada di 25 negara dengan penghasilan terbesar,yaitu ada di Prancis (28%), AS (16%), Jerman (14%), Jepang (8%), Belanda (7%), Inggris (4%), Swiss(3,5%), Italia (2,5%) Finlandia (2,6%),Korea (2%) dan Kanada (1,75%).

Kalau di negara-negara kapitalisme itu saja koperasi bisa menjadi besar, mengapa di Indonesia tidak? Apakah mungkin karena koperasi telah salah dibina birokrat-birokrat yang tak paham bisnis sehingga terlalu kental aturan dan masalah ideal saja? Atau jangan-jangan cara pengelolaannya yang masih–– maaf–– primitif, berpikir kecil,merasa miskin dan kurang berani merekrut kaum profesional? Atau bisa juga bidangbidang usaha yang ditekuni sangat terbatas pada bidangbidang usaha bernilai tambah rendah sehingga masih bermimpi mengandalkan tangan pemerintah? Semua mungkin saja.

Tapi marilah kita berefleksi dengan melihat apa yang dilakukan oleh koperasi-koperasi kelas dunia. Pada dasarnya, kata kelas dunia itu sendiri adalah kata yang rancu dan sangat mudah dipakai sekadar untuk “keren-kerenan” saja. Padahal, kata kelas dunia mencerminkan sesuatu yang “besar”. Kata “besar” itu sendiri bisa berwujud luas,mulai dari aset,pasar,pendapatan, jumlah pegawai hingga jangkauan usaha dan seterusnya. Namun belakangan saya melihat kecenderungan kata “besar” dalam status kelas dunia mulai ditinggalkan karena banyak usaha-usaha yang besar menimbulkan masalah.

“Besar” dari ukuran-ukuran tadi ternyata identik dengan kerakusan, skandal, arogansi, tidak bersahabat (dengan pelanggan dan society), dan bahkan “besar” identik dengan kesejahteraan semu (illusionary wealth). Setiap kali terjadi krisis, lembaga-lembaga usaha yang “besar” selalu menjadi beban bagi suatu bangsa karena tidak fleksibel, terlalu hierarkis, terlalu I-Centric,banyak utang,terlibat masalah-masalah etika dan salah urus.Padahal “besar” juga berarti magnet, yang menarik orang-orang terbaik, lulusan universitas-universitas terkemuka dan seterusnya.

Oleh karena itulah pengertian kelas dunia mulai bergeser. Ia bukanlah urusan besar dan peringkat prestasi keuangan melulu.Para ahli melihat, kata “respect”,“admire” (dihormati, dikagumi) menjadi lebih bermakna dan lebih diterima.Jadi, ukurannya bukan lagi sekadar value (nilai, angka), melainkan juga values (bernilai, bermakna, kearifan). Value adalah sasaran dari kapitalisme, sedangkan gabungan value dan values adalah miliknya koperasi. Koperasi kelas desa biasanya terpukau dengan “values” belaka sehingga jalan di tempat, sedangkan koperasi kelas dunia menyeimbangkan keduanya.

Bahkan dengan bekal values–nya itu, mereka berjuang keras menjadi role model dalam industri masing-masing seperti menjalani prinsip-prinsip crackership dalam konsep Cracking Zone. Saya masih punya rekaman kuat saat tinggal beberapa minggu di sebuah desa di kaki Gunung Bromo lebih dari 20 tahun lalu. Di sana saya berdialog dengan para peternak susu dan pengurus Koperasi Susu Setia Kawan.Sebuah desa yang hidup, ceria, dan penduduknya sejahtera karena koperasi.

Pengurus-pengurus koperasi aktif mencari formula- formula baru dalam berbagai hal.Mereka mencari cara agar sapi-sapi mereka sehat dan produktif, mengembangkan teknologi, pakan ternak, dan alat transportasi susu yang terbebas dari kerusakan kualitas dan seterusnya. Tapi di sisi lain,mereka juga aktif membangun masyarakat, merekatkan nilai-nilai, mengubah perilaku-perilaku buruk warisan Ken Arok dan Kebo Ijo (dalam sejarah Singosari), membuat para peternak nakal lebih jujur dan tak mencampur susu dengan air atau santan, menciptakan kegembiraan di antara penduduk saat menyetor susu, serta membentuk cara-cara pengelolaan uang yang sehat.

