berbagi informasi tentang Public Service. sementara fokus pada Pelayanan publik di Kota Semarang

"Perawatnya itu ngomel terus, ada pasien salah sedikit dimarahi. Di tambah lagi lampunya mati sehingga ruangan menjadi panas", Kat...

Keluhan warga tentang buruknya Layanan Kesehatan

"Perawatnya itu ngomel terus, ada pasien salah sedikit dimarahi. Di tambah lagi lampunya mati sehingga ruangan menjadi panas", Kata mbak Dina ketika saya berkunjung ke rumahnya di Kelurahan Mangunsari, Kecamatan Gunungpati beberapa waktu yang lalu. Mbak Dina adalah kakak kuliah saya sewaktu kuliah dulu. Dia baru saja melahirkan anak keduanya, kali ini tidak lahir secara normal, melainkan harus melalui operai chaesar di salah satu Rumah Sakit Umum terbesar di Jawa Tengah.Untunglah si mbak ini orangnya sabar, jadi meskipun mendapat pelayanan yang buruk di rumah sakit ia tidak ikut marah-marah. Beda dengan seorang bapak yang katanya kenal dengan beberapa wartawan, ia marah-marah dan mengancam akan melaporkannya ke teman-teman wartawannya.

Saya masih belum bisa memastikan kenapa para perawat itu marah-marah. dari hasil bincang-bincang dengan mbak Dina, ada beberapa hal yang (mungkin) tanpa disadari pegawai kesehatan di sana telah diungkap. Salah satunya adalah Overload Pasien, pasien yang dirujuk ke RS itu terlalu banyak dibandingkan dengan tenaga medis yang tersedia. katanya sih sejak diberlakukannya JAMPERSAL pasien yang berasal dari keluarga kurang mampu banyak di rujuk ke sana.

Nah, itu salah satu contoh pelayanan kesehatan yang buruk di kota Semarang terutama untuk kalangan yg kurang mampu. Contoh kedua yang akan saya paparkan di sini adalah keluhan dari masyarakat tentang rumitnya mendapatkan jaminan kesehatan. Terlalu banyak surat-surat yang harus disiapkan, itu kata mereka. Sehingga tidak jarang mereka terpaksa menggunakan jasa calo untuk mengurus surat-suratnya. biaya ratusan ribu-pun terpaksa mereka keluarkan.

Dua bulan lalu saya menjumpai salah seorang wanita yang mencoba untuk mendapatkan Jamkesmas di luar kuota, sesampainya di DKK beliau merasa mendapatkan pelayanan yang buruk. Beliau saat itu mendapatkan kata-kata ketus dari petugas di situ. Kejadian itu begitu membekas di hatinya, menyebabkan ia tak lagi mau menjejakkan kaki ke DKK. sebagai orang yang tak mampu ia merasa diabaikan oleh pemerintah

Dari beberapa uraian di atas saya menarik kesimpulan bahwa merekrut dan menempatkan pegawai kesehatan tidak semata mempertimbangkan keterampilan teknis. Pegawai yang ditempatkan di pos-pos yang bersentuhan langsung dengan masyarakat haruslah memiliki Soft skill yang baik, tahu bagaimana menghadapi warga miskin yang butuh pertolongan. Mereka yang ditempatkan seharusnya adalah orang -orang yang mampu menahan diri dari marah atau sekadar berkata ketus ketika melayani masyarakat. Toh, gaji yang mereka terima tiap bulannya pun sebagian juga berasal dari pajak masyarakat.

admin