Berdasarkan rapat pleno KPU Jakarta Selatan di Hotel Maharadja, Mampang, Jaksel, Selasa, (17/7/2012), diketahui warga yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam Pilkada alias golput, berjumlah 559.201 pemilih dari total daftar pemilih tetap (DPT) yang berjumlah 1.506.981 pemilih.
Sementara yang menggunakan hak pilih ada 947.780 pemilih atau 62,89 persen dari total pemilih yang tercatat dalam Daftar Pemilih Tetap KPU Jakarta Selatan. Artinya ada 37 persen warga yang tidak memilih. Hal yang sama dijumpai juga di wilayah lain, dimana jumlah golput lebih tinggi dari perolehan suara semua pasangan kandidat.
Menurut Ketua Pokja pemungutan suara, Sumarno, hal tersebut salah satunya disebabkan karena publik kurang percaya dan berasumsi setiap calon gubernur tidak bakal mendatangkan perubahan bagi Jakarta.
"Ada beberapa kemungkinan banyaknya masyarakat yang memilih golput, misalnya ketidakpercayaan terhadap pejabat negara yang korup, masalah sosialisasi yang kurang, dan ketidakpercayaan terhadap partai politik," ujar Sumarno, Selasa. "Apalagi masyarakat Jakarta banyak yang kritis dan terdidik," lanjutnya.
Menanggapi tingginya angka golput dalam pilgub di Jakarta Selatan yang mencapai 37 persen, KPU Jakarta Selatan, Ahmad Fachrudin usai rapat pleno rekapitulasi perolehan suara tingkat Kota Jakarta Selatan, menerangkan bahwa banyak masyarakat berpendidikan di Indonesia namun tidak berarti melek politik. Justru ada kecenderungan mereka tidak menyampaikan aspirasi politiknya.
"Saya kira faktor yang paling memicu adalah banyaknya kelas menangah di Jakarta Selatan. Mereka berpendidikan dan berpenghasilan cukup namun belum tentu peduli dengan aspirasi politiknya," ungkapnya
Sumber : kompas.com