Rakyatnya sehat dan sejahtera, koperasi juga sehat dan sejahtera.Tapi untuk menjadi role model, tuntutannya tentu lebih besar lagi.Koperasi tak boleh berpuas diri menjadi pemain- pemain kelas desa,sebab seperti KSP-KSP, mereka juga berhadapan dengan sistem ekonomi liberal yang memaksa mereka unggul dalam bersaing. Koperasi harus kompetitif dan dikelola dengan mengikuti zamannya.

Koperasi harus menjadi matahari dengan magnet yang kuat untuk menarik the best talent, the best product,dan the best system . Selamat merayakan Tahun Internasional Koperasi dan jadilah warga dunia berkelas yang dihormati.●

RHENALD KASALI
Ketua Program MM Universitas Indonesia

Ditengah maraknya aplikasi messenger, Facebook menghadirkan aplikasi messenger mandiri untuk penggunanya bagi pengguna PC maupun notebook. M...

alt

Ditengah maraknya aplikasi messenger, Facebook menghadirkan aplikasi messenger mandiri untuk penggunanya bagi pengguna PC maupun notebook. Meski beberapa aplikasi messenger lain bisa mengadopsi percakapan antar pengguna Facebook seperti YM, Pidgin, digsby atau Trillian, Facebook Messenger (FM) dihadirkan Facebook sebagai pelengkap dari fungsi chat-nya yang makin populer.

Tidak hanya untuk chat saja, FM juga bisa digunakan untuk melihat notification, friends request, hingga tampilan update status, layaknya feature pada Facebook versi web-nya.

Namun beberapa fungsi yang terdapat pada Facebook berbasis web seperti chat dengan beberapa orang sekaligus, video calling, pembatasan chat, serta pengaturan setting, belum disertakan disini. Facebook sendiri akan melihat sejauh mana perkembangan aplikasi ini ke depannya. Jadi ada kemungkinan kekurangan tadi bisa ditampilkan nantinya. Sementara ini FM hanya tersedia pada sistem operasi Windows 7 saja.

Meski masih dalam tahap percobaan (trial), FM telah bisa digunakan dan berfungsi dengan baik. Anda yang tidak sabar ingin mencobanya bisa mengunduhnya di alamat ini. Nantinya proses instalasi dilakukan secara online berbasis web installer. Untungnya aplikasi ini berukuran kecil sehingga tidak terkendala bagi yang memiliki koneksi internet terbatas.

Saat pertama login, secara otomatis Anda akan diarahkan ke aplikasi dan web facebook. Meski demikian Anda tetap bisa menggunakan FM walaupun telah logout dari situs Facebook. Tampilan FM ini sekilas mirip dengan YM, jadi pengguna tidak akan dipusingkan dengan cara penggunaannya yang cukup mudah.

Sumber : infokomputer.com

oleh : Rhenald Kasali Saya sedang berada di atas Kepulauan Maluku Utara saat pesawat yang mengangkut sekitar 50 penumpang miring ke kiri men...

oleh : Rhenald Kasali

Saya sedang berada di atas Kepulauan Maluku Utara saat pesawat yang mengangkut sekitar 50 penumpang miring ke kiri menghadap matahari yang baru saja terbit. Di sebelah saya duduk anak muda asal Pomalaa, Kolaka, yang dari tadi ribut dengan pramugari yang mempersoalkan TV datar yang harus ditaruh di kabin belakang. Dia bersikukuh menggenggamnya erat-erat di pangkuan kendati dilarang. Dia ingin membekapnya seperti ibu yang memeluk tas kulit berlogo LV di pangkuannya.

Dari obrolan dengannya, dia mengatakan, TV adalah satu-satunya hiburan untuk mengatasi suntuk di tambang. Dari ketinggian dia menunjuk gundukan tanah merah pada bukit-bukit gundul di Pulau Halmahera -yang isi perutnya sudah dikorek, diangkut dengan kapal ke sebuah pelabuhan di Tiongkok.

Di Buli, saya menyaksikan alam yang kaya, namun miskin infrastruktur. Lubang jalan sedalam 60 sentimeter, jembatan rapuh, dan hanya menjadi mulus kalau diperbaiki perusahaan. Pemda seakan tertidur.

