berbagi informasi tentang Public Service. sementara fokus pada Pelayanan publik di Kota Semarang

(Bukan) Sabak Pendidikan adalah wahana penting mengasah integritas. Mengapa ironisme muncul? Apa yang menarik? Sepertinya tidak ada. Hitam, ...

(Bukan) Sabak


(Bukan) Sabak

Pendidikan adalah wahana penting mengasah integritas. Mengapa ironisme muncul?


Apa yang menarik? Sepertinya tidak ada. Hitam, pipih, dan mudah pecah. Tetapi itulah  sejarah, yang ironisnya banyak yang tidak tahu di bagian mana dia dicatat sebagai sejarah. Halaman berapa, pasal berapa. Entahlah…

Sabak atau batu tulis, yang hitam, pipih, dan mudah pecah itu tadi, bisa jadi memang sudah terlupakan, bahkan oleh yang mengaku berkecimpung di dunia pendidikan pula. Jangankan mengingatnya, mendengar namanya pun, bisa jadi baru sekarang. Menyedihkan? mungkin begitu!

Karena bagaimanapun, sabak adalah sejarah penting pendidikan kita. Sabak adalah mata rantai peradaban manusia, termasuk indonesia, yang tanpanya bisa jadi tak ada pendidikan seperti sekarang. Tetapi sudahlah. Tak ada guna mempersoalkan, apakah sebenarnya lupa atau terlupakan. Sebab, era memang tidak hanya berubah, namun juga berkembang dengan pesatnya.


Ketika anak-anak usia sekolah dasar ramai-ramai menyentuh layar iPad, tentu tak terbayangkan oleh bocah-bocah itu, bahwa kakek-nenek mereka dahulu, bisa jadi hanya mengenal sabak sebagai satu-satunya alat tulis. Kakek-nenek mereka, sebagai murid pada masanya, dengan bertelanjang kaki di Sekolah Ongko Loro, mencoba menulis pada permukaan sabak tadi, seperti apa yang bapak atau ibu guru mereka terangkan.

Jika kemudian sang guru memberi nilai, para murid menempelkan nilai tersebut di dahi mereka sehingga membentuk angka terbalik. Para murid senang, lalu menghapus sabak tadi agar ruangnya bisa ditulis dengan materi lain, begitu berulang-ulang. Mereka tak peduli bahwa sesampai di rumah tak ada lagi bukti autentik tentang pelajaran yang mereka peroleh di sekolah. Satu-satunya bukti, ya angka terbalik di dahi mereka itu tadi.

Kalau begitu, mengapa saya tiba-tiba menjeratkan diri pada “romantisme” sabak? mungkin ada yang bertanya begitu. Maaf, saya pun tak tahu bermula dari mana harus menjawab. Yang jelas, ketika mengingat bahwa saat ini pemerintah tengah gencar memberikan bantuan kepada para siswa melalui dana operasional sekolah (BOS),  saat itulah saya mencoba mereka-reka sabak. alasannya satu: karena sabak juga diberikan secara cuma-cuma kepada para siswa tempo doeloe, sebagaimana BOS!

Untuk itu, tentu bukan tentang apa dan bagaimana sabak yang ingin saya ungkap. Yang lebih penting adalah, bagaimana manifestasi dari predikat “cuma-cuma” yang diberikan pemerintah tersebut. Nah, dari sinilah kegundahan tersebut muncul. Bayang-sayang saya kemudian dipenuhi dengan  gambar para kepala sekolah yang mendadak kaya setelah turunnya dana BOS, terutama sebelum sistem pendistribusian baru diberlakukan 2011 ini. Mereka yang semula kebanyakan bersepeda motor butut, tiba-tiba mengendarai mobil mewah dengan gagahnya. Tak peduli, meski jika dihitung-hitung, gaji mereka tak akan cukup untuk itu.

Begitulah penyelewengan terhadap sesuatu yang cuma-cuma itu. Sudah banyak di antara mereka, yang lantaran kasus tersebut akhirnya diseret ke meja hijau. Dan sungguh, bagi saya, inilah ironisme yang sebenarnya! Dunia pendidikan yang seharusnya menjadi wahana bagi para siswa untuk tidak hanya mendapat ilmu namun juga mengasah integritas, mendadak dikotori nafsu sesaat. apa jadinya dunia pendidikan kita jika terus seperti itu? ini adalah persoalan yang jauh lebih serius ketimbang terlupakannya sabak! 


Ada apa dengan BOS? simak ulasannya dalam majalah Integrito, untuk mengunduhnya silakan klik link di bawah ini :