berbagi informasi tentang Public Service. sementara fokus pada Pelayanan publik di Kota Semarang

Sekitar dua puluh tahun lalu, saya membaca nasihat ini: waspadai ledakan infomasi. Itulah nasihat futurolog Alvin Toffler yang pada hari-har...

Sampah Informasi





Sekitar dua puluh tahun lalu, saya membaca nasihat ini: waspadai ledakan infomasi. Itulah nasihat futurolog Alvin Toffler yang pada hari-hari ini benar-benar terjadi. Persoalan kita sekarang bukan lagi bagaimana mendapat informasi melainkan bagaimana menyaring informasi. Sehari-hari, waktu kita seperti habis dikepung puluhan televisi publik, Tv kabel, koran, majalah, dan ribuan situs internet.

Ini bukan cuma soal kepung-mengepung. Ini soal bagaimana kemudian media itu berperang melawan diri mereka sendiri dengan publik sebagai objeknya. Kini, televisi tidak hanya berpikir soal penonton, tetapi juga soal pesaing. Karenanya demi persaingan itu, tak ada yang harus ditabukan. Sebuah televisi dengan tenang bisa menyiarkan seorang demonstran menyemprot tembok dan menyebut Presiden dengan sebutan yang terdiri tujuh huruf berawalan B dan berakhiran T.

Kini, infotainment telah sukses mengajak sebagian besar masyarakat Indonesia untuk menganggap betapa penting mengurus persoalan selebriti mulai dari gaun apa yang mereka pakai, rumah seperti apa yang mereka bangun dan pesta apa yang sedang mereka gelar. Dan persaingan selalu menuntut kemajuan. Jika cuma soal rumah apa menariknya. Lebih menarik pasti adalah kehidupan di dalam rumah. Hal itu bisa dimengerti karena di dalam rumah-rumah yang mewah ternyata banyak ditemui hidup yang gelisah. Di dalam rumah yang mewah itu ternyata berisi kamar-kamar yang sepi karena sementara si suami di sana, si istri entah di mana.

Dan kamera bergerak lebih jauh lagi bagaimana seorang istri bisa hamil tanpa suami. Maka ketika tiba saatnya melahirkan, publik diajak menebak teka-teki, siapakah bapak si bayi: si itu, si anu, atau si ini. Lalu beredarlah spekulasi nama-nama serupa dengan bursa pilkada. Hanya mengurus persoalan selebriti saja betapa ia sudah menghabiskan hampir seluruh konsentrasi. Otak manusia Indonesia bisa terancam hanya habis untuk ngerumpi.

Padahal itu baru sebagian kecil dari banjir informasi. Baru saja kita dibuat heran tentang anak-anak yang lahir sambil kebingungan mencari bapak, telah datang lagi berita sebuah jembatan ajaib. Jembatan hasil dari meniru jembatan terkenal di dunia. Sementara yang ditiru masih teguh berdiri si peniru malah sudah ambrol sedemikian rupa. Belum rampung publik mengherani jembatan buru-buru ini malah menyusul jembatan lain lagi yang jauh lebih buru-buru: ia ambrol tepat waktu: yakni tepat ketika sedang dibangun. Tapi betapa pun ini cuma soal jembatan.

Cuma soal semen dan batu. Apalah artinya jika ia dibandingkan dengan berita terbaru ini: tentang bagaimana KPK yang sedianya hendak memenjarakan tersangka, malah ganti terpenjara karena ada yang sedianya hendak diperiksa malah kabur. Begitu pulang lalu sakit. Jadi, ada dua kegiatan saling menyandera yang belum jelas akan berakhir di mana. Sampai kapan publik kuat mengikuti kasus ini? Tak cukup banyak waktu karena esok harus sudah akan muncul berita baru. Dan berita itu, sebetulnya bukan lagi layak disebut informasi jika hasilnya cuma membuat kita lupa mengurus diri sendiri.

Prie GS-Parodi SM