Di balai desa, saya disambut beberapa pria mirip preman stasiun kereta api Wonokromo. Di sana saya diminta mengajarkan cara “naik kelas” kepada sekitar 30 pemilik warung, petani sagu, dan pengusaha minyak goreng. Ada rasa waswas mengajar di balai desa yang mesin dieselnya berbunyi keras, sementara pesertanya berwajah sangar dan jauh dari sentuhan pengetahuan. Namun, alhamdulillah, mereka ternyata baik hati, rindu kesejahteraan, dan punya selera humor yang tinggi. Apalagi, setelah saya katakan bahwa wajah mereka seperti preman.

Di sebuah hotel di Sulawesi Tenggara yang menghadap ke laut, saya juga menemui pemandangan serupa. Beberapa pegawai tambang bercakap-cakap dengan pria India pemburu kakao dan nikel. Yang satu bergelang emas, yang satu memegang iPad yang sayang sekali tak bisa mengakses data.

Di Berau, Kalimantan Timur, setelah berebut naik ke pesawat kecil, dari udara saya juga melihat areal tambang bertanah merah pada bukit-bukit yang gundul. Di dalam pesawat saya bertemu orang Malaysia dan Tiongkok yang berbicara soal geologi batuan. Namun, begitu mendarat saya menyaksikan sebuah ambulans kumuh yang mengangkut orang tua yang tengah sekarat, dengan tabung infus yang sejak tiga jam lalu mengharapkan bantuan agar bisa diangkut dengan pesawat ke rumah sakit di kota terdekat.

Lexus and Olive Tree

Beberapa tahun lalu, jurnalis senior Thomas L. Friedman menulis buku Lexus and the Olive Tree yang pada awal abad ini menjadi buku bacaan wajib di program doktoral ilmu manajemen FEUI. Dia mengatakan, dunia baru yang ditandai globalisasi selalu ditandai oleh pertarungan dua kepentingan, yaitu antara mereka yang mengejar kekayaan (the lexus) dan mereka yang masih bertempur mempertahankan identitas lama (pohon zaitun, the olive).

Friedman melukiskan globalisasi dari pengalamannya menikmati sushi di kereta api secepat peluru di Jepang, sementara bacaannya adalah konflik tiada akhir di Timur Tengah. Konflik yang mempertahankan old identity, seperti petani di Mesuji, atau petambang di Bima dan para pemburu yang kehilangan lahan di Papua dan Kalimantan.

Untuk konteks Indonesia, kita ganti saja pohon zaitun itu dengan minyak kayu putih yang tumbuh alami di Pulau Buru. Seperti itulah mungkin pertarungan yang tengah dialami bangsa ini. Dalam satu keranjang persoalan kita mempersoalkan subsidi untuk petani yang hanya dinikmati pabrik pupuk dan petinggi partai, namun membanggakan ekspor kekayaan alam besar-besaran dengan pertumbuhan yang mengesankan.

Di atas tanah yang kaya ini, kita tak menyaksikan pemandangan berbeda dengan yang sehari-hari tampak di lembah Yerikho, tak jauh dari Jerusalem yang saya lihat akhir tahun lalu. Orang-orang tua berjanggut panjang dengan wajah bersahaja menunggang keledai sambil menarik gerobak berisi buah tomat segar. Sementara lima kilometer di sebelahnya, di Jerusalem, kelompok Yahudi kaya dengan janggut yang tak kalah panjang, dengan jas dan topi hitam menjulang tinggi menenteng istri mengenakan gaun dari bahan fur yang sangat mahal, yang tengah hamil sambil membawa buku matematika dan sebuah biola.

Pemandangan serupa saya saksikan di Tiongkok sepuluh tahun lalu, atau di Kota Namlea-Pulau Buru, yang memiliki masjid dengan kubah biru muda yang begitu indah di kantor bupati, namun penuh kemiskinan di tanah Wailo tak jauh dari ribuan hektare pematang sawah Savana Jaya yang dulu dibangun para tapol. Di kota, para pejabat menggenggam ponsel terbaru dan asyik mengoleksi Pajero. Sedangkan pada jarak kurang dari satu jam bersepeda motor dari Namlea saya menemukan tak satu pun penduduk asli yang memiliki pacul untuk berkebun cokelat. Penduduk asli masih menenteng parang dan beberapa bilah anak panah dengan ribuan ekor sapi yang kurang perhatian.

Indonesia di awal abad ke-21 tak ubahnya dengan Israel di awal abad ini, atau Tiongkok sepuluh tahun lalu. Keduanya sudah dikenal sebagai bangsa yang hebat dan kita berharap Indonesia pun menyusul. Dalam mengejar itu, kita tengah bergulat antara mempertahankan identitas dan nilai-nilai lama yang mulai luntur kebaikan, dengan nilai-nilai baru yang datang terlalu keras dengan semangat kompetisi dan teknologi digital, dan ingin cepat kaya.

Kata Friedman, di era yang berubah cepat dan sarat kebohongan serta nilai-nilai yang buruk ini, para pemimpin besar hanya diberi sedikit pilihan, yaitu bagaimana membangun keluhuran dari identitas lokalnya dengan memahami secara mendalam makna globalisasi. Katanya, “if you can’t see the world, and you can’t see the interactions that are shaping the world, you surely cannot strategize about the world.” Makanya, banyak bangsa sulit keluar dari perangkap kemiskinan. Mereka hanya bergerak-gerak, berselancar dalam peta ekonomi makro yang jauh dari geliat rakyat.

Makroekonomi yang jauh dari peta kemiskinan riil, ditambah bergerak tanpa filosofi strategi hanya membuat bangsa-bangsa besar jalan di tempat. Dia menandaskan, “you need a strategy for how to choose prosperity for your country or company.” Ini diaminkan guru besar ilmu strategi Pankaj Ghemawat yang beberapa waktu lalu datang ke sini. Dia mengatakan, Indonesia harus think BIG, Boosting Indonesia Growth. Untuk mem-boosting growth itu, kata Michael Porter (Harvard), Indonesia butuh banyak perusahaan dengan sophisticated management.

Apakah main keduk sumber daya alam, atau kalau menjadi wirausaha muda hanya asyik bermain kuliner dan gemar mewaralabakannya sebelum untung (syarat lima tahun operasi, produk unik, merek kuat, dan sudah untung tak dipenuhi) juga mencerminkan dari keengganan membangun company with a sophisticated management?

Pengambil dan Penghindar Risiko

Dalam situasi yang bertempur antara the lexus and the olive di sini, pada 15 Desember lalu Indonesia mendapat oleh-oleh yang diantarkan Fitch Ratings yang sudah Anda dengar semua apa adanya. Dalam situasi itu, lagi-lagi kita berhadapan dengan proses globalisasi yang menakutkan sebagian orang, namun tak bisa dihindarkan. Banyak orang gembira karena ini berarti Indonesia telah keluar dari satus junk bonds (alias surat utang berisiko tinggi, noninvestment grade menjadi investment grade.

Namun, siapakah sesungguhnya yang datang bermain dalam sektor keuangan dan investasi di sini dengan berpatokan pada rating global terbitan Fitch, S&P atau Moody’s? Saya kira jelas, mereka adalah para penghindar risiko yang tidak mencari margin yang besar. Cukup moderat saja, yang pasti aman. Padahal, di sisi lain, lebih dari 10 tahun, investor yang datang ke Indonesia dan turut membentuk DNA bangsa ini adalah investor pengambil risiko. Mereka inilah yang telah membuat kita hidup dalam paradoks: eksplorasi-eksploitasi, uang panas-governance, tumbuh cepat-prudent, profit-control, sustainability sekaligus merusak alam.

Dalam situasi seperti ini, pantas kalau banyak orang yang merasa confused. Indonesia ini sedang menjadi kaya, atau sedang menjadi miskin? Bapak Soa di Wailo, Pulau Buru, mengatakan, penduduknya punya lima hektare kebun, 300 pohon kakao, tiga puluh sapi, namun anak-anak mereka tak bisa bersekolah dan kalau sakit cepat mati. Bagi The Fitch harta sebanyak itu mungkin berarti kaya, tapi bagi Bapak Soa, itu berarti miskin.

Demikianlah paradoks ekonomi, saat rating The Fitch diumumkan, banyak orang senang, tapi wirausahawan sejati berpikir lain. Rating itu bisa berarti aset semakin mahal di sini. Di pesawat Garuda yang membawa saya dari Jayapura ke Sorong, duduk seorang pengusaha nasional yang menguasai bisnis di Indonesia Timur. Kala sebagian besar politisi marah karena Papua diabaikan, dia justru melihatnya sebagai peluang. “Ini saatnya membeli pesawat kecil di Eropa, bukan membeli dari sini. Saat Eropa dilanda krisis, kapal-kapal dilego seperempat dari harga normal,” ujarnya.

Dia pun membeli sebelas pesawat untuk bisnis logistik di timur. Kata pedagang ponsel di Jayapura, dua tahun lalu mereka diberi tip seratus ribu rupiah untuk menyeting setiap ponsel yang dibeli pelanggannya. Kini tipsnya bisa dua juta rupiah. “Mencari uang lima ratus ribu rupiah di Jayapura itu biasa sehari-hari,” ujarnya. Tetapi, orang Papua juga hidup dalam paradoks, “Tak punya uang tidur di kamar di atas kasur, punya uang tidur di got bersama miras.”

Jadi, apa artinya rating global kalau tak pandai mengambil posisi? Makanya, jangan duduk diam di belakang kursi, bertingkah seperti juragan tua atau ambtenar. Datang-kunjungi-bicara-dengarkan- ambil posisi dan lakukan secepat kilat di lapangan. Tapi, kalau mau selamat, jangan kubur nilai-nilai luhur untuk menghadapi tahun-tahun yang paradoks. Hanya orang berhati bersihlah yang bisa melihat kebenaran. Ayo bangun! (*)

Pengingkaran terhadap kebenaran menyebabkan mekanisme penegakan hukum terus menggugat hakikat kebenaran itu sendiri.Kebenaran ditafsirkan se...

Pengingkaran terhadap kebenaran menyebabkan mekanisme penegakan hukum terus menggugat hakikat kebenaran itu sendiri.Kebenaran ditafsirkan sebagai kepentingan kekuasaan dan pengadil.


Potret penegakan hukum 2011 pun identik dengan tontonan sirkus yang mengecewakan, memalukan sekaligus menakutkan, dan memprihatinkan. Untuk meyakinkan publik atau sekadar memuaskan dahaga pers, badut-badut sirkus penegakan hukum tampil di ruang publik menyosialisasikan konstruksi sejumlah kasus itu.

Menggunakan kewenangan, didukung dalih hukum yang ditafsirkan sesukanya, badut-badut itu merekayasa dan menyulap salah menjadi benar dan benar menjadi salah. Sirkus dan ulah para badut tadi, plus kepentingan sempit kekuasaan dan uang suap, menyebabkan hukum di negara ini tidak memiliki kepastian lagi. Sudah barang tentu publik merasa geli dan bingung menyikapi kebuntuan proses hukum Skandal Bank Century.

Ketua KSSK mengaku hanya bersedia bertanggung jawab atas sekitar Rp680 miliar lebih dana talangan. Kalau jumlah yang dicairkan sampai Rp6,7 triliun,bukankah angka itu sudah menunjukkan ada penyimpangan dalam bailout dan valid sebagai bukti? Kalau dikatakan belum ada bukti, itu jelasjelas kebohongan.

Apalagi surat SMI kepada Presiden mengonfirmasi ada penyelewengan itu, yakni data BI tidak akurat. Publik pun dibuat tercengang ketika menyimak isi dakwaan terhadap aktor utama kasus dugaan suap proyek Wisma Atlet SEA Games Muhammad Nazaruddin. Dakwaan itu memperlihatkan ada penjungkirbalikan fakta pengakuan Nazaruddin.

Nama-nama penting sebuah partai politik dan seorang menteri yang keterlibatannya telah berulangkali diteriakkan Nazaruddin sama sekali tidak disebut- sebut dalam dakwaan itu. Dalam kasus mafia pajak, upaya membohongi publik praktis gagal total.Karena disebut mafia,publik langsung mendeskripsikan kasus ini sebagai sebuah organisasi kejahatan dengan spesialisasi penggelapan atau pencurian pajak negara.

Organisasi mafia punya anggota banyak dengan jaringan luas. Ketika Gayus Tambunan akhirnya berhasil dibawa pulang ke Jakarta oleh Satgas Pemberantasan Mafia Hukum (PMH),publik membayangkan Gayus yang eselon bawah di Direktorat Jenderal Pajak akan menyebut sejumlah nama.Lagilagi, penegak hukum menghindar dari kewajibannya memeriksa sosok-sosok penting yang diduga terlibat kejahatan.

Kebijakan Amatiran

Penanganan kasus pemalsuan surat Mahkamah Konstitusi (MK) pun sama menggelikannya. Faktanya dijungkirbalikkan agar pihak yang melaporkan memenuhi syarat menjadi tersangka. Mantan panitera pengganti MK,Zaenal Arifin Hoesein, ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini. Padahal, Zaenal yang melapor pemalsuan itu kepada Ketua MK Mahfud MD.

Sementara mantan pejabat KPU Andi Nurpati yang kini menjadi petinggi partai berkuasa yang diduga terlibat praktis belum ditetapkan statusnya sebagai tersangka. Padahal,kesaksian para terperiksa nyata-nyata memojokkan mantan pejabat KPU itu. Kasus aneh yang tetap menjadi perhatian publik hingga kini adalah suap cek pelawat dalam pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia 2004.

Tanpa pernah mendengar keterangan atau kesaksian dari pihak yang melakukan suap, sejumlahorangdivonisbersalah dan dipenjarakan. Setiap kali ditanyakan siapa penyuap sesungguhnya dan kapan akan ditangkap, penegak hukum hanya bisa berdalih. Setelah sekian lama, baru sekarang terbuka kemungkinan untuk mengungkap sosok pemberi suap dalam kasus ini.

Kepentingan kekuasaan dalam proses penegakan hukum tampak jelas dalam kebijakan pengetatan remisi bagi terpidana koruptor dan terorisme. Sudah diperkirakan sebelumnya bahwa kebijakan ini bakal menimbulkan guncangan politik. Kebijakan itu abnormal sejak proses perumusannya.Banyak kalangan sudah mengingatkan bahwa kebijakan ini melanggar Undang-Undang Nomor 12/1995 tentang Pemasyarakatan dan Peraturan Pemerintah Nomor 28/2006 tentang Remisi.

Begitu diumumkan ke publik, kebijakan ini dihujani kritik dan kecaman.Sadar bahwa penggunaan kata moratorium itu salah,Wamenkumham Denny Indrayana buru-buru mengubahnya menjadi pengetatan. Dia melakukan perubahan itu dalam hitungan jam. Dari situ, tergambar jelas betapa rapuhnya kebijakan pengetatan remisi itu.

Fenomena Berbahaya

Fenomena penegakan hukum sedang mempertontonkan preseden sangat buruk. Rakyat kecewa karena terusmenerus dibohongi. Sebagai bangsa,rakyat merasa malu karena penegakan hukum dikelola dengan manajemen kebohongan publik. Para ahli hukum mengimbau Presiden agar peduli pada keanehan proses penegakan hukum sekarang ini.Toh, pada akhirnya Presiden tampak ambivalen.

Dalam kasus perburuan Nazaruddin, Presiden bisa mengeluarkan instruksi terbuka kepada Polri untuk menangkap Nazaruddin.Itu bukan intervensi hukum, melainkan kepedulian terhadap penyelesaian sebuah masalah. Pertanyaannya, kalau Presiden begitu peduli pada kasus Nazaruddin,mengapa kadar kepedulian yang sama tidak diberikan terhadap kasus lain? Semua kejanggalan dalam proses penegakan hukum itu mengindikasikan masih kuatnya peran mafia hukum.

Artinya, pemberantasan mafia hukum sudah bisa dikatakan gagal total.Karena itu,masa tugas Satgas Pemberantasan Mafia Hukum (PMH) tak perlu diperpanjang. Satgas ini makin nyata tidak berperan manakala vonis bebas puluhan terdakwa koruptor terjadi di sejumlah Pengadilan Tipikor.

Singkat kata, tahun 2011 merupakan tahun kelam kemanusiaan dengan terjadinya peristiwa Mesuji dan NTB dan tahun penjungkirbalikan hukum untuk kepentingan kelompok tertentu. Memasuki 2012 pun menurut saya tidak akan membawa perubahan yang berarti. Hampir tidak ada celah untuk terjadinya situasi hukum yang kondusif. Imbas politik sandera yang terjadi selama pemerintahan SBY-Boediono sejak 2009 akan terus mewarnai hingga tahun depan.

Tarik-menarik kepentingan elite akan terus meningkat yang berakibat mandeknya penegakan hukum. Kasus korupsi besar yang terjadi tidak akan terselesaikan dengan baik. Tak aneh bila kemudian kasus- kasus korupsi besar yang terjadi pada 2011 akan terus menjadi batu sandungan pemerintahan SBY-Boediono pada 2012. Menurut saya, kasus Century pada 2012 akan ‘meledak’ menjadi lebih besar.

Kekecewaan penanganan kasus Century dan hasil audit forensik BPK yang jauh panggang dari api akan berujung pada hak menyatakan pendapat. Bila itu terjadi, kegaduhan politik akan mengiringi pergantian pemerintahan SBY dengan pemerintahan baru. BAMBANG SOESATYO Anggota Komisi III DPR Fraksi Partai Golkar